Tentang Retno? Sek, Sek!

Setelah Maya, Wido, Taufik, dan Diyon, kali ini saya akan menuliskan bagaimana ingatan saya tentang arek Suroboyo, Retno Dewi Yulianti. Di rumahnya ia dipanggil Yanti, di lingkungan PM panggilannya Retno, dan oleh kami ia mendapat panggilan khusus, Beno. Hahaha.. Panggilan sayang ini kami sematkan setelah kami melihat gambar penuh cinta muridnya yang dibubuhi tulisan “Beno”, maksudnya sih Ibu Retno. Jadilah, setelah itu sering kali kami pun menyebutnya Beno. Continue reading “Tentang Retno? Sek, Sek!”

Advertisements

Perhatian Diyon yang Diyon

“Oke, di sesi perkenalan ini, teman-teman harus menyebutkan nama beserta ciri khasnya”, kata Fasilitator memberikan instruksi kepada kami CPM IX.

“Perkenalkan saya Diyon Iskandar Setiawan. Ciri khas saya.. Hmm.. Ini! Saya memakai sabuk H! Hahaha”

What? Ciri khas macam apa itu?, benak saya.

“Dith, ada gak cewek di barak yang prospektif?”, tanya Diyon tiba-tiba di suatu malam di awal minggu kedua Camp, saat lampu sudah dipadamkan dan kami tengah mengerjakan tugas dengan hanya berlampukan head lamp. Continue reading “Perhatian Diyon yang Diyon”

Antara Klasik, Baper, dan Kue Mickey Mouse

“Dua tahun terakhir ini saya bersama teman-teman tengah menekuni usaha konsultan di bidang pemetaan”, sekitar tiga tahun yang lalu Wido mengatakan demikian saat self presentation Direct Assessment (DA) calon Pengajar Muda angkatan IX. Dalam hati, ‘Iya, dia udah tua gitu, udah punya usaha sendiri, ngapain ikut PM, ya?’ haha.. Rupanya saya keliru, dia setahun lebih muda dibanding saya, chasing-nya aja memang jauh lebih klasik.

Qadarullaah saya dengan Wido lolos menjadi Pengajar Muda IX. Kami pun ada dalam satu grup WhatsApp. Di WhatsApp, dia aktif sekali, selalu update, sampai sepertinya penghuni grup WhatsApp yang sebagian besar belum pernah ketemu ini (kecuali yang sama hari DA-nya) tahu ada yang namanya Wido, sampai kesan kedua yang timbul di pikiran saya adalah “Nih anak kebutuhan perhatiannya tinggi ya”, hehe. Continue reading “Antara Klasik, Baper, dan Kue Mickey Mouse”

TemuTeman #2: Seni Mengalah

Sebenarnya sahabat yang saya temui pertama kali sejak liburan panjang ini ya Sofaa (tanpa huruf H dan dengan double A). Teman sebangku sejak kelas XI, sekelas tiga tahun, teman pulang bareng karena satu jalur angkot, dan sudah saya dengar namanya sejak SMP, jauh sebelum saya ketemu betulan dengannya. Yap, ternyata Sofaa itu teman SD-nya teman SMP saya, kebetulan dia suka cerita tentang Sofaa.

Anak ini sekarang sudah menikah dan memiliki anak laki-laki usia setahun lebih. Sofaa dulu masuk dalam jajaran “The Most Wanted Girl” di sekolah. Kayaknya hampir ada perwakilan kelas yang suka sama dia, bahkan sampai nembak. Orang bilang doi mirip Laudya Chyntia Bella. Yang sekelas aja ada Tedjo, Eki, Amang, dan Gilang, yang suka, belum kelas lain, haha.

Continue reading “TemuTeman #2: Seni Mengalah”

Menyemangati (tanpa) Kata Semangat

“Semangat, Dithaaa”
“Semoga Allaah memudahkan usahamu yaaa..”

Diantara dua kalimat itu lebih mau dikasih yang mana?

Haha.. Ini pengalaman saya pribadi sih, ketika mendapat dua kalimat itu rasanya saya lebih senang dan lebih nyentuh di hati ketika mendapat kalimat kedua. Menurut saya mungkin karena lebih kongkret. Atau mungkin kata “semangat” bagi saya pun terdengar basa-basi? Continue reading “Menyemangati (tanpa) Kata Semangat”

Komitmen Itu Menyeramkan

Pertemuan saya 3 hari ini bersama partners in crime dari kuliah setelah entah berapa tahun gak ketemu kembali membawa oleh-oleh. Oleh-olehnya bukan oleh-oleh biasa. Ah, selalu, ngobrol-ngobrol cantik bareng mereka selalu meninggalkan jejak manis dalam ingatan. Apalagi mereka sekarang udah lebih matang, hihii..

Inah yang sekarang udah resmi menyandang gelar psikolog, semakin bijak saja dalam memandang suatu hal. Gisep dengan berbagai pengalamannya, tak kalah wise nya dalam menjalani hidup, oiya, dia juga sudah berhijab sekarang, makin nice saja. Dan Nisa, seorang guru preschool semakin stay cool dan keibuan. Saya? Semoga ada secercah perubahan positif pula pada diri ini.

Continue reading “Komitmen Itu Menyeramkan”