“Ah, Rupanya Ikhlas Itu Sulit, Ya”

Sebelumnya

Sudah seminggu sejak di kafe kopi itu. Tak ada chat yang masuk. Ia tahu, “Rasy” tidak pernah menunjukkan tanda apapun. Pun dengan dia kepada “Rasy”. Terlihat seperti teman biasa.

Aku sudah ada yang mau kutunggu. Carilah yang lain yang lebih baik!

Continue reading ““Ah, Rupanya Ikhlas Itu Sulit, Ya””

Advertisements

Menahan Diri

Sehari-hari saya merupakan pengguna ojek online. Berbagai macam driver saya temui. Mulai yang ramah dan punya value, sampai yang grasak-grusuk dan banyak mengumpat. Alhamdulillaah saya tidak pernah menemukan yang lebih ekstrim dari ini. Semoga terlindungi.

Oke, tadi sore saat saya mengendarai ojek online dari Hotel Atlet Century menuju pulang, abang ojol (ojek online) yang saya tumpangi beberapa kali menerobos lampu merah. Yup, honestly saya deg-degan. Saya tidak mau mati konyol karena kecerobohan orang lain, dong! Continue reading “Menahan Diri”

Me vs Nyuci

Setiap kali melihat tumpukan baju kotor, mata selalu refleks menutup, menelan ludah, dan kening berkerut. Ya Allaah.. kenapa harus ada baju kotor sih? 🙈

images

Saya heran sekaligus takjub pada salah satu sahabat saya di penempatan. Tiap hari dia pasti nyuci. Nginap semalam saja selalu ada jemurannya di tempat yang kami inapi. Bahkan saking identiknya ia dengan nyuci, kami hadiahi ia dengan dua bungkus deterjen bubuk (dia lebih suka bubuk dibanding cair) di ulang tahunnya. I pay respect for her. Continue reading “Me vs Nyuci”

Dilan: Sunda Banget

Saya tidak tahu apa jadinya tulisan ini. Apakah akan jadi review film/ buku, atau malah akan jadi kumpulan nostalgia masa lalu? 😂

images
Source: Google

Saya sering menyebut diri sebagai Jamaah Pidi Baiq. Entahlah, saya hanya menggandrungi keabsurdan dan kata-kata sederhana Surayah. Saya follow twitternya sejak zaman saya bikin twitter. Saya suka tulisannya di blog atau di bukunya. Saya (dulu) sering juga dengerin lagu-lagunya. Oiya, kalau saya buka twitter, saya pasti buka profilenya, baca lagi twit-twit absurdnya yang membalas mention followersnya. Saya juga pernah nanya random. Jadi, fix kan saya masuk Jamaah Pidi Baiq? 🤣 Continue reading “Dilan: Sunda Banget”

Memahami Fahri

Iya, saya tahu ini tulisan sangat-sangat telat. Saat review-review sudah mulai bertebaran, bahkan banyak yang sudah basi, saya baru nulis tulisan ini. Haha.. gak apa-apalah ya? Sebenernya saya sudah ingin nulis ini sejak saya keluar dari studio bioskop di Pejaten Village di hari kedua penayangan film ini. Semoga Mas Fahri maafkan karena keterlambatan Dinda (Dinda? 😂) mengekspresikan pengertiannya 🙈

Well, saya gak akan membahas bagaimana posisi perempuan di film tersebut. Sudah banyak. Googling saja. Atau mau bahas tentang operasi plastiknya Aisha? Doh, sebenernya bagian ini yang paling membuat saya mengernyitkan dahi. Gak logis. But, never mind.  Continue reading “Memahami Fahri”

Fight or Flight

Beberapa hari ini, setiap kali memklik tautan dari salah satu web berita online, saya selalu disuguhkan dengan kabar launching diamond unit dari Junikarta (I know that you know what I mean 😂). Yap, tepat di bagian atas. Hal ini membuat pikiran saya yang tadinya niat membaca berita online tetiba harus teralihkan dulu dan teringat iklan Junikarta ini.

