Me vs Nyuci

Setiap kali melihat tumpukan baju kotor, mata selalu refleks menutup, menelan ludah, dan kening berkerut. Ya Allaah.. kenapa harus ada baju kotor sih? 🙈

images

Saya heran sekaligus takjub pada salah satu sahabat saya di penempatan. Tiap hari dia pasti nyuci. Nginap semalam saja selalu ada jemurannya di tempat yang kami inapi. Bahkan saking identiknya ia dengan nyuci, kami hadiahi ia dengan dua bungkus deterjen bubuk (dia lebih suka bubuk dibanding cair) di ulang tahunnya. I pay respect for her. Continue reading “Me vs Nyuci”

Advertisements

Tentang Yang Ngeselin di Angka 26

Pagi itu, saya menjadi CPM pertama yang tiba di Jalan Galuh II No. 4. Pukul 06.15 saya sudah nongkrong asyik di meja kayu halaman depan kantor Indonesia Mengajar. Padahal, jadwalnya pukul 07.30. Begitulah, gara-gara khawatir akan terlambat, maka yang ada terlalu pagi.

Beruntung, 15 menit kemudian datanglah seorang gadis berkupluk, berselempang tas dari jins bekas, serta hanya membawa satu tas carier ukuran 60 liter. Iya, cuma satu doang! Sementara saya membawa 3, 1 carier ukuran 55 liter, tas jinjing besar, dan daypack ukuran 15-20 liter. Belum lagi ada tas selempang kecil. Ya Salaam.. dalam hati saya berkata, “Emang cukup ya barang cuma segitu?” Continue reading “Tentang Yang Ngeselin di Angka 26”

Tentang Retno? Sek, Sek!

Setelah Maya, Wido, Taufik, dan Diyon, kali ini saya akan menuliskan bagaimana ingatan saya tentang arek Suroboyo, Retno Dewi Yulianti. Di rumahnya ia dipanggil Yanti, di lingkungan PM panggilannya Retno, dan oleh kami ia mendapat panggilan khusus, Beno. Hahaha.. Panggilan sayang ini kami sematkan setelah kami melihat gambar penuh cinta muridnya yang dibubuhi tulisan “Beno”, maksudnya sih Ibu Retno. Jadilah, setelah itu sering kali kami pun menyebutnya Beno. Continue reading “Tentang Retno? Sek, Sek!”

Perhatian Diyon yang Diyon

“Oke, di sesi perkenalan ini, teman-teman harus menyebutkan nama beserta ciri khasnya”, kata Fasilitator memberikan instruksi kepada kami CPM IX.

“Perkenalkan saya Diyon Iskandar Setiawan. Ciri khas saya.. Hmm.. Ini! Saya memakai sabuk H! Hahaha”

What? Ciri khas macam apa itu?, benak saya.

“Dith, ada gak cewek di barak yang prospektif?”, tanya Diyon tiba-tiba di suatu malam di awal minggu kedua Camp, saat lampu sudah dipadamkan dan kami tengah mengerjakan tugas dengan hanya berlampukan head lamp. Continue reading “Perhatian Diyon yang Diyon”

Di Balik Kesangsian HI, Ada Pesona & Diplomasi

Setelah sebelumnya saya bercerita mengenai Maya, sekarang saya ingin menuliskan pengenalan saya dengan partner in crime-nya Maya selama setahun. Taufik Akbar. Macan IX yang memiliki nama paling hemat huruf. Jadi, kalau kita lomba adu cepat menuliskan nama sendiri, maka dapat dipastikan dialah pemenangnya –btw, lomba macam apa itu?, haha-.

Ketika saya mengenalnya dua tahun lalu, jujur, saya meragukan ijazah sarjana Hubungan Internasional (HI)-nya, yang saya tahu ketika bekerja di Binus, anak-anak HI dituntut untuk menguasai minimal Bahasa Inggris. Jadi? Begitulah. Haha.. tapi sekarang, update terbaru yang saya dapatkan adalah ia berhasil memperoleh skor IELTS 5.5. It’s more than enough for someone who doesn’t know how make a sentence that consist of subject and verb well before. Yes, he has been learning English for a year to getting that score! 👏 *standing aplause*
Continue reading “Di Balik Kesangsian HI, Ada Pesona & Diplomasi”

Maya: Ratu Sambel yang Antisipatif

“Hai, Dith, kamu jurusan apa sih?”

