“Ah, Rupanya Ikhlas Itu Sulit, Ya”

Sebelumnya

Sudah seminggu sejak di kafe kopi itu. Tak ada chat yang masuk. Ia tahu, “Rasy” tidak pernah menunjukkan tanda apapun. Pun dengan dia kepada “Rasy”. Terlihat seperti teman biasa.

Aku sudah ada yang mau kutunggu. Carilah yang lain yang lebih baik!

Pesan itu masuk juga. Sebuah jawaban dari “Rasy”. Jika saja jawabannya akan demikian, kenapa harus membuatnya menunggu sampai satu minggu? Jika memang sudah ada yang lain, tentunya yang lain itu tidak dicari dalam waktu satu minggu, bukan? Berbagai pertanyaan bergelayut di pikirannya. Mungkin ia sedang mencari pembenaran dari kekecewaannya.

“Oke, thank you sudah memberikan jawaban”

“Aku masih belum mengerti mengapa minggu lalu kamu bertanya demikian. Tiba-tiba”

“Tak apa. Aku hanya sedang berusaha”

“Mengapa harus aku?”

“Kamu baik”

“Tapi sekarang aku sudah membuatmu kecewa”

“Tidak semua yang mengecewakan itu tidak baik”

“Tapi yang tidak baik pasti mengecewakan, bukan?”

Ia tidak mau membalasnya kembali. Batinnya berkata, “buat apa membalas (chat) yang tidak membalas (cinta)-nya?”.

“Ah, rupanya ikhlas itu sulit, ya.”

Tamat

Salaam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s