Tentang Yang Ngeselin di Angka 26

Pagi itu, saya menjadi CPM pertama yang tiba di Jalan Galuh II No. 4. Pukul 06.15 saya sudah nongkrong asyik di meja kayu halaman depan kantor Indonesia Mengajar. Padahal, jadwalnya pukul 07.30. Begitulah, gara-gara khawatir akan terlambat, maka yang ada terlalu pagi.

Beruntung, 15 menit kemudian datanglah seorang gadis berkupluk, berselempang tas dari jins bekas, serta hanya membawa satu tas carier ukuran 60 liter. Iya, cuma satu doang! Sementara saya membawa 3, 1 carier ukuran 55 liter, tas jinjing besar, dan daypack ukuran 15-20 liter. Belum lagi ada tas selempang kecil. Ya Salaam.. dalam hati saya berkata, “Emang cukup ya barang cuma segitu?” Continue reading “Tentang Yang Ngeselin di Angka 26”

Advertisements

Tentang Retno? Sek, Sek!

Setelah Maya, Wido, Taufik, dan Diyon, kali ini saya akan menuliskan bagaimana ingatan saya tentang arek Suroboyo, Retno Dewi Yulianti. Di rumahnya ia dipanggil Yanti, di lingkungan PM panggilannya Retno, dan oleh kami ia mendapat panggilan khusus, Beno. Hahaha.. Panggilan sayang ini kami sematkan setelah kami melihat gambar penuh cinta muridnya yang dibubuhi tulisan “Beno”, maksudnya sih Ibu Retno. Jadilah, setelah itu sering kali kami pun menyebutnya Beno. Continue reading “Tentang Retno? Sek, Sek!”

Maya: Ratu Sambel yang Antisipatif

“Hai, Dith, kamu jurusan apa sih?”

“Aku? Psikologi, May.”

“Wah, berarti aku bisa curhat dong sama kamu? Kamu bisa tahu dong aku gimana?”

Jika saya harus digambarkan dengan gambar komik, maka saat itu seolah ada garis vertikal di sisi atas kepala saya. -_-“ Respons yang sama ketika orang mendengar jurusan saya. Itulah obrolan pertama saya dan Maya sebagai teman sebelah kasur. Malam pertama saya tidur di sebelahnya, saya langsung tahu bahwa ia senang sekali ngobrol. Continue reading “Maya: Ratu Sambel yang Antisipatif”

Antara Klasik, Baper, dan Kue Mickey Mouse

“Dua tahun terakhir ini saya bersama teman-teman tengah menekuni usaha konsultan di bidang pemetaan”, sekitar tiga tahun yang lalu Wido mengatakan demikian saat self presentation Direct Assessment (DA) calon Pengajar Muda angkatan IX. Dalam hati, ‘Iya, dia udah tua gitu, udah punya usaha sendiri, ngapain ikut PM, ya?’ haha.. Rupanya saya keliru, dia setahun lebih muda dibanding saya, chasing-nya aja memang jauh lebih klasik.

Qadarullaah saya dengan Wido lolos menjadi Pengajar Muda IX. Kami pun ada dalam satu grup WhatsApp. Di WhatsApp, dia aktif sekali, selalu update, sampai sepertinya penghuni grup WhatsApp yang sebagian besar belum pernah ketemu ini (kecuali yang sama hari DA-nya) tahu ada yang namanya Wido, sampai kesan kedua yang timbul di pikiran saya adalah “Nih anak kebutuhan perhatiannya tinggi ya”, hehe. Continue reading “Antara Klasik, Baper, dan Kue Mickey Mouse”

Buat Siapa?

Pagi itu kelas 1 dan 2 tidak ada yang mengajar. Saat itu, Bu Yuli, wali kelas kedua kelas itu berhalangan hadir. Jadilah hari itu saya meng-handle kedua kelas itu. Fakta mengagetkan, ah sebenarnya harusnya saya sudah tak kaget lagi, kelas 2 masih banyak sekali yang belum bisa membaca. Menulis? Masih acak adul.

Seorang anak yang paling menarik perhatian saya itu Benny namanya. Saya pernah mendengar memang kalau anak ini sering meminta perhatian lebih. Bu Yuli pun sering menegurnya. Banyak aduan dari teman-temannya karena digodain Benny. Ia sering menolak belajar juga, katanya.

Continue reading “Buat Siapa?”

Mia dan Nova, Persahabatan Beda ‘Bahasa’

Seperti jika mereka menuju rumahku dengan berboncengan sepeda. Gowesan sepeda itu selalu diiringi gelak tawa. Hanya mereka yang paham apa yang mereka tertawakan.

Sering masing-masing dari mereka mengadu kepadaku. Mia mengadu tentang Nova yang menurutnya nakal, begitu pun sebaliknya. Tapi ketika saya mau mendamaikan, mereka sudah saling berbagi tawa lagi.

