Menyoal Poligami

Baru-baru ini dunia Instagram dihebohkan oleh curhatan istri penyanyi religi -hayoo siapaa 😂- yang baru saja mendapatkan kenyataan suaminya berpoligami dengan backing vocal. Pembahasan mengenai poligami kembali mencuat. Pasti, pro-kontra ramai menghiasi. Yang pro kebanyakan membawa dalih sunnah dan dihalalkan agama, sedang yang kontra pasti menuntut keadilan dan perasaan si istri. Menurut saya, bisa jadi semua dalih benar dengan versinya sendiri.

Iya, agama Islam memberikan kesempatan berpoligami maksimal 4 orang istri. Dibanding berzina, kan? Iya, kalau laki-laki itu cenderung lebih lama masa seksual aktifnya dibanding perempuan. Dibanding ‘jajan’, kan? Continue reading “Menyoal Poligami”

Advertisements

Tanyakan Kabar Sahabatmu

“Tahu gak sih? Sekarang gue bla bla bla”

“Aku pengen cerita deeehh.. aku lagi kesel banget, bla bla bla”

Kemudian cerita itu panjang kali lebar kali tinggi. Bahkan berjam-jam. Cerita setiap detailnya.

Sering mengalami demikian? Jelas. Kita makhluk sosial. Rata-rata pasti punya teman dekat untuk berbagi cerita. Hingga suatu malam, ketika saya dan teman saya sedang terhubung dalam.percakapan via telepon. Saya senang mendengarkan setiap detail ceritanya. Setelah dia selesai, dia nyeletuk bilang, “Lho kok gue egois ya? Dari tadi cerita mulu, ampe gak nanya cerita lo gimana”. Deg. Saat itu saya langsung refleksi keingetan diri sendiri yang juga suka cerita sama teman, mencari tempat mengeluarkan unek-unek, agar diri ini merasa lega dan plong, agar diri ini mendapatkan alternatif solusi dan sudut pandang lain. Setelah itu, lupa dengan kondisi orang yang ada di depan kita. Continue reading “Tanyakan Kabar Sahabatmu”

Social Media (Doesn’t Mean) Real Life

Tadi pagi, seperti biasa, saya berselancar, jalan-jalan di dunia maya. Termasuk menjejakkan di sebuah aplikasi kekinian tempat sharing foto, tempat mengabadikan momen, bercerita melalui gambar, ajang bagus-bagusan caption 😝 bahkan mungkin tempat riya dan pamer saya kesini, disini, atau dengan si ini *ini sih refleksi saya pribadi, isi akun saya gitu, siiih 😂. Yup, Instagram kengkawan!

Saya follow akun para hosiper sejagat Endonesia, yang lambe-lambe itu loh 😂 Disana saya menemukan postingan terbaru (ini muncul di news feed saya). Postingan tentang perselingkuhan, semua aktor bukanlah public figure yang sering nongol di TV.

Continue reading “Social Media (Doesn’t Mean) Real Life”

Resepsi? Why Not.

Sambil menyeruput kopi arabica yang saya bawa dari Aceh, saya ingin menuangkan sedikit hasil kontemplasi saya #hazek bahasanyaa~ hahaha.. Bukan, bukan tentang lawatan Raja Salman bin Abdul Aziz, atau tentang cucunya yang (katanya) ganteng banget. Sudah banyak yang nulis tentang itu, mulai dari 10 hal tentang Raja Salman, berbagai analisia apa maksud dan tujuan kedatangan beliau, sampai mengait-ngaitkan ke hal pilkada dan berujung rasis. Ya Salaam.

Beberapa minggu lalu saya mendapati undangan pernikahan. Bukan, bukan dari mantan atau gebetan saya, haha.. Karena saya tidak pernah mendapatkannya dari mereka, entah apa alasan mereka, apakah kompakan atau bagaimana sehingga tak ada satu pun yang mengundang #oops. Continue reading “Resepsi? Why Not.”

Tamparan Itu …

Untuk ke- ah entahlah kedua atau ketiga kalinya saya memutarkan film Perahu Kertas. Kisah yang antara buku dan filmnya saya suka. Saya suka Kugy dengan imajinasinya, saya suka Keenan karena lukisannya, dan saya suka semuanya.

