Di Balik Kesangsian HI, Ada Pesona & Diplomasi

Setelah sebelumnya saya bercerita mengenai Maya, sekarang saya ingin menuliskan pengenalan saya dengan partner in crime-nya Maya selama setahun. Taufik Akbar. Macan IX yang memiliki nama paling hemat huruf. Jadi, kalau kita lomba adu cepat menuliskan nama sendiri, maka dapat dipastikan dialah pemenangnya –btw, lomba macam apa itu?, haha-.

Ketika saya mengenalnya dua tahun lalu, jujur, saya meragukan ijazah sarjana Hubungan Internasional (HI)-nya, yang saya tahu ketika bekerja di Binus, anak-anak HI dituntut untuk menguasai minimal Bahasa Inggris. Jadi? Begitulah. Haha.. tapi sekarang, update terbaru yang saya dapatkan adalah ia berhasil memperoleh skor IELTS 5.5. It’s more than enough for someone who doesn’t know how make a sentence that consist of subject and verb well before. Yes, he has been learning English for a year to getting that score! 👏 *standing aplause*

Oke, mari saya kembali ke dalam bahasa Indonesia, haha..

Taufik adalah Macan yang paling sedikit ingin tampil setelah saya. Tapi, banyak bukti yang saya temukan bahwa di balik kerja senyapnya, banyak prestasi yang dia torehkan. Kemampuan diplomasinya mampu menggerakkan banyak pihak di desa. Kepala tiyuh, kepala sekolah, guru, bahkan anak-anak pun banyak yang tergerak dengannya. Hal simpel yang bisa saya ceritakan adalah ketika saya mendapati naskah tulisan anak muridnya (untuk projek buku angkatan) yang sangat luar biasa menurut saya. Saya sebenarnya sangsi jika Taufik yang mementornya, haha.. secara ia adalah satu-satunya Macan yang hanya mampu menulis satu tulisan saja dalam setahun. Itu pun berupa puisi. Jadiii.. untuk bisa membaca tulisan Taufik, kami harus menunggu hampir satu tahun. Makanya, masterpiece maha karya tulisan Taufik itu dengan senang hati Maya abadikan melalui kamera hp dan tak main-main, kami pun memasukkannya dalam Tabloid Pijar yang kami cetak dan disebar di seluruh penempatan Pengajar Muda, haha.. Oke, kembali ke prestasi anak muridnya, saya akhirnya tahu bahwa Taufik berhasil mengajak guru untuk menjadi mentor sekaligus asesor tulisan anak-anak. Entahlah, saya berani jamin hanya dia yang melakukan itu diantara 51 orang lainnya. Kalau sudah begitu, saya baru percaya bahwa dia berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Jika melihat perawakannya secara langsung, banyak yang menyangsikan dia asli Aceh. Begitulah, bukankah orang Aceh memang dikenal cowoknya agak-agak Arab gitu, ya? Oops! 🙊

Oiya, kalau Wido kemarin saya sebutkan disini bahwa ia memiliki chasing yang klasik jika dilihat dari depan, maka berbeda dengan Taufik, ia akan dikira sudah lebih lama hidup jika dilihat dari atas. Karena jumlah helai rambut yang tumbuh sudah seperti pria setengah abad, hahaha.. Makanya, dengan sepenuh perhatian dan kepedulian Maya, yang notabene aktivis herbal, ia disarankan untuk memanfaatkan kemiri. Dibantu oleh Dyah, adik angkat Taufik, Maya menggerus kemiri untuk nantinya dioleskan di kepala Taufik yang jarang ditumbuhi rambut itu. Tapi apa yang terjadi? Entah karena terlalu bersemangat dan mengharapkan hasil yang maksimal, Taufik menumpahkan seluruh kemiri (saya lupa apakah setengah atau satu kilogram) ke kepalanya. Berhasil? Ya, berhasil membuat rambutnya lebih rontok karena over dosis! Hahaha..

IMG20150111006
Jumlah Rambut Taufik yang Bisa Dihitung Jari (koleksi pribadi)

Diantara ketiga pria Macan, suka tidak suka, dialah yang paling laku. Bukan hanya karena cuma dia yang berpacar, tapi ia telah membuat setidaknya tiga anak murid kami ngefans di luar batas. Atin dan Nova misalnya, mereka selalu menanyakan Taufik dengan wajah malu-malu, bahkan seorang muridnya Retno lebih lagi. Sampai aktif SMS dan tanpa malu bilang ingat terus sama Taufik 😂. Tapi kami berenam bersyukur, selama setahun Taufik bisa mempertahankan hati untuk pacarnya di tengah gempuran godaan yang bertubi-tubi. Sebenarnya sih, lebih ke dianya yang gampang tergoda sih, apalagi sama mamah-mamah muda, hahaha.. Radarnya selalu menyala jika di sekitar ada gadis manis. Tapi dibalik itu semua, kami tidak memungkiri dan menyangsikan bagaimana sayangnya ia sama pacarnya. Saking sayangnya, ketika ada masalah dengan dia atau dia tengah mengalami masalah, hal itu bisa mengganggu pikiran Taufik. Taufik yang biasanya sok-sok cool, bahkan sampai tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Doa kami, semoga si Adek tidak segera menyadari bahwa pria lain lebih menarik, #eh.

IMG_0299
Dengan Nova, Fansnya (koleksi pribadi)

Sama seperti orang Aceh umumnya, ia juga dibekali ilmu agama yang lebih dari cukup sedari kecil. Namun sayang, ketika kami bertujuh menjalani hari-hari di Tulang Bawang Barat, hanya Al Ikhlash dan Al Kautsarlah yang bisa ia bacakan saat menjadi imam shalat kami, hal ini membuat saya pernah protes, haha.. kebayang kan, saat shalat tarawih ia membaca kedua surat itu bergantian mulai dari shalat Isya, tarawih, sampai witir.

