#10 Romatismeku Punya Caranya Sendiri

Percakapan dalam SMS

👨: Lagi apa? Aku perlu ngomong. Mau minta maaf, tapi pulsa tipis. Gak bisa SMS lagi atau telepon. Kutunggu di Pakilun, ya, jam 12.15.

👩: Bilang aja, “mau ketemu”.

**

Thanks ya, udah mau jadi OP. Nanti aku bakal tahu kepribadian kamu kayak apa 😂😂”

“Eh, serius?” Continue reading “#10 Romatismeku Punya Caranya Sendiri”

Advertisements

#9 Kusuntik Dia

“Yan, kamu kapan terakhir patah hati?”, tanyaku tiba-tiba saat sedang menyantap sate padang di belakang Pangdam DU. Tambah nikmat karena bumbunya bercampur kebul asap hitam dari knalpot bus Damri, haha.

“Ntah, mungkin aku tidak pernah merasa benar-benar patah hati”, jawabnya datar.

“Bahkan ketika putus sama Disa?”

“Iya. Aku putus sama Mona Disa karena aku emang pengen putus, jadi emang semua patah hatinya udah kusiapkan.”

“Aku gak pernah nyangka loh kamu emang well prepared, tapi kalau sampai patah hati pun well prepared, aku gak tahu lagi mesti bilang apa” Continue reading “#9 Kusuntik Dia”

#5 Waktu yang Dibutuhkan Dua Teguk Air untuk Mengubah “Lo” Menjadi “Kamu”

Duh, dia lagi. Semoga mulutnya kali ini sudah dilakban. Lidahnya sudah diikat, jadi gak perlu lagi ngomong seenaknya, batinku saat laki-laki itu duduk di sampingku.

Saat ini, laki-laki itu pun duduk di sampingku, tengah menikmati sepiring pisang ijo di Gerbang Lama. Dulu, aku malas saat semua kursi penuh dan aku kebagian duduk di sebelahnya. Saat ini malah aku yang mengajak dia makan pisang ijo dan dia duduk di sebelahku.

“Hari ini si Putri anniversary keempat, lho”, aku pun memulai percakapan di tengah nikmatnya es pisang ijo yang mendinginkan panasnya Jatinangor siang hari.

“Oya? Hmm.. Empat tahun. Great!“, timpalnya.

Continue reading “#5 Waktu yang Dibutuhkan Dua Teguk Air untuk Mengubah “Lo” Menjadi “Kamu””

#4 Aku Takut

Jatinangor sedang tidak asyik. Ulat-ulat sedang bebas beterbangan. Jatuh sekehendak hatinya. Sering terlihat seperti dedaunan kering yang berserakan.

Iya. Ada musimnya memang di Jatinangor itu musim ulat. Ulat-ulat bersemi. Mahasiswi-mahasiswi menjerit. Tapi setelah itu saya lupa bahkan tidak ingat Unpad dipenuhi kupu-kupu cantik warna-warni.

“Lagi musim ulat, ya?”, tanyanya seolah bertanya pada dirinya sendiri. Continue reading “#4 Aku Takut”