Perhatian Diyon yang Diyon

“Oke, di sesi perkenalan ini, teman-teman harus menyebutkan nama beserta ciri khasnya”, kata Fasilitator memberikan instruksi kepada kami CPM IX.

“Perkenalkan saya Diyon Iskandar Setiawan. Ciri khas saya.. Hmm.. Ini! Saya memakai sabuk H! Hahaha”

What? Ciri khas macam apa itu?, benak saya.

“Dith, ada gak cewek di barak yang prospektif?”, tanya Diyon tiba-tiba di suatu malam di awal minggu kedua Camp, saat lampu sudah dipadamkan dan kami tengah mengerjakan tugas dengan hanya berlampukan head lamp.

“Maksudnya prospektif, Yon?”, tanyaku mengonfirmasi apa yang baru saja saya dengar.

“Yang oke dijadikan jodoh”, jawabnya cengengesan.

“Ahahaha.. Baru juga jalan dua minggu, mana tahu yang prospektif itu yang mana. Lagian, itu masalah selera, Yon”, jawab saya normatif, padahal masih shocked dengan pertanyaan Diyon.
*
“Yon, kamu kenapa gak di dalam bivak?”, tanya saya saat mendapatinya tengah berdiri di luar bivak sedangkan yang lain ada di dalam.

“Malas”, responsnya singkat.

“Kamu ngambek?”

Kemudian dia pun menceritakan mengapa ia sampai marah dengan teman-teman. Dan setelah satu penempatan, saya jadi lebih paham, jika Diyon lagi ngambek atau ada masalah, ya begitulah dia, biarkan dia sendiri dulu, biasanya dia akan main PS atau makan mie ayam sepuasnya. Setelah itu? Cepat baik kok dia, hahaha.

 

IMG20150608002
Makan Adalah Sesi Paling Diyon Nikmatin (koleksi pribadi)

“Diyon itu ya, masa k*l*r masih bagus dibuang ke tempat sampah”, adu Emak, ibu angkatnya Diyon, saat menceritakan kedodolan Diyon yang salah naruh barang berharga bekas pakainya ke tempat sampah, bukan keranjang cucian. Itulah alasan kenapa kami menghadiahinya k*l*r baru saat dia ulang tahun. Siapa tahu, yang kebuang bukan hanya satu, hahaha.

“Diyon, entar bisa puasa gak, ya? Emak khawatir dia gak kuat. Makannya kan banyak”, tanya si Emak saat menjelang puasa.

Diantara kami bertujuh, saya pikir Diyonlah yang paling cepat nge-blend dengan keluarga angkat. Jadi Emak dan Bapak juga tidak canggung cerita apapun ke Diyon, termasuk saat mereka menghadapi masalah yang pelik. Diyon termasuk orang pertama yang diberi tahu. Bahkan dulu kedatangan Diyon sudah sangat ditunggu. Kedatangan Diyon langsung disambut dengan menanam pohon -saya lupa, pohon nangka apa pohon mangga- di depan rumah. Dan sampai kami pulang, pohon itu masih tumbuh, bahkan ketika kemarau panjang melanda, Bapak selalu memastikan asupan air untuk pohon itu. Katanya, untuk pengingat Diyon jika dia sudah pulang.

Oiya, Diyon kami pilih jadi koordinator awalnya karena informasi di borang bahwa desa Diyon memiliki jaringan telepon yang paling stabil diantara desa kami. Namun ternyata, belum sebulan kami di desa, tower yang ada di desa Diyon gangguan dan membuat sinyal tak lebih baik dari desa saya, hahaha. Nyesel milih Diyon? Saya pikir tidak. Karena Diyon adalah sosok yang rela merelakan dirinya untuk kebahagiaan teman-temannya. Misalnya saat kami bosan dan tidak tahu harus melakukan apa, maka Diyon bisa menjadi sasaran kami. Walaupun awalnya meronta, ia akhirnya ikhlas dan pasrah menjadi bulan-bulanan kami untuk kami dandani. Hahaha.. Dengan teamwork yang solid, ada yang memegangi tangan, kaki, memolesi eye shadow, blush-on, lipstik, dan juga tak lupa yang mendokumentasikan. Jadilah, wajah putih Diyon semakin merona dengan make up a la-a la kami. Thanks, Yon!

IMG20150203002
Serangan Keisengan terhadap Diyon (koleksi pribadi)

Atau saat OPP, kami yang terlalu fokus kerja-kerja-kerja seperti Pak Jokowi dan kabinetnya, bahkan sampai titik akhir penugasan, hahaha.. dan tak sempat memikirkan pementasan apa yang akan kami tampilkan, maka dengan paksaan, ia rela berkorban menjadi solo performer dari kami. Ya, dia melakukan stand up comedy! Alhamdulillaah teman-teman yang nonton bisa bekerja sama untuk tetap tertawa tak peduli itu beneran lucu atau sebenarnya krik-krik. Hahaha..

