Social Media (Doesn’t Mean) Real Life

Tadi pagi, seperti biasa, saya berselancar, jalan-jalan di dunia maya. Termasuk menjejakkan di sebuah aplikasi kekinian tempat sharing foto, tempat mengabadikan momen, bercerita melalui gambar, ajang bagus-bagusan caption 😝 bahkan mungkin tempat riya dan pamer saya kesini, disini, atau dengan si ini *ini sih refleksi saya pribadi, isi akun saya gitu, siiih 😂. Yup, Instagram kengkawan!

Saya follow akun para hosiper sejagat Endonesia, yang lambe-lambe itu loh 😂 Disana saya menemukan postingan terbaru (ini muncul di news feed saya). Postingan tentang perselingkuhan, semua aktor bukanlah public figure yang sering nongol di TV.

Continue reading “Social Media (Doesn’t Mean) Real Life”

Selingkuh Itu Nature?

Cheating, infidelity, selingkuh, atau bahasa jadulnya ngelaba, memang sudah ada dari zaman yang entah kapan. Benarkah selingkuh memang nature-nya manusia? Benarkah kita bisa cinta sekaligus dengan dua orang atau lebih? Bisa jadi iya, bisa jadi tidak.

Mungkin wajar banget jika dalam waktu yang bersamaan kita suka dengan dua atau lebih orang. Yang satu suka karena caranya memperlakukan kita, yang satu suka karena pribadinya. Atau keduanya suka karena alasan yang sama? Mungkin banget. Tapi entahlah, saya pribadi percaya bahwa perasaan manusia tidak (pernah) adil, hehe.. Pasti ada perasaan yang lebih, walaupun rasa, alasan, atau muatan emosinya sama.

Continue reading “Selingkuh Itu Nature?”

#7 Dan Aku Pastikan Bukan Kamu Orangnya

Don’t judge the book by its cover. 

Orang akan mengira Ryan sebagai sosok yang tenang dan kalem. No! Hentikan pikiran itu. Ryan itu ribet. Sebenarnya cepat tersulut. Banyak khawatirnya, tapi hal itu bisa bikin dia jadi well prepared. Hobi dia? Ngomel kalau ada hal yang (menurutnya) gak beres. Telat dikit, ngomel. Kotor dikit, ngomel. Salah dikit, ngomel. Semua diomelinnya. Gak pandang bulu, even you are strangers to him.

Continue reading “#7 Dan Aku Pastikan Bukan Kamu Orangnya”

#6 Kejujuran Memang Pahit

Hari ini pertama kalinya aku diajak bertemu teman-temannya. Memang, ada beberapa temannya yang sudah kukenal, lebih banyaknya sudah pernah kudengar ceritanya. Awalnya aku menolak. Aku belum nyaman untuk mempublikasikan kedekatan kami. Tidak, aku tidak main sembunyi-sembunyi dari siapa pun. Eh, iya ding.. Kami (sedikit) menyembunyikan hubungan kami dari teman-teman seorganisasi kami. Tapi sebenarnya mereka sudah tahu, haha.. Aku pernah diingatkan oleh senior di asrama, diingatkan bahwa kita tidak boleh sering pergi berdua dengan yang bukan mahram. *speechless*

Dan aku termasuk orang berkepala batu yang (seolah) mengabaikan masukan dari senior dan teman-teman lain. Karena benar kata orang, paling sulit menasihati orang yang sedang jatuh cinta.

Continue reading “#6 Kejujuran Memang Pahit”

Resepsi? Why Not.

Sambil menyeruput kopi arabica yang saya bawa dari Aceh, saya ingin menuangkan sedikit hasil kontemplasi saya #hazek bahasanyaa~ hahaha.. Bukan, bukan tentang lawatan Raja Salman bin Abdul Aziz, atau tentang cucunya yang (katanya) ganteng banget. Sudah banyak yang nulis tentang itu, mulai dari 10 hal tentang Raja Salman, berbagai analisia apa maksud dan tujuan kedatangan beliau, sampai mengait-ngaitkan ke hal pilkada dan berujung rasis. Ya Salaam.

