Tentang Yang Ngeselin di Angka 26

Pagi itu, saya menjadi CPM pertama yang tiba di Jalan Galuh II No. 4. Pukul 06.15 saya sudah nongkrong asyik di meja kayu halaman depan kantor Indonesia Mengajar. Padahal, jadwalnya pukul 07.30. Begitulah, gara-gara khawatir akan terlambat, maka yang ada terlalu pagi.

Beruntung, 15 menit kemudian datanglah seorang gadis berkupluk, berselempang tas dari jins bekas, serta hanya membawa satu tas carier ukuran 60 liter. Iya, cuma satu doang! Sementara saya membawa 3, 1 carier ukuran 55 liter, tas jinjing besar, dan daypack ukuran 15-20 liter. Belum lagi ada tas selempang kecil. Ya Salaam.. dalam hati saya berkata, “Emang cukup ya barang cuma segitu?”

IMG20141025007
Tas Bawaan Saya (sumber: koleksi pribadi)

Setelah berkenalan, akhirnya saya tahu, dia adalah CPM yang berasal dari NTT. Septiani Caturasih Suyono namanya. Gadis yang memiliki darah 50% Jawa dan 50% Sabu, NTT.

Ketika berkenalan, seperti biasa, ia bertanya mengenai jurusan kuliah saya. Lalu setelah itu yang saya ingat hanya bunyi jangkrik pagi diantara kami. Belakangan saya baru tahu, rupanya dia berharap dia tidak dekat dengan saya, katanya repot kalau apa-apa nanti dinilai, hahaha.. Daaaann.. Tuhan berkehendak lain, ranjangnya tepat di depan ranjang saya dan dialah orang yang penempatannya paling dekat dengan desa saya.

“Ni, kamu pakai pulpen merah?”

“Iya, emang kenapa? Gak ada lagi pulpen”

“Kalau komunikasi tertulis pakai pulpen merah, ini gak sopan. Ganti gih! Pinjem kek”

Ya, saya sering sekali mengomentari apapun tentang dia, baik itu memang perlu atau iseng aja pengen komen, hahaha.. Ya, sering kali, mulut saya memang sulit sekali ditahan kalau berhadapan dengannya. Untungnya, dia yang baperan seolah tahu bahwa akan makin makan hati jika tetap baperan bersama sama.

Saya yang awalnya tidak diharapkan, rupanya menjadi orang yang sangat ingin dia mengerti, ceileh! Haha.. Bahkan ketika saya berniat backpack jalan sendiri ke Padang, ia ikut. Katanya, biar lebih tahu banyak bagaimana saya. Memang, demikianlah, jika ingin mengenal seseorang, maka lakukanlah perjalanan bersamanya. Kami pun berdua melakukan perjalanan. Mencoba berbagai moda kendaraan. Suka, duka, senang, dan sedih kami lewati -kok geuleuh ya? 😂-

Perdebatan, berantem, diem-dieman, sampe saling sandaran karena kami berdua sama-sama belum ada sandaran #eh. Semua kami lalui berdua. Selebihnya bisa dibaca disini.

IMG20150727165918.jpg
Saat di Palembang (sumber: koleksi pribadi)

Jika kami bertujuh membahas sesuatu, maka seringnya adalah 1 vs 6. Ia sering kali memiliki pertimbangan sendiri yang berbeda dengan kami. Diskusi yang alot, kadang diselingi urat dan air mata, hahaha.. Tapi ya karena kami hidup di negara demokrasi, maka jika memang harus segera diputuskan, sistem demokrasi ini pun yang kami ambil. Suara terbanyak. Terus Ani? Itulah yang saya salut dari dia, dia adalah sosok paling besar hati dan jiwanya. Ia akan terima keputusan apapun, melakukan hasil putusan tim dengan sangat baik, walaupun keputusan itu adalah keputusan yang ia tolak awalnya.

Oiya, soal pertimbangan, pertimbangan yang based on feeling sering kali jadi acuan. “Tapi kan gak enak, aku udah ngomong sama Pak ** nanti kita akan pakai jasanya”, katanya suatu hari mempertahankan alasannya. Gak enak. Sedangkan pertimbangan kami lebih ke hal-hal rasional seperti kualitas, harga, atau keefektifan.

