Memahami Fahri

Iya, saya tahu ini tulisan sangat-sangat telat. Saat review-review sudah mulai bertebaran, bahkan banyak yang sudah basi, saya baru nulis tulisan ini. Haha.. gak apa-apalah ya? Sebenernya saya sudah ingin nulis ini sejak saya keluar dari studio bioskop di Pejaten Village di hari kedua penayangan film ini. Semoga Mas Fahri maafkan karena keterlambatan Dinda (Dinda? 😂) mengekspresikan pengertiannya 🙈

Well, saya gak akan membahas bagaimana posisi perempuan di film tersebut. Sudah banyak. Googling saja. Atau mau bahas tentang operasi plastiknya Aisha? Doh, sebenernya bagian ini yang paling membuat saya mengernyitkan dahi. Gak logis. But, never mind. 

Sesuai judul yang saya pilih, saya berusaha untuk memahami Mas Fahri. Selama film diputar saya seksama memperhatikan bagaimana respons-respons tokoh yang diperankan Fedy Nuril ini. Memang, sejak film Ayat Ayat Cinta 1 juga banyak orang yang berkomentar bahwa tokohnya terlalu melangit. Sholeh, ganteng, digandrungi banyak wanita. Tapi, hey! Di film pertama saya masih melihat Fahri ekspresif, loh.

Banyak review yang saya baca (baik blog, postingan di Facebook, Instagram) bilang bahwa Fahri kok dengan mudahnya mengeluarkan uang untuk membeli rumah Nenek Yahudi itu? Fahri kok gak marah sama sekali saat mobilnya berulang kali dirusak dan ia sudah tahu siapa pelakunya? Seolah flat aja gitu ya emosinya?

Selama nonton, selain memperhatikan bagaimana jalan cerita dan ekspresi si pemain, otak saya melihat seluruh adegan secara keseluruhan. Inti dari cerita di film kedua ini adalah bagaimana seorang Fahri menjalani hidupnya setelah kehilangan Aisha. Sosok istri yang sangat ia cintai. Kehilangan Aisha yang sangat mendadak dan paling menyedihkannya adalah tak ada satu pun jejak Aisha yang tertinggal. Hilang saat menjadi relawan di Palestina. Can you imagine?

Rasa marah, sedih, kecewa, kehilangan, bercampur menjadi satu. Marah karena ia merasa tidak bisa menjaga Aisha. Sedih karena orang yang paling dicintai hilang. Kecewa karena segala macam upaya tak jua menemukan Aisha. Sayang, pergolakan emosi ini tidak dilakonkan.

Jadi, saya mencoba berasumsi bahwa apa yang dialami Fahri (kehilangan Aisha) bisa jadi menjadi kejadian luar biasa dalam hidupnya. Bukankah banyak orang yang seperti kehilangan arah hidup saat pasangan pergi? Banyak mimpi yang awalnya didesain berdua harus disimpan selamanya. Hidup Fahri seolah hilang beban. Apa yang ia jalani seolah hanya untuk Aisha. Usaha yang dijalankan itu tidak lebih dari menjalankan amanah Aisha. Segala kebaikan yang dilakukan diniatkan agar menjadi amalan baik untuk Aisha. Termasuk emosi Fahri pun dipengaruhi oleh kehilangan tersebut.

Saat seseorang melakukan hal yang tidak menyenangkan berulang kali dan bahkan ia melihat sendiri pelakunya, respons umumnya adalah marah, kesal, kecewa. Oke, anggaplah ia orang yang sangat sabar dan jarang sekali marah, at least ia akan berespons menetralkan emosi minimal beberapa detik. Misal ketika Keira ketangkap basah merusak mobil Fahri, sebagai manusia, normalnya ia akan diam dulu atau menarik napas minimal. Tapi yang saya perhatikan, Fahri dengan otomatisnya langsung menyuruh Hulusi memperbaikinya. Tanpa ekspresi apapun!

Saat Nenek Katarina diambil rumahnya, tanpa pertimbangan babibu, ia langsung menyanggupi membayar rumah tersebut. Ya, kalau ini sih saya mencoba flashback ke sekuel pertama, bukankah saat dinikahi Fahri, Aisha itu merupaka seorang kaya raya yang banyak sekali asetnya? Bisa jadi semua kekayaannya tersebut adalah memang harta yang berasal dari Aisha dan ia tentunya tahu betul bagaimana istrinya, sangat dermawan dan tak segan menderma.

Intinya sih saya mau bilang kalau datarnya ekspresi emosi Fahri itu ya tidak lain merupakan implikasi dari kehilangan Aisha. Apa yang membuatnya marah tidak lebih besar dari kemarahan saat kehilangan Aisha. Apa yang membuatnya sedih, tidak lebih menyedihkan dari kesedihan jauh dari Aisha. Apa yang pergi dari dirinya tidak lebih berarti dari kepergian Aisha. Jadi kerusakan mobil, ancaman, bahkan harus kehilangan banyak uang tidak lebih berarti dibanding Aisha. Ibarat kita pernah bagaimana sakitnya digigit singa, membuat kita merasa sakitnya digigit semut rangrang itu gak seberapa.

Apakah Fahri sadar? Menurut saya, ia sebenernya tidak sepenuhnya sadar, yang ia sadari, ia mencoba menerima keadaan namun semua yang dia lakukan bermuara agar Tuhan membalasnya dengan Aisha. Namun dikatakan tidak sadar juga karena ia begitu larut dengan rasa kehilangannya sampai pada saat Misbah, sahabatnya, berkata, “Jangan menipu Allaah”. Inilah kata-kata yang langsung menyadarkan Fahri sepenuhnya. Ia seolah acceptance, tapi sebenarnya tidak. Ia seolah ikhlas, tetapi sebenarnya sedang melakukan transaksi dengan Allaah. Ah, kalau bagian ini sebenernya saya juga sangat tertampar 😔

Apakah alasan itu cukup logis? Saya sendiri sebenernya hanya mencoba menganalisa dengan kemampuan otak saya yang cetek ini. Kalau secara psikologis, seingat saya -ampuni kalau salah-, kepribadian seseorang memang cenderung tetap, kecuali ia mengalami kejadian luar biasa dalam hidupnya. Bisa jadi, kehilangan Aisha menjadi kejadian luar biasa di hidup Fahri, bukan? Kok kepribadian? Kan dari tadi kita ngomongin emosi? Iya, emosi dan kepribadian itu ibarat cuaca dan iklim, emosi adalah bagian kepribadian. Bukankah untuk memprediksi iklim, yang diobservasi (salah satunya) itu cuaca?

Jadi, Fahri? Ia tetap manusiawi kok, buktinya ia mengalami dampaknya kehilangan, bukan?

Salaam,

DC, yang suka mikir kalau nonton 😑

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s