Beberapa minggu lalu saya mendapati undangan pernikahan. Bukan, bukan dari mantan atau gebetan saya, haha.. Karena saya tidak pernah mendapatkannya dari mereka, entah apa alasan mereka, apakah kompakan atau bagaimana sehingga tak ada satu pun yang mengundang #oops. Continue reading “Resepsi? Why Not.”

#5 Waktu yang Dibutuhkan Dua Teguk Air untuk Mengubah “Lo” Menjadi “Kamu”

Duh, dia lagi. Semoga mulutnya kali ini sudah dilakban. Lidahnya sudah diikat, jadi gak perlu lagi ngomong seenaknya, batinku saat laki-laki itu duduk di sampingku.

Saat ini, laki-laki itu pun duduk di sampingku, tengah menikmati sepiring pisang ijo di Gerbang Lama. Dulu, aku malas saat semua kursi penuh dan aku kebagian duduk di sebelahnya. Saat ini malah aku yang mengajak dia makan pisang ijo dan dia duduk di sebelahku.

“Hari ini si Putri anniversary keempat, lho”, aku pun memulai percakapan di tengah nikmatnya es pisang ijo yang mendinginkan panasnya Jatinangor siang hari.

“Oya? Hmm.. Empat tahun. Great!“, timpalnya.

Continue reading “#5 Waktu yang Dibutuhkan Dua Teguk Air untuk Mengubah “Lo” Menjadi “Kamu””

Saat Kulit Wajah Bertemu Jodohnya

Sebelumnya mau disclaimer dulu, saya bukan Beauty Blogger dan belum pantas jadi beauty blogger, hehe.. Tapi saya mau menceritakan tentang khasiat (dooh, wis koyo obat) suatu produk.

Akhir 2014 saya meninggalkan tempat saya bekerja sebelumnya yang penuh dengan AC menuju tempat kerja yaaaaanggg.. Tanpa AC, terjun langsung ke lapangan, di bawah terik matahari, dimana kondisi lapisan tanahnya tanah merah yang dilapisi pasir putih, sering lalu lalang truk dengan muatan karet atau sawit, kemana-mana naiknya motor, debu, asap kendaraan dari jalan lintas timur, plus cuaca panas dan air yang berbeda. Apa yang terjadi dengan wajah saya? Jerawatan!

Continue reading “Saat Kulit Wajah Bertemu Jodohnya”

#4 Aku Takut

Jatinangor sedang tidak asyik. Ulat-ulat sedang bebas beterbangan. Jatuh sekehendak hatinya. Sering terlihat seperti dedaunan kering yang berserakan.

Iya. Ada musimnya memang di Jatinangor itu musim ulat. Ulat-ulat bersemi. Mahasiswi-mahasiswi menjerit. Tapi setelah itu saya lupa bahkan tidak ingat Unpad dipenuhi kupu-kupu cantik warna-warni.

“Lagi musim ulat, ya?”, tanyanya seolah bertanya pada dirinya sendiri. Continue reading “#4 Aku Takut”

#3 Waktu

6 menit lagi aku berangkat ya.

Kira-kira 11.47 aku mulai jalan kesana deh

Rigid banget urusan waktu, pikirku. Apa dia Autism? Sempat juga terlintas demikian. Biasanya, orang akan bilang “5 menit lagi”, “10 menit lagi”. Pembulatan. Ah, apa sebenarnya malas menghitung atau cenderung korupsi waktu, ya? Toh pada kenyataannya memang tidak sebulat itu waktunya.

Suatu hari pernah aku iseng bertanya. “Kamu kalau mandi diwaktuin juga?”, tanyaku.

“Iyalah.”

“Wow! Berapa lama?”

“10 menit”

“Hmm.. Kamu pernah telat?”

“Lupa aku kapan terakhir telat. Tapi pernah”

“Wow!”

Baru kali ini aku menemukan orang se-rigid ini urusan waktu. Sering kutemukan orang-orang yang disiplin, tapi kalau sampai detik menitnya sedetail itu? Hmm. Continue reading “#3 Waktu”