Dalam Mobil Travel Surabaya-Kediri (2)

Perjalanan kami masih jauh sampai ke tujuan masing-masing. Cerita si Mbak Cantik terus berlanjut. Mengisahkan banyakny perbedaan yang mereka miliki. Negara, suku, latar belakang, adat kebiasaan, dan (mungkin bagi sebagian besar orang inilah perbedaan paling jauh) agama. Restu keluarganya ditambah banyaknya perbedaan, sempat membuatnya ingin memilih mundur. Lagi, suaminya kembali bertanya, “Apakah semua perbedaan itu membuatku memperlakukanmu secara buruk?”. Jawabannya jelas tidak. Dua tahun mereka saling mengenal dan tak pernah sekali pun ia diperlakukan buruk oleh pria Australia itu. Continue reading “Dalam Mobil Travel Surabaya-Kediri (2)”

Dalam Mobil Travel Surabaya-Kediri (1)

Mobil mini bus yang saya tumpangi itu menepi di salah satu rumah dalam kompleks perumahan di Surabaya. Terlihat di luar mobil seorang “mahmud abas” (mamah muda anak baru satu, red.) keluar pagar dan berjalan menuju mobil bersama seorang bocah laki-laki dan segambreng bawaannya. Iya, merekalah penumpang berikutnya setelah saya.

Dibukanya pintu mobil, kusambut kedua teman perjalanan dengan senyuman termanis yang bisa kukerahkan. Beruntung, mereka membalasnya jauh lebih manis. Seorang wanita muda nan cantik khas wanita Jawa serta seorang balita ganteng yang tak berwajah Jawa, melainkan impor”. Continue reading “Dalam Mobil Travel Surabaya-Kediri (1)”

Setahun Yang Lalu: Setengah Sumatra

‚ÄčTahun lalu kita berdua dongkol di bis, lalu diajak keliling Bukittinggi dini hari (udah kek mau sahur on the road 😆) sama abang ojek dan dibonceng 3 dgn 2 buah carier 55 L.

Sesaat sebelum bis datang

Entah berapa banyak penginapan yang kita datangi, tak satu pun tersedia kamar yang bisa menampung kita. Beruntung, ada warung sanjay dengan air berwarna kopi susunya 🙈. Alhamdulillaah berkah shalat shubuh, ada juga yg mau mungut kita, dikasih selimut yg hangat dan tentunya makan yang enak 😝

Continue reading “Setahun Yang Lalu: Setengah Sumatra”

Perjalanan

Sejak kecil saya sangat senang dengan perjalanan menggunakan transportasi umum mulai dari angkot sampai bis kelas best in class yang seat-nya udah kayak kursi pijat refleksi, pesawat, kereta, sampai ojek. Dan siapa sangka, kenikmatan naik transportasi umum itu menginspirasi adik sepupu saya yang masih kelas 4 SD, ya, dia pengen banget naik bis Budim*n! Hahaha..

Dulu, saya bahkan ingin masuk SMP di pusat kota karena saya ingin melakukan perjalanan naik angkot ke sekolah dan baru terwujud di SMA. Ya, bagi saya perjalanan ke sekolah naik angkot mengasyikan, apalagi duduk di bangku yang bisa melihat ke segala arah (bangku kenek yang ada di belakang kursi sopir), saya bisa melihat penumpang lain dengan beragam ekspresinya. Dan naik angkot ke sekolah membuat saya ingin naik level, naik bis saat kuliah, hahaha.. Bandung, jadi pilihan.

Tasik-Bandung memang hanya memakan waktu 3 jam perjalanan, tapi untuk ke-18 cucu dari nenek-kakek dari pihak mama dan ke-14 cucu dari pihak ayah, hanya saya yang sekolah sejauh itu. Iya, kalau menurut orang, orang Sunda itu betah di imah (betah di rumah) alias jarang banget ngerantau.

Continue reading “Perjalanan”