Jika ia berdiri, orang mungkin meragukan apakah ia bisa menginjak gas atau tidak, tapi hal itu bisa ia bantah. Bagi saya, ia adalah supir kami yang paling bisa dipercaya. Dipercaya untuk saya tinggal tidur tanpa harus kebangun gara-gara kaget mobil melintas lubang yang dalam atau terhenyak karena caranya menginjak gas. Cara dia menjalankan mobil atau motor, sangat halus. Walaupun ngebut, dia tidak grasak-grusuk seperti Wido. Hal ini pun yang membuat saya menyimpulkan bahwa cara mendekati wanita bisa dilihat dari ia mengendarai kendaraan. Hahaha.. teori ini perlu diriset lebih jauh sih, karena sampel yang saya gunakan hanya dua, Taufik dan Wido.

Hmm.. Jika Maya ahlinya menghadapi emak-emak, maka Taufik akan sangat nyambung dengan Bapak-bapak pejabat yang agak-agak hmm.. atau para pejabat militer. Termasuk kepala sekolah Ani yang –yaa begitulah- sangat terlihat akrab ketika mengobrol dengannya. Kalau soal kemiliteran sih, dia memiliki cita-cita tak kesampaian karena badan yang tak semampai menjadi seorang prajurit, #eh 🙊. Namun, kecintaannya itu membuat ia memiliki pengetahuan yang luas soal itu, terutama soal pertahanan negara atau alutsista, dan terlebih tentang dunia kedirgantaraan, mungkin karena abangnya juga salah satu anggota kali ya.

Ngomong-ngomong hal lain yang saya salut dari dia adalah ketenangannya. Saat kami pulang dari rumah dinas bupati malam hari, kami dipepet oleh tiga orang pemuda yang berboncengan tiga. Kebanyakan dari kami sudah panik, termasuk saya yang mulai membayangkan hal yang sama sekali gak lucu jika suatu hari nama kami nampang di koran Lampung Post atau Kupas Tuntas yang hits di Tubaba, dengan isi berita bahwa 7 Pengajar Muda menjadi korban sadis begal 🙈. Ia bisa-bisanya tenang meladeni dan mengajak ngobrol ketiga pemuda tanggung yang meminta uang dan rokok kepada kami. Kebetulan saat itu saya tengah berada di boncengan Taufik, jadi tahu persis dia gimana. Alhamdulillaah, kami bertujuh selamat sampai sekarang gara-gara Taufik mengatakan bahwa kami tengah menuju rumah Kapolres Tulang Bawang, Pak Agus. Hahaha.. sesederhana itu. Padahal Ani sudah sewot saja minta Maya ngebut, tapi Maya yang sama deg-degannya malah denger “nyebut”, begitu pun dengan yang lain tidak ada yang menanggapi permintaan mereka.

Sama halnya antara saya dan Wido yang selalu marah sebelah tangan alias saya yang ngomel dan Wido yang diam, maka Taufik dan Maya pun tak luput dari gesekan. Hanya saja kami sepakat, hal yang bisa membuat mereka berselisih adalah masalah pengertian. Iya, bener, PE-NGER-TI-AN. Wis koyok wong pacaran, hahaha.. Maya yang sangat-sangat mengerti Taufik dan ingin membantu Taufik serta Taufik yang minta untuk dimengerti supaya Maya gak usah mikirin dia. That’s lyfe!

Berbicara mengenai Taufik yang merupakan putroe Tanah Rencong, pasti tidak diragukan dong kemampuan menari samannya. Yes, rupanya dia dulu merupakan pimpinan kelompok mahasiswa pencinta budaya Aceh di Yogyakarta. Ia dan kawan-kawannya sering sekali tampil di acara-acara besar, tapiiiiii.. sayang beribu sayang, ia sekalipun tak pernah mengajari kami tari saman, kecuali anak-anak murid saya.

IMG20150906113443
Saat Melatih Saman di Rumah -foto blur- (koleksi pribadi)

Oiya, muka sangar Taufik sebenarnya sangat berbanding terbalik dengan hatinya. Saya yakin, hati Taufik itu sangat halus. Sepanjang setahun mengenalnya, saya selalu melihat sorot kasih sayang yang luar biasa tiap kali ia bercerita tentang adik perempuannya. Ia sangat dekat dengan adiknya itu. Itulah salah satu alasan kenapa saya mengatakan ia memiliki hati yang halus. Walaupun kadang kala ia cukup menyebalkan ketika dengan isengnya pegang-pegang kepala atau sok-sokan gak peduli, tapi semua itu sering kali termaafkan kalau ia bisa diandalkan ketika kondisi genting, seperti ketika saya berada pada titik terendah karena kepulangan Enin, ia ada bersama bahunya untuk saya ingusi, eh maksudnya saya tetesi air mata, haha.. Ia menemani saya ke Bandar Lampung, rela menginap tanpa alas kasur dan persiapan apapun, serta menghibur saya di bis dengan bercerita mengenai perlukah Aceh merdeka, haha.. –hiburan macam apa itu, ya?-

Oiya, jika saat ini saya cukup bisa menggunakan CorelDraw, itu tak lain dan tak bukan berkat ajarannya saat genting persiapan FKPD yang sangat melelahkan itu. Thanks ya Pik!

Terakhir, doa saya dan teman-teman itu tetap setiap tahun buatmu, Pik, semoga doa akhir tahun itu dikabul, hahaha..

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s