#1 Maaf, Aku Sunda

Maaf ya. Gua beneran gak tahu lo orang Sunda. Sorry. Ga ada maksud meremehin. Gua terlalu cepat menilai dan menggeneralisir.

Maaf. Gampang memang diucapkan. Batinku sesaat setelah membaca pesan singkat yang masuk ke hand phone. Pesan dari seseorang yang dengan entengnya menilai dan menyimpulkan. 

Continue reading “#1 Maaf, Aku Sunda”

Advertisements

“Apa aku layak?”

Sebelumnya

Warung kopi atau mungkin acara ngopi itu sendiri, selalu menyajikan drama. Seperti saat Rangga dan Cinta di Jogjakarta. Pun terjadi dengan seorang wanita muda dan seseorang yang disebut “Rasy”.

Beberapa saat “Rasy” masih anteng dengan diamnya. Wanita itu tahu, ia telah memberikannya ‘serangan’ dadakan. Memukul telak. Tak memberikan kesempatan memasang kuda-kuda.

Continue reading ““Apa aku layak?””

“Kalau aku mau?”

“Aku ada di Bandung, loh!” Seru seorang wanita muda memberitahu keberadaannya pada seseorang melalui ponsel.

“Hah? Bandung? Kok gak bilang-bilang?”, respons seseorang di ujung telepon sana.

“Ini aku bilang kamu”, jawab wanita itu lagi.

“Yuk, ngopi yuk.. Mau gak?”, tawar seseorang itu.

“Oke, dimana?”, jawabnya lagi. Kali ini senyumnya semakin lebar dari sebelumnya.

“Kirimkan saja lokasimu, nanti aku jemput jam 4 sore”. Continue reading ““Kalau aku mau?””