“Aku Mau Kerja”

“Itu kan mau kamu, kamu sudah tanya maunya aku belum?”

“Maumu?”

“Aku mau kerja.”

“Kamu kan sekarang kerja”

“Kamu bisa egois gak merhatiin aku kalau kamu kerja, kan? Nah, sekarang aku mau kerja. So yeah, wait till then.”

Sampai sekarang berulang kali baca percakapan itu saya masih menclos. Ada sedikit kecewa. It means we are not on the same page. Tapi di satu sisi saya mendapatkan satu jawaban jujur darinya. He never said that he feels I am selfish enough when I’m engaged in my work and never asked me to giving him attention. Then, I realised that he cares about me and he wants to pursue his dream.

Satu hal yang menjadi alasan mengapa ia menarik adalah ia selalu tahu apa yang ia mau. Dia selalu fokus terhadap apa yang sedang ia kejar. Setidaknya saya tahu, dia tidak mau egois dan dia punya empati.

 

Salam,

DC

Advertisements

Ini Giliran Kamu

“Share loc, dong..”

“Buat apa? Ketemu disana langsung saja”

“Gapapa, biar aku jemput saja”

“Ga usah, ketemu disana saja, biar aku naek ojol aja”

“Gapapa, kalo jalan sama aku, biarin aku drivernya”

Shared location.

“Aku udah sampai”

“Serius?” Continue reading “Ini Giliran Kamu”

Pelajaran dari Pacar Orang :p

I’m back!

Lama tak mengotak-atik blog kesayangan. Tempat nyampah sekaligus mengeluarkan isi kepala. Hehe.

Well, saya mau cerita sedikit mengenai pengalaman saya kemarin-kemarin. Maafkan kalau cerita ini lebih ke cerita teenlit, ahahaha.. saya juga gak sedikit pun prediksi akan mengalami ini di usia yang sekarang -___-  Continue reading “Pelajaran dari Pacar Orang :p”

Me vs Nyuci

Setiap kali melihat tumpukan baju kotor, mata selalu refleks menutup, menelan ludah, dan kening berkerut. Ya Allaah.. kenapa harus ada baju kotor sih? 🙈

images

Saya heran sekaligus takjub pada salah satu sahabat saya di penempatan. Tiap hari dia pasti nyuci. Nginap semalam saja selalu ada jemurannya di tempat yang kami inapi. Bahkan saking identiknya ia dengan nyuci, kami hadiahi ia dengan dua bungkus deterjen bubuk (dia lebih suka bubuk dibanding cair) di ulang tahunnya. I pay respect for her. Continue reading “Me vs Nyuci”

Dilan: Sunda Banget

Saya tidak tahu apa jadinya tulisan ini. Apakah akan jadi review film/ buku, atau malah akan jadi kumpulan nostalgia masa lalu? 😂

images
Source: Google

Saya sering menyebut diri sebagai Jamaah Pidi Baiq. Entahlah, saya hanya menggandrungi keabsurdan dan kata-kata sederhana Surayah. Saya follow twitternya sejak zaman saya bikin twitter. Saya suka tulisannya di blog atau di bukunya. Saya (dulu) sering juga dengerin lagu-lagunya. Oiya, kalau saya buka twitter, saya pasti buka profilenya, baca lagi twit-twit absurdnya yang membalas mention followersnya. Saya juga pernah nanya random. Jadi, fix kan saya masuk Jamaah Pidi Baiq? 🤣 Continue reading “Dilan: Sunda Banget”

Tentang Yang Ngeselin di Angka 26

Pagi itu, saya menjadi CPM pertama yang tiba di Jalan Galuh II No. 4. Pukul 06.15 saya sudah nongkrong asyik di meja kayu halaman depan kantor Indonesia Mengajar. Padahal, jadwalnya pukul 07.30. Begitulah, gara-gara khawatir akan terlambat, maka yang ada terlalu pagi.