Selain Diyon dan Maya, Ani juga paling mudah orang-orang ingat. “Ooiya.. Mbak Ani yang dari Kupang”, dan pertanyaan khas dari orang-orang adalah “Mbak, Mbak makan nasi?”, hahaha.. Rasanya ingin sekali saya jawab, “Satu bakul dia setiap kali makan, Bu”.

Walaupun banyak makan, tenaganya itu rupanya tak bisa mengalahkan ibu-ibu di sekolah Taufik. Saat lomba tarik tambang di acara 17an, ia menguji kekuatan tulang tangannya dengan membelitkan tali tambang di jari-jari tangannya. Yap, suatu kedodolan yang haqiqi. Hasilnya? Retaklah itu jari tangan dan membuatnya harus digips. Kejadian ini pun membuat kami punya bahan ceng-cengan dan mainan baru, kobra! Karena balutan perban dan gips di tangan sudah sangat persis dengan kobra dan balutan perbannya yang bisa saya gambari, hahaa.. Hal itu pun yang membuat kami menghadiahi ia kado boneka ular 😂

IMG20150913103119.jpg
Penampakan Tangan Ani yang Cedera (koleksi pribadi)

Kecelakaan itu pun sebenarnya membuat kami bingung. Antara miris dan pengen ketawa. Terlebih jika orang bertanya, maka dipastikan orang pun menghadapi kebingungan yang sama dalam bersikap, antara empati dan kocak pengen ngakak.

Ani, setahun bersama, adalah juara satu urusan baper. Berantem sama Retno dan Diyon, baper. Left group WhatsApp grup kecamatan. Wido bikin kesel gara-gara baper, baper. Taufik ngeselin, baper. Debat sama Maya, baper. Ngadunya? Sama gueee.. ahahaha.. tapi tetep aja, sama saya pun tetap disalahin kalau memang dia salah. Baper? Jangan sebut Ani kalau nggak.

Oiya, selain juara baper, ia juga sebelas dua belas urusan lupa dan teledor. Dompet yang berisi KTP dan SIM, hilang. Kain tenun ikat yang dari Mamanya, hilang. Rompi sakti PM, hilang. Buku agenda, hilang. Dua kali malah. Penyebabnya? Bisa lupa naruh atau memang jatuh tak sadar. Bahkan Hp pun nyaris ketinggalan saat kami makan di Unit 2. Beruntung, Wido mengamankan, walaupun harus bikin Ani jantungan.

Ani baru sadar Hp nya gak ada setelah jauh jalan. Ia kelimpungan dan panik. Kami pun mengetes dia buat mengecek ulang dan mengingat kembali terakhir kali dia simpan dimana. Kami baru memberitahu bahwa HP ada di Wido saat Ani sudah merengek minta diantar kembali ke tempat terakhir. Ani? Nguambeeekkk luar biasa, ahahaha.

IMG20150508006.jpg
Detik-detik Ani Lupa HP (koleksi pribadi)

Jika ditanya hal apa yang membuat kami semua kesal sama Ani, pastinya kami berenam sepakat bahwa hal yang bisa membuat kami bad mood adalah chat dari Ani dengan awalan “REMINDER GUYS..” 😗 atau saat kita tengah buru-buru dan urgent, lalu Ani dengan santainya bilang “Sabaaarrrr..” 🙆

Ah, Ani memang sering ngeselin. Tapi kalau dia gak ngeselin, jadwal dan timeline kami bisa jadi berantakan.

Ani memang ngeselin. Tapi kalau dia gak ngeselin, bisa jadi kami tidak waspada saling aware dengan barang teman.

Ani memang ngeselin. Tapi kalau dia gak ngeselin, bisa jadi kami lupa buat “sabaaaarrr”.. hahaha..

The last, but not least.. Happy birthday Nona! Selamat merayakan angka 26-nya. Tak apa baper-an, karena itulah yang membuat manusia semakin manusiawi. Tak apa jadi reminder yang ngeselin, karena hakikat manusia memang rentan dengan lupa.

Semoga semakin sabar menanti hal-hal romantis dari Tuhan ya!

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s