Fight or Flight

Beberapa hari ini, setiap kali memklik tautan dari salah satu web berita online, saya selalu disuguhkan dengan kabar launching diamond unit dari Junikarta (I know that you know what I mean 😂). Yap, tepat di bagian atas. Hal ini membuat pikiran saya yang tadinya niat membaca berita online tetiba harus teralihkan dulu dan teringat iklan Junikarta ini.

Semua  hampir dipastikan pernah melihat iklan yang berulang-ulang itu di TV. Rasanya, saya jadi terngiang-ngiang, mulai dari adegannya, script-nya, sampai jargonnya “Aku ingin pindah ke Junikarta!”.

download
Si gadis kecil di iklan (source: Google)

Ya, dalam iklan tersebut ada seorang anak perempuan dalam mobil yang melintasi jalanan yang macet, melihat dari jendela mobil ada penjambretan, kondisi ketimpangan sosial yang nyata, dan ia merasa jenuh dengan kehidupan seperti yang sarat di kota padat seperti Jakarta. Rupanya setelah itu ada script di iklan itu yang bilang “Terkadang kita lupa bahwa ada cara lain menjalani (*apa menikmati, ya?) hidup” dan di akhir anak perempuan bersama mobil dan supirnya sampai di suatu tempat yang damai dan modern, lalu ia berujar “Aku ingin pindah ke Junikarta!”

Iklan itu membuat saya merenung. Merenung dengan propaganda yang tengah dihadirkan. Kesemrawutan sosial yang tak bisa dielakan di kota besar membuat orang-orang bermodal diajak untuk “Yuk, pindah!”. Dalam benak saya muncul pemikiran bahwa kepindahan itu akan membuat barrier antara si rakyat jelata yang semrawut dan si punya modal yang tertata dan modern.

Ah, ribet ya otak saya? :))

Dalam ilmu psikologi sejak puluhan tahun lalu memang sudah dikatakan bahwa respons manusia terhadap sesuatu yang mengancam itu ada dua, hadapi atau menghindar, fight or flight. Jadi memang tidak ada yang salah jika segala kesemrawutan yang mengancam ‘kesehatan jiwa’ di ibu kota direspons dengan menghindarinya.

Tapi apakah pilihan untuk menghindar itu sudah jalan yang tepat?

Apa yang saya tulis ini tidak bermaksud memengaruhi siapa pun untuk tidak pindah ke Junikarta, Nope! Jadi siapapun boleh banget pindah kesana, apalagi karena alasan lahan di ibu kota sudah sedikit atau harganya yang jauh lebih murah disanaSaya hanya mencoba berefleksi sendiri jika saya harus pindah (kemana pun itu) karena adanya threats, apakah yang sebelumnya harus saya lakukan?

I have to change our perception of events. Ya, mungkin saya harus mengubah persepsi saya mengenai ancaman sebagai kesempatan. Memikirkan kembali mengenai hal apa yang bisa saya jadikan kesempatan bersyukur.

I can choose one of the options list: to change, escape, or avoid the situation. Pilihan itu nyata, pilihan berbuat sesuatu, pilihan menenangkan dulu dan kembali, serta pilihan untuk menghidar dan pergi. Saya harus menuliskan kembali plus dan minusnya setiap pilihan. Yes, that’s it.

I can enhance my coping skills and ego strength. Siapa tahu kan, apa yang sedang kita hadapi ini adalah cara Tuhan untuk membuat kita jadi jauh lebih kuat, jadi naik level kedewasaan dan kebijaksanaannya dalam menghadapi masalah, jadi sarana belajar dan mengaplikasikan segala teori problem solving and decision making. Bukankah pelaut bisa dikatakan pelaut ulung jika sudah berhasil menerjang badai? Dan apakah harus dihadapi sendiri? Nope. Kita akan jadi lebih tahu siapa social support kita. Kita akan jadi lebih tahu siapa yang mengulurkan tangannya.

I can change the way my bodies react or interrupt the stress response as it starts. Respons manusia fight or flight ini memang identik dengan bagaimana tubuh bereaksi terhadap ancaman. Ada perubahan fisiologis juga yang berperan. Take a deep breath before you do to solve, to decide. Latih napas untuk tetap bisa tenang. Mungkin ini memang preventif sifatnya, tapi it works!

Jadi, hasil dari perenungan ini adalah sebelum memutuskan pergi dan menghindar, mungkin ada beberapa alternatif yang bisa dicoba dan direnungkan, tapi jika kondisinya memang sangat mengancam keselamatan jiwa, rasanya gak perlu mikir lagi lah ya?

Nah, pertanyaan berikutnya yang datang ke saya itu “Bagaimana kalau ancaman itu berupa mantan?” 😂😂 Iya, terkadang ancamannya itu gak kasat mata, ancamannya itu imajiner, mengancam konsistensi move on 🙊 wait a minute, ini pembahasan berat dan dalam, mungkin saya butuh waktu khusus buat membahas ini *ngeles

Salam,

DC, yang baru saja lewat balon-balon besarnya Junikarta dari balik jendela bis.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s