“Bu Itaaaaaa..”, setiap pagi selalu ada teriakan itu dari mulut bocah lugu bernama Mia. Mia Meliawati namanya, namun dirinya sendiri  menyebut namanya Mia Mati. Entahlah, aku belum tahu apa sebutan ketidakmampuan mengucapkan artikulasi dengan jelas itu. Mia Meliawati menjadi Mia Mati. Bu Ditha menjadi Bu Ita, kadang Bu Nita. Pak Angga menjadi Naga. Pancasila menjadi Macang Silat. Dan banyak lagi kata yang tidak diucapkan dengan jelas. Berhitung? Dia bisa berhitung 1-10 saja rasanya saya bahagia. Ah, terserahlah. Bagi saya, anak ini spesial untukku. Dia bersama sahabat karibnya, Nova, sering kali mengganggu tidur siang saya sekaligus paling sering membuat saya tertawa.

Continue reading “Mia dan Nova, Persahabatan Beda ‘Bahasa’”

Menjaganya :)

Jeng, jeeeng.. “Fotonya kok gitu amat?”, komentarku pada salah seorang teman laki-laki ketika melihat fotonya bersama siswinya di kelas.
Dia hanya tertawa dan membalasnya dengan komentar, “Cantik, ya?”
“Iya, cantik, tapi gak perlu gayanya seperti itu, kan?”, balasku lagi.
Lagi, dia tertawa, “Kata pacarku, kayaknya dia suka sama aku, hahaa.. masa iya?”
Aku hanya menimpalinya dengan tatapan mengintimidasi, haha..

Di hari yang lain, seorang teman lain bercerita tentang siswinya kelas VI. Betapa malangnya anak itu. Ia sudah tak berayah dan ibu. Neneknya pun sudah tua dan dialah yang merawat. Suatu hari ia ulang tahun dan temanku ini memberikan surprise dan memberikan kado untuk anak itu.

Continue reading “Menjaganya :)”

Batuk dan Rindu

Memasuki bulan ketiga aku dititipi batuk yang tiada henti. Sakitnya tuh disini (sambil nunjuk dada). Yes, batuk yang hampir nyaris 2 bulan ini aku ‘piara’. Bukan tidak mau aku ‘menyapihnya’, segala usaha sudah kulakukan. Mulai dari berobat dengan cara sendiri membeli obat batuk warung di Indomaret dan Alfamart, meminum obat tradisional racikan Ibu hostfam, berobat ke bidan, dokter umum, puskesmas, sampai akhirnya ke dokter spesialis paru dan dilakukan foto rontgen, si batuk itu akhirnya hilang dengan diagnosis all is well, karena udara kotor.

Continue reading “Batuk dan Rindu”

Bapak, Rantau, dan Pulang

Siang itu, aku bersama keenam rekan Pengajar Muda dan 3 TBBC Officer ditemani seorang guru SDN 02 Agung Jaya, Pak Lisna, menyusuri jalanan kampung, masuk ke jalan setapak diantara kebun-kebun karet milik warga, kemudian masuk ke perkebunan sawit yang biasanya milik sebuah perusahaan, dan akhirnya berhenti di sebuah pemakaman Kampung Agung Jaya,Way Kenanga.
Kami hendak takziah kelima siswi SDN 02 Agung Jaya yang meninggal Jumat siang karena tenggelam di bendungan. Karena kami tidak tahu dimana rumah kelima anak tersebut, akhirnya kami mengunjungi rumah guru yang kami kenal, Pak Lisna. Terlihat raut kesedihan dari Pak Lisna. Jelas, ia kehilangan lima sekaligus muridnya secara mendadak. Ia bercerita bagaimana kelima alhamarhumah itu semasa hidupnya dan bagaimana kronologis tragedi maut itu terjadi. Sampai akhirnya kami pun diantar Pak Lisna ziarah ke makam kelima siswinya.

Continue reading “Bapak, Rantau, dan Pulang”

Ngambek ala-ala Sinetron

Di bulan kedua ini akhirnya tingkat toleransiku terhadap ‘kekacauan’ anak-anak kikis juga. Pasukan Bintang, kelas 3 yang banyak aku ajar tingkahnya sangat membuatku pusing. Sebenarnya ini adalah makanan sehari-hariku. Mereka memang terbiasa aktif. Berlari kesana kemari dan mengoceh tak henti.

Pasukan Bintang adalah 14 anak kelas 3 tempat saya mengajar, SDN 02 Margomulyo, Kab. Tulang Bawang Barat. Mereka sangat senang dan antusias ketika saya memberikan nilai dengan tanda bintang. Aneh, mungkin ya, hehe..

Continue reading “Ngambek ala-ala Sinetron”