Tentang Retno? Sek, Sek!

Setelah Maya, Wido, Taufik, dan Diyon, kali ini saya akan menuliskan bagaimana ingatan saya tentang arek Suroboyo, Retno Dewi Yulianti. Di rumahnya ia dipanggil Yanti, di lingkungan PM panggilannya Retno, dan oleh kami ia mendapat panggilan khusus, Beno. Hahaha.. Panggilan sayang ini kami sematkan setelah kami melihat gambar penuh cinta muridnya yang dibubuhi tulisan “Beno”, maksudnya sih Ibu Retno. Jadilah, setelah itu sering kali kami pun menyebutnya Beno.

Kalau orang baru berbicara dengannya, maka mudah sekali ditebak bahwa ia memang Arek Suroboyo. Jowo Suroboyoannya rek, kuenteeelll tenan! Bahkan sering kali dia pun tanpa sadar ngomong Suroboyoan, jadilah roaming bagi saya dan Ani. Tapi kalau ia memperkenalkan diri, ia akan menyebutkan Kuala Lumpur setiap kali menyebutkan asal daerah. Ya, Sidoarjo maksudnya. Rupanya secara administratif rumahnya berada di Sidoarjo, tepatnya Terminal Bungurasih yang berbatasan langsung dengan Surabaya. Jadilah, kadang kala Diyon menyebutnya penguasa terminal, haha.

Walaupun ia besar di lingkungan terminal, tak sedikit pun muka sangar ada di wajahnya, bahkan saya pribadi gak pernah tega ngomel langsung di depannya, haha.. Muka polosnya ini pun membuat Bapak, bapak angkat Retno, cukup protektif. Ya, Bapak mencatat nama, nomor telepon, asal, bahkan nama desa dan orang tua angkat kami, hahaa.. katanya, kalau ada apa-apa mudah nyarinya 😂

IMG20150708110121
Penindasan Kepada Retno yang Tertangkap Kamera (koleksi pribadi)

Retno, saat kami tengah membahas sesuatu, terutama hal-hal yang perlu menggunakan kata kiasan atau kode-kode tertentu, maka ialah yang akan merespons, “Sek, sek, rek. Iki opo sih? Aku kok ra mudheng”, kemudian obrolan terhenti, hening sembari menatap nanar muka Retno, dan tiba-tiba sinyal hilang.

Tatapan nanar ditujukan kepada Retno bukan hanya saat ngobrol seru penuh kode, namun saat kami semua sudah siap sedia, penuh semangat 45 untuk pergi, dan tinggal cus menggas motor, maka dengan tiba-tiba dan tanpa dosa ia akan berkata, “Sek, sek, rek, aku ke kamar mandi desek!” dan dengan kompak kami menjawab, “Kenapa gak dari tadi, Nooooo..” -_______-

Soal kamar mandi ini, bahkan ada becandaan di antara kami bahwa “Dimana rumah disinggahi, disitu Retno pipisi” atau main tebak-tebakan rumah stakeholder mana yang tidak Retno pipisi 🙊 Belum lagi durasinya, beuh. Sering kali kami ngetuk pintu atau panggil-panggil untuk memastikan dia tidak tidur di kamar mandi.

Kalau soal tidur, dialah orang yang bisa dikatakan paling sedikit jam tidurnya dan paling pagi setiap kali bangun. Mungkin dibantu juga dengan alarm Bl*ckb*rry-nya yang -ya begitulah-, yang membuat kami selalu teriak, “Noooo.. alarmnyaaaaa!!!”.

Tapi walaupun waktu tidur paling sedikit, baterai dialah yang paling tahan lama. Hobinya geraaaakk mulu. Gak ada capeknya kalau nari terlebih, hobi sekaligus dia akan feel charge jika melakukannya. Pergi kesana, pergi kesini gak ada capeknya. Bahkan sering kali memaksakan diri, walaupun kami tahu kondisi badannya butuh istirahat. Dia akan tetap ngeyel bahwa badannya masih oke, padahaaall ….

Ngomong-ngomong soal kesehatan, rupanya dia tipikal yang tidak begitu percaya dengan treatment medis. Kami perlu meyakinkan sekitar 2 bulanan untuk membujuk ia agar mau dioperasi. Ada benjolan di kakinya yang selalu kambuh jika ia kecapekan. Menurut dokter, benjolan itu harus diangkat. Selama ini ia hanya menggantungkan rasa sakitnya dengan sugesti. Tapi kan kalau sudah bertahun-tahun ia masih merasa sakit, berarti sugesti saja tidak cukup, bukan? Alhamdulillaah.. akhirnya ia mau menurut dan yeay! Dia sembuh!

