Menahan Diri

Sehari-hari saya merupakan pengguna ojek online. Berbagai macam driver saya temui. Mulai yang ramah dan punya value, sampai yang grasak-grusuk dan banyak mengumpat. Alhamdulillaah saya tidak pernah menemukan yang lebih ekstrim dari ini. Semoga terlindungi.

Oke, tadi sore saat saya mengendarai ojek online dari Hotel Atlet Century menuju pulang, abang ojol (ojek online) yang saya tumpangi beberapa kali menerobos lampu merah. Yup, honestly saya deg-degan. Saya tidak mau mati konyol karena kecerobohan orang lain, dong! Masih banyak utang yang perlu saya usahakan untuk ditunaikan. Yaa, utang kerjaan, utang omongan, tapi kayaknya utang duit udah gak ada, hahaha.. tapi kalau masih ada, bisa segera hubungi saya, ya! Well, kembali ke ojol tadi. Dua kali saya perhatikan bahwa lampu merah yang diterobos itu ada timer-nya. Ketahuan doong tinggal berapa menit lagi nunggu lampu ijo nyala. Intinya sih, ketahuan berapa lama kita harus nunggu, gak kayak nunggu si onoh yang gak pasti, kan? #eh! Tapiiii.. si abang ini terobos aja pas jalanan dari arah kiri-kanan lagi lumayan sepi. Saya sih ngeri ya, gimana kalau tiba-tiba ada yang ngelintas lumayan kenceng, kan dari arah lain lagi gak lampu merah. Beruntung, saya masih diselamatkan.

Sepanjang perjalanan saya masih saja berpikir, “cuma nunggu 50 detik doang, loh! Mbok, ya tahan diri dulu, dibandingkan celaka, kan?”

Barusan, saya jadi teringat kejadian-kejadian di jalanan yang mungkin sering orang lain alami. Saat ada sebuah mobil yang tak sabar nunggu antrean. Mencoba menyalip dan mengambil jalur lain. Alhasil? Jalanan berantakan. Coba kalau dia menahan diri untuk nunggu giliran.

Ah, soal menahan diri ini emang sulit-sulit sedap gitu, ya. Bisa dalam hal apapun. Bukan hanya menahan diri untuk taat peraturan, atau menahan diri untuk tidak memaksakan kehendak. Bahkan dari kejadian-kejadian itu, as usual, saya sering ngaler-ngidul kemana-mana, gak nyambung, tapi tolong maapkan ya. Hahaha.. Seperti, mau curhat ke temen deket, Kak Nia, misalnya. Kadang -saat ini saya sedang berusaha untuk jadi sering-, pas mau curhat saya langsung mikir,

“Kira-kira, curhatanku ini pernah dicurhatin belum, ya?”, atau

“Ini curhatan keberapa ya dengan masalah yang sama?”,

kalau hanya satu-dua-tiga kali (ah, tapi kalau sampai tiga kalinya, ini terlalu sih, ahahha..) mungkin masih wajar. Tapi jika berulang kali? Think twice.

Saya mencoba menahan diri untuk tidak membebani Kak Nia dengan hal atau masalah yang sama terus-menerus. Mengapa? Dari menahan diri (sejenak) itu, saya mencoba memosisikan sebagai orang yang dicurhati.

“Ini kan, udah pernah gue kasih pendapat, kok mengalami hal yang sama lagi?” atau “Ini kan udah berulang kali, harusnya sudah cukup familiar dan accept dong dengan masalah yang rutin ini? Kenapa harus dikeluhkan lagi? Bukannya ini masalah sudah bisa diprediksi?”

Lalu, alih-alih mencoba berempati dengan yang (akan) dicurhati, saya mencoba menyadarkan diri bahwa, “Kenapa harus masalah yang sama? Apakah saya tidak belajar sehingga harus terjebak dengan masalah yang sama? Apakah saya sudah cukup bebal untuk tidak mendengarkan masukan orang lain? Ataukah saya cukup hobi miara satu keruwetan yang sama?”.

Intinya, mbok ya kalau masalahnya masalah yang sama dan sebenarnya sudah terprediksi akan terjadi lagi padahal saat itu yang kamu curhati sudah menyarankan satu solusi tapi kamu tetep ngeyel pilih jalan lain dan memilih bertahan. Yaaa.. itu konsekuensi.

Ah, ya. Salah satu menahan diri yang paling berat juga menahan diri untuk tidak berkomentar. Berkomentar “Yaelah, gitu aja kok ….”, “Dooh, kok masalah kayak gini lagi, sih? Ini masalah kan sudah terjadi berulang kali dan terjadi bertahun-tahun lalu, kenapa masih pusing dengan masalah yang sudah jadi ke-biasa-an?”, atau menahan diri dari nulis unek-unek di blog macam yang sedang saya lakukan ini. Ataaaaauuuu.. bertanya hal-hal yang akan membuat orang lain tidak nyaman dan annoying such as “Kapan ——–tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttt————” *sinyal kedip-kedip~

Ya, menahan diri itu perlu modal empati memang, kadang kita suka lupa kalau sudut pandangnya dari kepala kita saja. Kan, lagi butuh masukan (lagi). Kan, lagi stres. Kan, hanya bercanda. Daaannn.. kan-kan yang lain yang tak lain adalah pembenaran dari kepala yang sebenarnya didorong emosi.

Dooh!

Ya, Allaah.. saya berlindung dari hilangnya pertahanan untuk menahan diri.

Image result for jangan ngatain gif
Source: Google

Salaam,

DC yang berusaha menahan diri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s