Semua  hampir dipastikan pernah melihat iklan yang berulang-ulang itu di TV. Rasanya, saya jadi terngiang-ngiang, mulai dari adegannya, script-nya, sampai jargonnya “Aku ingin pindah ke Junikarta!”.

download
Si gadis kecil di iklan (source: Google)

Ya, dalam iklan tersebut ada seorang anak perempuan dalam mobil yang melintasi jalanan yang macet, melihat dari jendela mobil ada penjambretan, kondisi ketimpangan sosial yang nyata, dan ia merasa jenuh dengan kehidupan seperti yang sarat di kota padat seperti Jakarta. Rupanya setelah itu ada script di iklan itu yang bilang “Terkadang kita lupa bahwa ada cara lain menjalani (*apa menikmati, ya?) hidup” dan di akhir anak perempuan bersama mobil dan supirnya sampai di suatu tempat yang damai dan modern, lalu ia berujar “Aku ingin pindah ke Junikarta!” Continue reading “Fight or Flight”

Tentang Yang Ngeselin di Angka 26

Pagi itu, saya menjadi CPM pertama yang tiba di Jalan Galuh II No. 4. Pukul 06.15 saya sudah nongkrong asyik di meja kayu halaman depan kantor Indonesia Mengajar. Padahal, jadwalnya pukul 07.30. Begitulah, gara-gara khawatir akan terlambat, maka yang ada terlalu pagi.

Beruntung, 15 menit kemudian datanglah seorang gadis berkupluk, berselempang tas dari jins bekas, serta hanya membawa satu tas carier ukuran 60 liter. Iya, cuma satu doang! Sementara saya membawa 3, 1 carier ukuran 55 liter, tas jinjing besar, dan daypack ukuran 15-20 liter. Belum lagi ada tas selempang kecil. Ya Salaam.. dalam hati saya berkata, “Emang cukup ya barang cuma segitu?” Continue reading “Tentang Yang Ngeselin di Angka 26”

Tentang Retno? Sek, Sek!

Setelah Maya, Wido, Taufik, dan Diyon, kali ini saya akan menuliskan bagaimana ingatan saya tentang arek Suroboyo, Retno Dewi Yulianti. Di rumahnya ia dipanggil Yanti, di lingkungan PM panggilannya Retno, dan oleh kami ia mendapat panggilan khusus, Beno. Hahaha.. Panggilan sayang ini kami sematkan setelah kami melihat gambar penuh cinta muridnya yang dibubuhi tulisan “Beno”, maksudnya sih Ibu Retno. Jadilah, setelah itu sering kali kami pun menyebutnya Beno. Continue reading “Tentang Retno? Sek, Sek!”

Perhatian Diyon yang Diyon

“Oke, di sesi perkenalan ini, teman-teman harus menyebutkan nama beserta ciri khasnya”, kata Fasilitator memberikan instruksi kepada kami CPM IX.

“Perkenalkan saya Diyon Iskandar Setiawan. Ciri khas saya.. Hmm.. Ini! Saya memakai sabuk H! Hahaha”

What? Ciri khas macam apa itu?, benak saya.

“Dith, ada gak cewek di barak yang prospektif?”, tanya Diyon tiba-tiba di suatu malam di awal minggu kedua Camp, saat lampu sudah dipadamkan dan kami tengah mengerjakan tugas dengan hanya berlampukan head lamp. Continue reading “Perhatian Diyon yang Diyon”

Di Balik Kesangsian HI, Ada Pesona & Diplomasi

Setelah sebelumnya saya bercerita mengenai Maya, sekarang saya ingin menuliskan pengenalan saya dengan partner in crime-nya Maya selama setahun. Taufik Akbar. Macan IX yang memiliki nama paling hemat huruf. Jadi, kalau kita lomba adu cepat menuliskan nama sendiri, maka dapat dipastikan dialah pemenangnya –btw, lomba macam apa itu?, haha-.

Ketika saya mengenalnya dua tahun lalu, jujur, saya meragukan ijazah sarjana Hubungan Internasional (HI)-nya, yang saya tahu ketika bekerja di Binus, anak-anak HI dituntut untuk menguasai minimal Bahasa Inggris. Jadi? Begitulah. Haha.. tapi sekarang, update terbaru yang saya dapatkan adalah ia berhasil memperoleh skor IELTS 5.5. It’s more than enough for someone who doesn’t know how make a sentence that consist of subject and verb well before. Yes, he has been learning English for a year to getting that score! 👏 *standing aplause*
Continue reading “Di Balik Kesangsian HI, Ada Pesona & Diplomasi”