Hampir Mati

Ada yang mau mati?

Jawabannya pasti ada. Buktinya banyak yang mencoba bunuh diri.

Aduh, maafkan pertanyaan frontal tanpa sensor dan menyeramkan ini 😦

Setelah kejadian hampir mati, tak sadarkan diri, bahkan untuk buka mata saja sulit, saya tersadarkan bagaimana orang menginginkan mati (dengan cara bunuh diri)? Padahal hampir mati saja sudah sangat menyakitkan.

Ah, sungguh, hampir mati ini mungkin saat ini jadi kesempatan terindah untuk saya. Ampuni, tak ada maksud mengingkari kesempatan indah lainnya. Sungguh. Semoga saya bisa menghidupi kesempatan hidup dari Yang Maha Hidup. Saya tahu menghidupkan dan mematikan adalah hak-Nya, begitupun dengan hidup dan mati adalah hakku.

Salam,
DC

#1week1writing

Bapak, Rantau, dan Pulang

Siang itu, aku bersama keenam rekan Pengajar Muda dan 3 TBBC Officer ditemani seorang guru SDN 02 Agung Jaya, Pak Lisna, menyusuri jalanan kampung, masuk ke jalan setapak diantara kebun-kebun karet milik warga, kemudian masuk ke perkebunan sawit yang biasanya milik sebuah perusahaan, dan akhirnya berhenti di sebuah pemakaman Kampung Agung Jaya,Way Kenanga.
Kami hendak takziah kelima siswi SDN 02 Agung Jaya yang meninggal Jumat siang karena tenggelam di bendungan. Karena kami tidak tahu dimana rumah kelima anak tersebut, akhirnya kami mengunjungi rumah guru yang kami kenal, Pak Lisna. Terlihat raut kesedihan dari Pak Lisna. Jelas, ia kehilangan lima sekaligus muridnya secara mendadak. Ia bercerita bagaimana kelima alhamarhumah itu semasa hidupnya dan bagaimana kronologis tragedi maut itu terjadi. Sampai akhirnya kami pun diantar Pak Lisna ziarah ke makam kelima siswinya.

Continue reading “Bapak, Rantau, dan Pulang”