Dalam Mobil Travel Surabaya-Kediri (2)

Perjalanan kami masih jauh sampai ke tujuan masing-masing. Cerita si Mbak Cantik terus berlanjut. Mengisahkan banyakny perbedaan yang mereka miliki. Negara, suku, latar belakang, adat kebiasaan, dan (mungkin bagi sebagian besar orang inilah perbedaan paling jauh) agama. Restu keluarganya ditambah banyaknya perbedaan, sempat membuatnya ingin memilih mundur. Lagi, suaminya kembali bertanya, “Apakah semua perbedaan itu membuatku memperlakukanmu secara buruk?”. Jawabannya jelas tidak. Dua tahun mereka saling mengenal dan tak pernah sekali pun ia diperlakukan buruk oleh pria Australia itu. Continue reading “Dalam Mobil Travel Surabaya-Kediri (2)”

Hampir Mati

Ada yang mau mati?

Jawabannya pasti ada. Buktinya banyak yang mencoba bunuh diri.

Aduh, maafkan pertanyaan frontal tanpa sensor dan menyeramkan ini 😦

Setelah kejadian hampir mati, tak sadarkan diri, bahkan untuk buka mata saja sulit, saya tersadarkan bagaimana orang menginginkan mati (dengan cara bunuh diri)? Padahal hampir mati saja sudah sangat menyakitkan.

Ah, sungguh, hampir mati ini mungkin saat ini jadi kesempatan terindah untuk saya. Ampuni, tak ada maksud mengingkari kesempatan indah lainnya. Sungguh. Semoga saya bisa menghidupi kesempatan hidup dari Yang Maha Hidup. Saya tahu menghidupkan dan mematikan adalah hak-Nya, begitupun dengan hidup dan mati adalah hakku.

Salam,
DC

#1week1writing

Pheromone dan Respons

“Ih, kok Ifa wangi banget ampe kecium gitu? Emang cara pake sabunnya gimana?”

Begitulah kira-kira pertanyaan adik sepupu saya yang masih kelas 4 SD ke kakaknya saat selesai mandi. Mereka mandi bersamaan di kamar mandi berbeda. Mereka memakai sabun mandi dengan merek dan varian yang sama. Lama waktu mereka mandi pun hampir bersamaan, tapi kakaknya jauh lebih tercium wangi sabunnya. How can?

Continue reading “Pheromone dan Respons”

Perjalanan

Sejak kecil saya sangat senang dengan perjalanan menggunakan transportasi umum mulai dari angkot sampai bis kelas best in class yang seat-nya udah kayak kursi pijat refleksi, pesawat, kereta, sampai ojek. Dan siapa sangka, kenikmatan naik transportasi umum itu menginspirasi adik sepupu saya yang masih kelas 4 SD, ya, dia pengen banget naik bis Budim*n! Hahaha..

Dulu, saya bahkan ingin masuk SMP di pusat kota karena saya ingin melakukan perjalanan naik angkot ke sekolah dan baru terwujud di SMA. Ya, bagi saya perjalanan ke sekolah naik angkot mengasyikan, apalagi duduk di bangku yang bisa melihat ke segala arah (bangku kenek yang ada di belakang kursi sopir), saya bisa melihat penumpang lain dengan beragam ekspresinya. Dan naik angkot ke sekolah membuat saya ingin naik level, naik bis saat kuliah, hahaha.. Bandung, jadi pilihan.

Tasik-Bandung memang hanya memakan waktu 3 jam perjalanan, tapi untuk ke-18 cucu dari nenek-kakek dari pihak mama dan ke-14 cucu dari pihak ayah, hanya saya yang sekolah sejauh itu. Iya, kalau menurut orang, orang Sunda itu betah di imah (betah di rumah) alias jarang banget ngerantau.

Continue reading “Perjalanan”

Bapak, Rantau, dan Pulang

Siang itu, aku bersama keenam rekan Pengajar Muda dan 3 TBBC Officer ditemani seorang guru SDN 02 Agung Jaya, Pak Lisna, menyusuri jalanan kampung, masuk ke jalan setapak diantara kebun-kebun karet milik warga, kemudian masuk ke perkebunan sawit yang biasanya milik sebuah perusahaan, dan akhirnya berhenti di sebuah pemakaman Kampung Agung Jaya,Way Kenanga.
Kami hendak takziah kelima siswi SDN 02 Agung Jaya yang meninggal Jumat siang karena tenggelam di bendungan. Karena kami tidak tahu dimana rumah kelima anak tersebut, akhirnya kami mengunjungi rumah guru yang kami kenal, Pak Lisna. Terlihat raut kesedihan dari Pak Lisna. Jelas, ia kehilangan lima sekaligus muridnya secara mendadak. Ia bercerita bagaimana kelima alhamarhumah itu semasa hidupnya dan bagaimana kronologis tragedi maut itu terjadi. Sampai akhirnya kami pun diantar Pak Lisna ziarah ke makam kelima siswinya.

Continue reading “Bapak, Rantau, dan Pulang”