Sepanjang yang saya kenal, ia merupakan pribadi yang apresiatif. Saking apresiatifnya terkadang terkesan perez, ✌ ahaha.. tapi saya tahu, dia memang beneran apresiatif. Dia bukan tipe orang yang pandai menyembunyikan ekspresi, jika suka, maka mimiknya akan mengatakan suka, tapi jika tidak, segeralah sembunyikan muka Diyon, karena wajahnya tak bisa bohong, haha..

IMG_1312
Muka Uncontrolled Diyon Mode ON (koleksi pribadi)

Hal lain yang khas dari Diyon adalah idenya yang random. Ia bisa denga tiba-tiba menyampaikan idenya yang random. Apalagi kalau habis dari kamar mandi. Beuh, dia bisa tiba-tiba bilang, “Coy, aku punya ide blablabla..”, padahal sebelumnya kami tidak ada bahas hal itu. Soal idenya? Sering kali unik dan original, kadang kali aneh dan gak aplikatif, ahaha..

Selain Maya, Diyon juga iconic di tim kami. Terlebih di mata ibu-ibu pejabat atau mamah-mamah muda yang jarang liat yang bening #eh 🙊 Katanya, “Pak Diyon yang gant*ng mana?”, kalau mereka tak melihatnya. Tapi sayang, kegant*ngan bagi kami baru terbukti jika sudah laku, hahaha.

Oiya, hal yang paling bisa saya ingat dengan baik adalah bagaimana ia mengajarkan muridnya yang laki-laki untuk menghormati wanita sejak dini. Ya, saya tahu hal itu bukan dari Diyon langsung, tetapi dari salah satu anaknya saat di rumah Diyon. Anak itu cerita bahwa Pak Diyon ngajarin buat tidak kasar, tidak membentak, tidak memukul teman perempuan, ibu, kakak atau adik perempuan.
*
“Eh, coy! Besok malam kita nginep di rumah Mbah yuk! Besok kan malam paskah, kalian bawa telor yang udah dihias unyu yak!”. Pesan itu Diyon broadcast kepada kami berlima, minus Ani. Ia mengajak kami buat memberikan surprise buat Ani yang akan merayakan malam paskah sendirian. Dan surprise ini berhasil membuat Ani terharu, walaupun surprise-nya sendiri sebeneranya gagal, karena kami sempat bengong gara-gara keburu ketahuan sama Ani, 🙈

“Bup*t! Noh, gitu noh cara dia jalanin motor. Kagak hati-hati banget dah! Seenaknya aja kalau belok!”, rutuknya dengan logat agak Betawi suatu hari saat Ani mengendarai motor agak sembrono.

Ya, diam-diam Diyon memang selalu memastikan teman-temannya oke. Terlebih urusan berkendara, mengingat mobilitas kami di penempatan sangat tergantung dengan motor dan jalanan yang kami lewati bukan hanya jalanan desa, tapi jalan lintas timur Sumatra yang -ya begitulah~. Tapi bukan hanya urusan bertransportasi saja, untuk hal lain pun dia selalu menunjukkan perhatiannya, walaupun nada yang keluar seperti mengomeli. Seperti saat Retno ngeyel tetap mau pergi padahal kondisi kesehatannya mengharuskannya istirahat. Maka, kata “bap*t” akan jadi pilihan di awal curhatan. Iya, dia kalau kesal sama kami yang tidak bisa dibilangin ya gitu, ngomongnya sama orang lain tapi, hehe..

Perhatian-perhatian itu rupanya memang kebiasaan Diyon di rumah. Sebagai sulung dari 2 adiknya, ia merupakan sosok yang bertanggung jawab dan sangat protektif, terutama untuk adik bungsunya, Sendi. Ia akan menjadi seperti bodyguard yang menginterogasi dengan mata melotot kepada laki-laki yang mengantar pulang adiknya yang bak model itu. Ia akan siap mengomel panjang lebar kalau melihat hal-hal yang cukup mengkhawatirkan. Makanya, kebiasaan ngomel dia lakukan pula di tim, haha.
*
Jika ditanya siapa yang memiliki track record nyuksruk paling sedikit, maka dapat dipastikan Diyonlah juaranya. Setiap orang yang diboncengnya akan merasa aman, karena kaki panjangnya bisa sigap menahan motor saat mulai oleng, termasuk saat hadangan ayam melanda. Skill ini merupakan keahlian yang tidak bisa dikalahkan oleh Taufik atau Wido yang sebelas-dua belas rekor nyuksruknya.

Ngomongin tentang Diyon sebenarnya banyak sekali hal ‘diyon’ yang ada di diri Diyon. Ya, sebagai bukti sayangnya kami kepada Diyon, maka nama Diyon kami patenkan sebagai pengganti kata sifat apapun yang … -silakan artikan sendiri maknanya-, haha.. Kayak, “Diyon emang diyon sih!”, “Huh, diyon lu, Yon!”, “Dasar Diyon emang diyon!”. Jadi diyon itu?

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s