Beberapa kali menonton, itu artinya beberapa kali saya menamparkan wajah saya. Dulu, saat SD, saya senang menulis dongeng imajinatif. Yang saya ingat ada tentang Bunga Ajaib, Kaktus Bercerita, sampai Kuda Patah Semangat. Saya tulis di sebuah buku Big Boss bekas buku Om saya. Kemudian saya gambarkan ilustrasinya. Cerita dan gambarnya jauh dari nuansa real. Irasional.

Sekarang? Saya angkat tangan jika harus menggambar ilustrasi abstrak. Tokoh imajinatif seakan tak bersahabat. Tulisan saya pun dikatakan sebuah artikel ilmiah oleh teman saya.

Belum lagi soal ‘memilih dan dipilih’. Kata-kata Pak Wayan seakan berputar-putar di otak. Jadi selama ini saya?

Sudahlah..

Saya tertampar dengan jejak goresan cat minyak. Cat minyak yang sifatnya menutupi. Cat minyak yang membuat saya berpikir keras. Ah, pantas saja saya tidak menggunakannya, pernah, tapi hanya dua kali saja. Tahun 2004. Sekarang? Sudah masuk trisemester empat. Akhir dari 2016. Cat minyak perlu dirasakan. Dipikir keras hanya akan membuat saya hanya pernah dua kali saja. Pantas.

Salam,

DC

#1week1writing

Film Junk Food

Well, beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah film lama yang rilis sekitar tahun 2011 (sebenarnya gak begitu lama juga sih ya …), judulnya “What’s Your Number?”. Saya sebut film ini receh, seperti junk food-lah, -tapi junk food di Indonesia gak ada yang bisa dibeli dengan uang receh sih-, enak, bisa ngeyangin, tapi kan junk food.

whats-your-number-chris-evans-dvdplanetstorepk-2011-romance
Source: Google

Kenapa saya sebut film ini junk food, karena memang menurut saya film ini tidak membawa pesan moral yang baik buat moral, apalagi sehat buat kecerdasan otak, hahaha. Tapi cukup asyik dan menghibur. Genrenya komedi romantis, walaupun menurut saya gak begitu romantis.

Continue reading “Film Junk Food”

Tasik Konsumtif?

Tiga bulan terakhir ini saya banyak menghabiskan waktu di kota kelahiran, Tasikmalaya (untuk seterusnya saya hanya akan menyebutnya Tasik). Setelah sekitar sembilan tahun saya habiskan di kota lain.

Well, saya mau bertanya, siapa yang pernah ke Kota Tasik? Sebuah kota kecil di Priangan Timur. Iya, kotanya kecil jika dilihat secara geografis. Hmm … Sebenarnya yang saya maksud adalah kota administratifnya, bukan kabupatennya. Kalau kabupaten sih, luas. Di Kota Tasik hanya ada sepuluh kecamatan. Jika yang dicari adalah laut, maka tak akan ditemukan laut di Kota Tasik ini, wong daerahnya dikelilingi daerah Kabupaten Tasik. Jika yang dicari adalah gunung, ternyata gunung yang ada di daerah Tasikmalaya masuknya ke daerah Kabupaten Tasikmalaya. Lalu apa yang bisa ditemukan di Kota Tasik?

Continue reading “Tasik Konsumtif?”

Berani Melanjutkan?

​Dua hari lalu untuk pertama kalinya saya keluar ‘kandang’ untuk jalan-jalan setelah hampir dua bulan ber’semedi’. Berkeliling menikmati kota kecil tempat saya lahir. Lama saya tidak pernah menikmati kota yang tengah tumbuh ini sedetail kemarin. Terlalu banyak waktu yang saya habiskan di tanah rantau. Saya sadar, saya telah melewati masa tumbuh kembang Kota Santri ini *bayi kalee.. 

Continue reading “Berani Melanjutkan?”

Pheromone dan Respons

“Ih, kok Ifa wangi banget ampe kecium gitu? Emang cara pake sabunnya gimana?”

Begitulah kira-kira pertanyaan adik sepupu saya yang masih kelas 4 SD ke kakaknya saat selesai mandi. Mereka mandi bersamaan di kamar mandi berbeda. Mereka memakai sabun mandi dengan merek dan varian yang sama. Lama waktu mereka mandi pun hampir bersamaan, tapi kakaknya jauh lebih tercium wangi sabunnya. How can?

Continue reading “Pheromone dan Respons”