Di Suatu Siang di Pine Hill Cibodas

Dalam kereta kembali ke Jakarta, saya mau cerita mengenai obrolan insightful saat di Bandung tadi siang. Obrolan saat saya berada di nikahan Mbak Ifa Misbach, bersama para senior, Mbak Najelaa Shihab, Kak Yulia (Ketua Keluarga Kita), para BOD-nya Cikal, dan Mas Iwan Syahril dan Fiona di sesi berikutnya.

Obrolan itu berawal saat saya sedang menikmati suasana pesta kebun yang ciamik di Pine Hill Cibodas. Lalu, Kak Yulia tiba-tiba bertanya, “Jadi kamu mau konsep pernikahan seperti ini, Dith?”. Saya hanya tertawa dan menimpali, “Aku mau fokus memantapkan calonnya saja dulu Kak, gak bisa bayangin kayak gimana kalau calonnya saja belum mantap”. Continue reading “Di Suatu Siang di Pine Hill Cibodas”

Advertisements

#3 Waktu

6 menit lagi aku berangkat ya.

Kira-kira 11.47 aku mulai jalan kesana deh

Rigid banget urusan waktu, pikirku. Apa dia Autism? Sempat juga terlintas demikian. Biasanya, orang akan bilang “5 menit lagi”, “10 menit lagi”. Pembulatan. Ah, apa sebenarnya malas menghitung atau cenderung korupsi waktu, ya? Toh pada kenyataannya memang tidak sebulat itu waktunya.

Suatu hari pernah aku iseng bertanya. “Kamu kalau mandi diwaktuin juga?”, tanyaku.

“Iyalah.”

“Wow! Berapa lama?”

“10 menit”

“Hmm.. Kamu pernah telat?”

“Lupa aku kapan terakhir telat. Tapi pernah”

“Wow!”

Baru kali ini aku menemukan orang se-rigid ini urusan waktu. Sering kutemukan orang-orang yang disiplin, tapi kalau sampai detik menitnya sedetail itu? Hmm. Continue reading “#3 Waktu”

Cinta tapi Beda (Suku)

“Apa yang akan kamu lakukan jika orang tua pacarmu tidakmenyetujui hubunganmu karena kamu beda suku sama dia?”

Chat pertama yang masuk dari seorang teman lama yang kemudian diikuti oleh emoticon menangis yang banyaaaaakkkk banget. >> 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

Ia, teman saya itu, baru saja putus dengan pacarnya setelah lebih dari 2 tahun pacaran. Saya selalu ingat sekali bagaimana teman saya ini selalu bahagia dan bersemangat ketika menceritakan pacarnya ini. Iya, sosok pacarnya ini adalah sosok ideal baginya. Cerdas, penyayang, sopan, pengertian, good looking, sudah punya pekerjaan yang bisa diandalkan, ah pokoknya gak ada alasan buat teman saya meninggalkan pacarnya. Seperti oase di padang pasir. Dia yang sebelum-sebelumnya selalu disakiti, bahkan sampai diselingkuhi, kemudian bertemu dan menjalin hubungan dengan yang selama ini diidam-idamkan. Lalu kemudian harus berakhir karena tak ada restu dari pihak keluarga si pacar. 

Continue reading “Cinta tapi Beda (Suku)”