“Aku? Psikologi, May.”

“Wah, berarti aku bisa curhat dong sama kamu? Kamu bisa tahu dong aku gimana?”

Jika saya harus digambarkan dengan gambar komik, maka saat itu seolah ada garis vertikal di sisi atas kepala saya. -_-“ Respons yang sama ketika orang mendengar jurusan saya. Itulah obrolan pertama saya dan Maya sebagai teman sebelah kasur. Malam pertama saya tidur di sebelahnya, saya langsung tahu bahwa ia senang sekali ngobrol. Continue reading “Maya: Ratu Sambel yang Antisipatif”

Antara Klasik, Baper, dan Kue Mickey Mouse

“Dua tahun terakhir ini saya bersama teman-teman tengah menekuni usaha konsultan di bidang pemetaan”, sekitar tiga tahun yang lalu Wido mengatakan demikian saat self presentation Direct Assessment (DA) calon Pengajar Muda angkatan IX. Dalam hati, ‘Iya, dia udah tua gitu, udah punya usaha sendiri, ngapain ikut PM, ya?’ haha.. Rupanya saya keliru, dia setahun lebih muda dibanding saya, chasing-nya aja memang jauh lebih klasik.

Qadarullaah saya dengan Wido lolos menjadi Pengajar Muda IX. Kami pun ada dalam satu grup WhatsApp. Di WhatsApp, dia aktif sekali, selalu update, sampai sepertinya penghuni grup WhatsApp yang sebagian besar belum pernah ketemu ini (kecuali yang sama hari DA-nya) tahu ada yang namanya Wido, sampai kesan kedua yang timbul di pikiran saya adalah “Nih anak kebutuhan perhatiannya tinggi ya”, hehe. Continue reading “Antara Klasik, Baper, dan Kue Mickey Mouse”

Dua Cup Es Krim dan PHP

Lebih dari dua bulan saya tidak menulis di blog ini. Rasanya ada utang besar yang saya tunggak. Hastag #1week1writing gagal saya terapkan. Sebulan persiapan dan sebulan lebih pelaksanaan training intensif Calon Pengajar Cerdas (CPC) Angkatan II cukup menyita waktu. Ah, sepertinya saya sedang mencari pembenaran, hehe..

***

“Kak, bisa masak?”, tetiba pertanyaan itu terlontar dari seseorang yang ada di depan saya. Berdiri tepat di seberang saya yang sedang mencuci piring kotor habis makan sendiri. Kebiasaan mencuci piring sendiri saya terapkan dalam pelatihan ini.

“Emangnya kenapa? Apa urusannya?”, jawabku pura-pura sok misterius.

Continue reading “Dua Cup Es Krim dan PHP”

Setahun Yang Lalu: Setengah Sumatra

​Tahun lalu kita berdua dongkol di bis, lalu diajak keliling Bukittinggi dini hari (udah kek mau sahur on the road 😆) sama abang ojek dan dibonceng 3 dgn 2 buah carier 55 L.

Sesaat sebelum bis datang

Entah berapa banyak penginapan yang kita datangi, tak satu pun tersedia kamar yang bisa menampung kita. Beruntung, ada warung sanjay dengan air berwarna kopi susunya 🙈. Alhamdulillaah berkah shalat shubuh, ada juga yg mau mungut kita, dikasih selimut yg hangat dan tentunya makan yang enak 😝

Continue reading “Setahun Yang Lalu: Setengah Sumatra”

Buat Siapa?

Pagi itu kelas 1 dan 2 tidak ada yang mengajar. Saat itu, Bu Yuli, wali kelas kedua kelas itu berhalangan hadir. Jadilah hari itu saya meng-handle kedua kelas itu. Fakta mengagetkan, ah sebenarnya harusnya saya sudah tak kaget lagi, kelas 2 masih banyak sekali yang belum bisa membaca. Menulis? Masih acak adul.

Seorang anak yang paling menarik perhatian saya itu Benny namanya. Saya pernah mendengar memang kalau anak ini sering meminta perhatian lebih. Bu Yuli pun sering menegurnya. Banyak aduan dari teman-temannya karena digodain Benny. Ia sering menolak belajar juga, katanya.

Continue reading “Buat Siapa?”