Ini Giliran Kamu

“Share loc, dong..”

“Buat apa? Ketemu disana langsung saja”

“Gapapa, biar aku jemput saja”

“Ga usah, ketemu disana saja, biar aku naek ojol aja”

“Gapapa, kalo jalan sama aku, biarin aku drivernya”

Shared location.

“Aku udah sampai”

“Serius?”

Photo received.

“Kamu mau makan apa?”

“Aku gak kebayang mau makan apa sih. Kita ke Eat&Eat aja, ya. Siapa tahu pas lihat keliling-keliling jadi ada yang dimau”

“Oke, hari ini kamu tinggal tunjuk saja, aku ikut”

“Eh, jangan, dong! Kamu juga perlu terakomodir dong!”

“Aku happy kok kalau kamu happy”

*Masang muka datar, padahal seneng*

“Jadi gimana si Wido? Si Ani?”

Wait, aku belum cerita mereka ke kamu, loh!”

“Aku baca blog kamu, baca blognya Ani Suyono (ini) dan aku bisa lihat bagaimana orang-orang dekat kamu menilai kamu. Aku suka. Aku bisa lebih mengenal kamu. Ayo, cerita tentang kamu dong!”

“Ih, kesel. Aku kok merasa keduluan langkahnya sih sama kamu. Aku datang kesini beneran dengan kepala dan ekspektasi kosong, aku mau dengar cerita langsung dari kamu. Eh, kamunya malah udah nyuri start duluan -_-”

“Aku tahu pasti kamu kesal. Sebagai yang kerjanya research. Kamu ngerasa kelangkahi kan aku research duluan tentang kamu? Hahaha.. Gapapa. Ntar kamu juga kenal aku kok. Ini giliran kamu dikenali. Giliran kamu dimengerti :)”

“Yaudah, karena kamu keknya udah tahu banyak tentang aku, kamu aja deh yang cerita”

“Aku cerita tentang apa? Hidupku gak ada yang menarik. Pesantren pas SMP, begitu aja. Monoton. Laki semua. Pernah kabur, gak kabur sih, hanya jalan-jalan saja, terus ketemu ustadz, aku sapa, ketahuan deh kalo kami keluar asrama, hahahaa.. Dibotakin. Terus SMA aku minta sekolah umum karena mau ketemu perempuan, hahahaa. Terus kuliah, gak tahu mau ambil apa, padahal aku tuh butuh diarahkan, eh kakak-kakak aku malah menyerahkan semua ke aku. Jadi deh aku kuliah disana. Lulus, terus kerja di tempat sekarang sampe sekarang gak pernah pindah-pindah. Gak kayak kamu yang udah melalang kemana-mana. Gak seru, kan?”

“Seru, kok!”

“Udah, deh. Kamu itu terlalu banyak dan sering memfasilitasi orang-orang. Terlalu banyak mendengarkan. Sekali-kali, sama aku, kamu yang didengarkan, kamu yang kufasilitasi. Ini giliran kamu didengarkan.”

*Jleb*

“Masukin dong HP-nya, dipegang terus. Kita benar-benar hadir ya dalam pertemuan kita”

Ya, selama jalan beberapa jam, dia selalu menyimpan HP di saku jaketnya. Sedangkan saya sesekali mengecek WhatsApp. Padahal gak ada yang penting dan urgent juga.

“Mau makan apa?”

“Mau sayur-sayuran, ya”

“Oke. Mas!” Ia memanggil waiter.

“Mas, satu capcay, gak pakai daging dan gak pedes. Satu lagi kwetiaw, ya. Pedes.”

“Kamu kok sok tahu aku mau makan capcay?”

“Kamu mau makan capcay, kan?”

“Ahahaha.. iya sih. Kok kamu juga tahu aku lagi gak makan daging dan gak suka pedes?”

“Tahu, dong. Kamu itu simple kok, Dith. Gak rumit. Ibarat buku, asal mau membacanya saja. Kalau orang bilang kamu rumit, dia hanya pemalas. Maunya didengerin saja. Ini giliran kamu.”

*Speechless*

Salaam,

DC.

Advertisements

10 thoughts on “Ini Giliran Kamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s