Buat Siapa?

Pagi itu kelas 1 dan 2 tidak ada yang mengajar. Saat itu, Bu Yuli, wali kelas kedua kelas itu berhalangan hadir. Jadilah hari itu saya meng-handle kedua kelas itu. Fakta mengagetkan, ah sebenarnya harusnya saya sudah tak kaget lagi, kelas 2 masih banyak sekali yang belum bisa membaca. Menulis? Masih acak adul.

Seorang anak yang paling menarik perhatian saya itu Benny namanya. Saya pernah mendengar memang kalau anak ini sering meminta perhatian lebih. Bu Yuli pun sering menegurnya. Banyak aduan dari teman-temannya karena digodain Benny. Ia sering menolak belajar juga, katanya.

Continue reading “Buat Siapa?”

Mia dan Nova, Persahabatan Beda ‘Bahasa’

Seperti jika mereka menuju rumahku dengan berboncengan sepeda. Gowesan sepeda itu selalu diiringi gelak tawa. Hanya mereka yang paham apa yang mereka tertawakan.

Sering masing-masing dari mereka mengadu kepadaku. Mia mengadu tentang Nova yang menurutnya nakal, begitu pun sebaliknya. Tapi ketika saya mau mendamaikan, mereka sudah saling berbagi tawa lagi.

“Bu Itaaaaaa..”, setiap pagi selalu ada teriakan itu dari mulut bocah lugu bernama Mia. Mia Meliawati namanya, namun dirinya sendiri  menyebut namanya Mia Mati. Entahlah, aku belum tahu apa sebutan ketidakmampuan mengucapkan artikulasi dengan jelas itu. Mia Meliawati menjadi Mia Mati. Bu Ditha menjadi Bu Ita, kadang Bu Nita. Pak Angga menjadi Naga. Pancasila menjadi Macang Silat. Dan banyak lagi kata yang tidak diucapkan dengan jelas. Berhitung? Dia bisa berhitung 1-10 saja rasanya saya bahagia. Ah, terserahlah. Bagi saya, anak ini spesial untukku. Dia bersama sahabat karibnya, Nova, sering kali mengganggu tidur siang saya sekaligus paling sering membuat saya tertawa.

Continue reading “Mia dan Nova, Persahabatan Beda ‘Bahasa’”

Bersuara Tanpa Suara

Ina, Pengajar Muda (PM) VII yang akan purna tugas mengajak saya ke sekolah. Saat itu anak-anak masih libur semester, namun anak-anak dimintanya untuk masuk sehari itu. Sebelumnya ia telah mengatakan kepada anak-anak bahwa ia akan pulang dan akan ada guru baru yang akan menggantikannya.

Hari itu, matahari di Bumi Ragem Sai Mangi Wawai terlihat malu-malu. Udara Desa Margodadi pun hangat. Di lapangan hijau dengan rumput yang tumbuh liar, sudah banyak anak-anak berlarian. Bermain-main tanpa beban. Segera mereka mengerubungi kami dan menyalami.

Continue reading “Bersuara Tanpa Suara”