Selama masa pemulihan, ia menghibur diri dengan menyulam. Mendaur ulang baju-baju lamanya, memotong baju menjadi crop top, kemudian menyambungnya dengan rajutan hasil buah tangannya. Hasilnya? Lucu!

Nyambung ke soal baju, Retno juga memiliki julukan Miss Kucek. Dimana pun dia akan mengucek bajunya. Ya, rumah siapapun yang kami inepi, maka disitu pula akan ada jemurannya. Jarang sekali Retno membawa pulang cucian kotor ke rumah. Oleh karena itu, hadiah ulang tahun yang kami berikan tentu saja yang kami yakin akan sangat bermanfaat buatnya, detergen!

IMG20150801202342
Mendapat Kado Detergen (koleksi pribadi)

Kalau ngomongin Retno, pasti kami akan sepakat kalau best moment dia adalah saat acara makan bersama Kapolres Tulang Bawang. Saat itu kami diundang untuk hadir di kegiatan baksos Polda Lampung di Tiyuh Pagar Dewa. Kami pun disiapkan kamar buat menginap di Polres. Pak Kapolres menjamu kami dengan bakar ayam dan ikan di halaman rumah dinasnya. Saat para anggota membakar ayam dan ikan, kami pun mengobrol hal apapun dengan Pak Kapolres. Saat malam itu Retno …

“Bapak sering ya mengajak anggota buat makan malam bakar-bakar gini?”, tanyanya.

“Iya lumayanlah. Saya juga jauh dari istri. Jadi mereka-mereka inilah yang nemenin”, jawab Pak Kapolres santai.

“Iya yah Pak seru, apalagi ditemani bintang-bintang di langit, seperti malam ini..”

Refleks semua orang yang mendengar pernyataan Retno langsung menengadah ke atas, memastikan bahwa langit malam ini penuh dengan bintang. Daaaannn.. krik-krik-krik langit gelap gulita tanpa satu pun kerlip bintang. Pak Kapolrespun hening, sementara kami pun ikut speechless. 🙈

Sekelompok dengan Ani dan Diyon, membuatnya terlibat dalam drama rumah tangga Gunung Agung. Mulai dari soal komunikasi, rebutan motor, sampai rebutan Diyon #eh 🙊 maksudnya rebutan siapa dulu yang dijemput, haha..

IMG20150427001
Geng Gunung Agung Akur Saat di Kondangan (koleksi pribadi)

Diantara kami, dialah yang paling imajinatif. Dia mengimajinasikan binatang-binatang yang biasa dimakan itu sedih dan menangis jika ia memakannya. Makanya, ia tidak akan berani makan ayam atau ikan yang masih terlihat bentuknya. Kecuali jika sudah diolah menjadi nugget, bakso, atau KFC, hahaha. Itulah yang membuat dia seringkali makan dengan tahu dan tempe, mengingat sayur segar jarang sekali ada di desa.

Ngomongin soal Retno, seingat ingatan saya, adalah sosok yang totalitas dalam membantu orang. Persis dengan Wido. Cocok sih mereka, #eh 🙊 saking totalitasnya, kebaikannya bisa bikin baper lawan jenis. Termasuk saat dia membantu -ah, saya lupa namanya-. Ia membantu seorang pemuda berkebutuhan spesial untuk membaca. Saya sendiri sudah mengingatkan Retno untuk membatasi perhatian berlebih dan kontak fisik. Karena bagaimana pun, saya percaya, pemuda itu punya peluang buat merasakan jatuh cinta. Dan.. terbukti 😉. Lalu ia juga tak segan nyemplung ke lumpur sawah untuk menjemput anaknya kembali ke sekolah.

Jika Retno bertanya, saran saya, sabarlah. Karena ia akan terus bertanya sampai hal-hal yang sangat detail. Detaiiiiillll sekali. Semuanya harus jelas dan hindari kata kiasan dan konotasi, hahaha.. Ya, begitulah ia, semuanya harus jelas dan detail, sejelas dan sedetail setiap momen tak terduga yang ia abadikan dalam kamera sakunya, walau mesti glesoran buat membidik gambar terjelas.

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s