Beruntung, 15 menit kemudian datanglah seorang gadis berkupluk, berselempang tas dari jins bekas, serta hanya membawa satu tas carier ukuran 60 liter. Iya, cuma satu doang! Sementara saya membawa 3, 1 carier ukuran 55 liter, tas jinjing besar, dan daypack ukuran 15-20 liter. Belum lagi ada tas selempang kecil. Ya Salaam.. dalam hati saya berkata, “Emang cukup ya barang cuma segitu?” Continue reading “Tentang Yang Ngeselin di Angka 26”

Tentang Retno? Sek, Sek!

Setelah Maya, Wido, Taufik, dan Diyon, kali ini saya akan menuliskan bagaimana ingatan saya tentang arek Suroboyo, Retno Dewi Yulianti. Di rumahnya ia dipanggil Yanti, di lingkungan PM panggilannya Retno, dan oleh kami ia mendapat panggilan khusus, Beno. Hahaha.. Panggilan sayang ini kami sematkan setelah kami melihat gambar penuh cinta muridnya yang dibubuhi tulisan “Beno”, maksudnya sih Ibu Retno. Jadilah, setelah itu sering kali kami pun menyebutnya Beno. Continue reading “Tentang Retno? Sek, Sek!”

Perhatian Diyon yang Diyon

“Oke, di sesi perkenalan ini, teman-teman harus menyebutkan nama beserta ciri khasnya”, kata Fasilitator memberikan instruksi kepada kami CPM IX.

“Perkenalkan saya Diyon Iskandar Setiawan. Ciri khas saya.. Hmm.. Ini! Saya memakai sabuk H! Hahaha”

What? Ciri khas macam apa itu?, benak saya.

“Dith, ada gak cewek di barak yang prospektif?”, tanya Diyon tiba-tiba di suatu malam di awal minggu kedua Camp, saat lampu sudah dipadamkan dan kami tengah mengerjakan tugas dengan hanya berlampukan head lamp. Continue reading “Perhatian Diyon yang Diyon”

Di Balik Kesangsian HI, Ada Pesona & Diplomasi

Setelah sebelumnya saya bercerita mengenai Maya, sekarang saya ingin menuliskan pengenalan saya dengan partner in crime-nya Maya selama setahun. Taufik Akbar. Macan IX yang memiliki nama paling hemat huruf. Jadi, kalau kita lomba adu cepat menuliskan nama sendiri, maka dapat dipastikan dialah pemenangnya –btw, lomba macam apa itu?, haha-.

Ketika saya mengenalnya dua tahun lalu, jujur, saya meragukan ijazah sarjana Hubungan Internasional (HI)-nya, yang saya tahu ketika bekerja di Binus, anak-anak HI dituntut untuk menguasai minimal Bahasa Inggris. Jadi? Begitulah. Haha.. tapi sekarang, update terbaru yang saya dapatkan adalah ia berhasil memperoleh skor IELTS 5.5. It’s more than enough for someone who doesn’t know how make a sentence that consist of subject and verb well before. Yes, he has been learning English for a year to getting that score! 👏 *standing aplause*
Continue reading “Di Balik Kesangsian HI, Ada Pesona & Diplomasi”

Maya: Ratu Sambel yang Antisipatif

“Hai, Dith, kamu jurusan apa sih?”

“Aku? Psikologi, May.”

“Wah, berarti aku bisa curhat dong sama kamu? Kamu bisa tahu dong aku gimana?”

Jika saya harus digambarkan dengan gambar komik, maka saat itu seolah ada garis vertikal di sisi atas kepala saya. -_-“ Respons yang sama ketika orang mendengar jurusan saya. Itulah obrolan pertama saya dan Maya sebagai teman sebelah kasur. Malam pertama saya tidur di sebelahnya, saya langsung tahu bahwa ia senang sekali ngobrol. Continue reading “Maya: Ratu Sambel yang Antisipatif”