#8 Orang Bermanfaat

Aku tahu, ketika jempolku tengah menekan-nekan tuts henpon, ia melirik lewat sudut matanya. Itulah, seseorang yang jika memiliki tatapan tajam sepertinya kurang ahli dalam hal melirik-lirik, mengintip atau curi-curi pandang.

“Kamu ngintip, ya?”, tanyaku. Ia gelagapan karena aksinya tertangkap basah.

“Hmm.. SMS dari siapa, sih?”, tanyanya balik dan membenarkan tuduhanku.

“Temenku, temen SD”

Continue reading “#8 Orang Bermanfaat”

#7 Dan Aku Pastikan Bukan Kamu Orangnya

Don’t judge the book by its cover. 

Orang akan mengira Ryan sebagai sosok yang tenang dan kalem. No! Hentikan pikiran itu. Ryan itu ribet. Sebenarnya cepat tersulut. Banyak khawatirnya, tapi hal itu bisa bikin dia jadi well prepared. Hobi dia? Ngomel kalau ada hal yang (menurutnya) gak beres. Telat dikit, ngomel. Kotor dikit, ngomel. Salah dikit, ngomel. Semua diomelinnya. Gak pandang bulu, even you are strangers to him.

Continue reading “#7 Dan Aku Pastikan Bukan Kamu Orangnya”

#6 Kejujuran Memang Pahit

Hari ini pertama kalinya aku diajak bertemu teman-temannya. Memang, ada beberapa temannya yang sudah kukenal, lebih banyaknya sudah pernah kudengar ceritanya. Awalnya aku menolak. Aku belum nyaman untuk mempublikasikan kedekatan kami. Tidak, aku tidak main sembunyi-sembunyi dari siapa pun. Eh, iya ding.. Kami (sedikit) menyembunyikan hubungan kami dari teman-teman seorganisasi kami. Tapi sebenarnya mereka sudah tahu, haha.. Aku pernah diingatkan oleh senior di asrama, diingatkan bahwa kita tidak boleh sering pergi berdua dengan yang bukan mahram. *speechless*

Dan aku termasuk orang berkepala batu yang (seolah) mengabaikan masukan dari senior dan teman-teman lain. Karena benar kata orang, paling sulit menasihati orang yang sedang jatuh cinta.

Continue reading “#6 Kejujuran Memang Pahit”

#5 Waktu yang Dibutuhkan Dua Teguk Air untuk Mengubah “Lo” Menjadi “Kamu”

Duh, dia lagi. Semoga mulutnya kali ini sudah dilakban. Lidahnya sudah diikat, jadi gak perlu lagi ngomong seenaknya, batinku saat laki-laki itu duduk di sampingku.

Saat ini, laki-laki itu pun duduk di sampingku, tengah menikmati sepiring pisang ijo di Gerbang Lama. Dulu, aku malas saat semua kursi penuh dan aku kebagian duduk di sebelahnya. Saat ini malah aku yang mengajak dia makan pisang ijo dan dia duduk di sebelahku.

“Hari ini si Putri anniversary keempat, lho”, aku pun memulai percakapan di tengah nikmatnya es pisang ijo yang mendinginkan panasnya Jatinangor siang hari.

“Oya? Hmm.. Empat tahun. Great!“, timpalnya.

Continue reading “#5 Waktu yang Dibutuhkan Dua Teguk Air untuk Mengubah “Lo” Menjadi “Kamu””

#4 Aku Takut

Jatinangor sedang tidak asyik. Ulat-ulat sedang bebas beterbangan. Jatuh sekehendak hatinya. Sering terlihat seperti dedaunan kering yang berserakan.

Iya. Ada musimnya memang di Jatinangor itu musim ulat. Ulat-ulat bersemi. Mahasiswi-mahasiswi menjerit. Tapi setelah itu saya lupa bahkan tidak ingat Unpad dipenuhi kupu-kupu cantik warna-warni.

“Lagi musim ulat, ya?”, tanyanya seolah bertanya pada dirinya sendiri. Continue reading “#4 Aku Takut”

#3 Waktu

6 menit lagi aku berangkat ya.

Kira-kira 11.47 aku mulai jalan kesana deh

Rigid banget urusan waktu, pikirku. Apa dia Autism? Sempat juga terlintas demikian. Biasanya, orang akan bilang “5 menit lagi”, “10 menit lagi”. Pembulatan. Ah, apa sebenarnya malas menghitung atau cenderung korupsi waktu, ya? Toh pada kenyataannya memang tidak sebulat itu waktunya.

Suatu hari pernah aku iseng bertanya. “Kamu kalau mandi diwaktuin juga?”, tanyaku.

“Iyalah.”

“Wow! Berapa lama?”

“10 menit”

“Hmm.. Kamu pernah telat?”

“Lupa aku kapan terakhir telat. Tapi pernah”

“Wow!”

Baru kali ini aku menemukan orang se-rigid ini urusan waktu. Sering kutemukan orang-orang yang disiplin, tapi kalau sampai detik menitnya sedetail itu? Hmm. Continue reading “#3 Waktu”