Maya: Ratu Sambel yang Antisipatif

“Hai, Dith, kamu jurusan apa sih?”

“Aku? Psikologi, May.”

“Wah, berarti aku bisa curhat dong sama kamu? Kamu bisa tahu dong aku gimana?”

Jika saya harus digambarkan dengan gambar komik, maka saat itu seolah ada garis vertikal di sisi atas kepala saya. -_-“ Respons yang sama ketika orang mendengar jurusan saya. Itulah obrolan pertama saya dan Maya sebagai teman sebelah kasur. Malam pertama saya tidur di sebelahnya, saya langsung tahu bahwa ia senang sekali ngobrol.

“Dith, Dith. Aku mau cerita deh sama kamu”

“Cerita apa, May?”

“Mau curhat”

Saya pun beringsut, hendak duduk bersandarkan bantal dan menaruh buku di sebelah kanan kasur. Pastinya, kegiatan seperti itu tidak akan memakan waktu lama bukan? Bahkan tidak sampai 1 menit berdasarkan perhitungan saya. Namun, ketika saya menoleh ke arahnya, apa yang terjadi? Dia sudah tertidur dan tak bisa lagi menyaut saat saya panggil-panggil.

Ya, selama setahun bersama dan dua tahun berikutnya kami masih aktif berkomunikasi, bahkan saya sering nginap di kosannya dan dia sudah dua kali ke rumah, saya paham, teman saya yang satu ini memang sangat mudah sekali tertidur. Dalam kondisi apapun dan dimana pun. Bahkan di kolong kasur. Alhamdulillaah gak nyangkut #eh.
*

IMG20150527002
Maya Saat Karaoke dengan Sepenuh Hati (koleksi pribadi)

Di balik keceriaan dan kecerewetannya, orang akan mudah paham kalau dia adalah sosok yang sangat peduli terhadap orang lain. Tidak jauh beda dengan Wido. Sebenarnya, dia pun sangat peka dan perasa. Kepekaannya ini membuatnya menjadi sosok yang punya daya antisipasi yang cukup tinggi. Misalnya saat kami bertujuh tahu masalah yang pernah terjadi kepada sesepuh kami, maka ia merencanakan untuk sering datang ke rumah Taufik. Rupanya ia mengantisipasi adanya gosip yang bisa muncul karena Taufik tinggal di rumah yang mana adik angkatnya merupakan seorang gadis yang sudah cukup dewasa. Jadi, pikirnya, dengan dia sering ke rumah Taufik, masyarakat akan tidak berpikir macam-macam selama Bapak dan Ibu angkat Taufik ke ladang atau tidak di rumah. Saya baru tahu hal ini saat dia menjelaskan apa yang dia lakukan kepada kami. Disitu saya kagum, betapa ia bisa sejauh itu berpikirnya.

Memang, diantara kami bertujuh, hanya Taufik yang memiliki adik atau saudara angkat yang sama-sama sudah dewasa dan berlainan jenis kelamin. Ditambah lagi, PM sebelum Taufik pernah mendaptkan masalah terkait anggapan orang soal kedekatan dengan lawan jenis. Walaupun semua itu bisa dengan mudah terbantah, tapi mencegah dan jangan sampai terjadi lagi sangat menjadi poin penting Maya.
*

“Dith, aku baru saja menemukan penemuan baru!”, ceritanya suatu hari sesaat pulang dari bukit di dekat rumahku dengan semangat.

“Apaan?”, jawab saya penasaran.

“Nih, lihat!”, ia pun sambil menunjukkan bibirnya yang terlihat lebih merah. “Ternyata daun jati Margomulyo adalah jenis terbaik dan jauh lebih baik dibandingkan daun jati daerah rumahku”, ia menjelaskan apa maksudnya pada saya.

Ya, dia memang sangat menghayati kesukaannya memanfaatkan alam. Selama di hutan, dialah yang paling pintar dan semangat mengumpulkan bahan makanan berupa dedaunan aneh untuk kami bertahan hidup saat survival. Rupanya, apa yang dilakukannya itu tidak hanya berlaku saat kondisi genting, saat santai pun, saat berjalan-jalan biasa, tangan dan matanya aktif memindai mana yang bisa dimakan, mana yang enak dimakan, dan mana yang bisa dijadikan kosmetik alami. Termasuk daun jati yang sering dia gunakan sebagai lipstik.

IMG-20150321-WA0004
Penghayatan Maya Saat Mencari Sumber Makanan 😂 (koleksi pribadi)

Dia memang memiliki jiwa ilmuan menurut saya. Dia akan terus bertanya mengapa begini, mengapa begitu. Saat salah seorang dari kami berpendapat A, ia akan bertanya kenapa harus A. Jika orang yang baru kenal, mungkin akan berpikir “kok didebat?”. Ya, begitulah ia, ia harus tahu kenapa harus A, termasuk banyak perihal agama yang juga ia tanyakan. Ia yakin, bahwa segala sesuatu pasti ada alasan yang masuk akal.
*

Jika diibaratkan elemen, menurut saya ia ibarat air yang bisa menempati berbagai macam tempat dan menyesuaikan bentuk, mungkin karena dia berzodiak Aquarius kali, ya? Lah, kok jadi bahas rasi? Haha.. Pokoknya bisa berkomunikasi dengan berbagai kalangan, terlebih emak-emak dengan kemampuan emak-emaknya, haha. Bapak-bapak? Bisa, dia pun pandai ngebanyol, orang akan suka dengan banyolannya. Anak-anak? Dia pun bisa mengubah diri menjadi penghibur yang lucu, -saya gak bilang badut loh May- *peace* Ya, intinya, mau situasi santai sampai formal, ia bisa lakukan. Makanya, ia menantang dirinya untuk menjadi jubir kami di bagian advokasi birokrasi, walaupun sebenarnya dia tidak suka urusan birokrasi.

Hal baik yang bisa saya ceritakan, dia bisa mendorong diri untuk melakukan lebih dari yang dia bisa atau yang tidak dia sukai. Namun, hal itu ibarat sekeping mata uang logam, ada dua sisi yang berbalik. Hal ini pun yang membuat saya suka mengomelinya gegara sering kali ia pun suka memaksakan diri. Bahkan sampai gak peduli sama badan sendiri. Saking capeknya dia bisa tidur dimana pun tanpa cuci muka atau ganti baju terlebih dahulu.

Sama seperti Wido, -mungkin karena mereka sama-sama Aquarian #loh?- di balik sosok menggemaskan dan harus ada alasan logis di balik sesuatu, ia pun sebenarnya adalah sosok emosional yang jika sudah senang melakukan sesuatu, maka ia akan totalitas. Ia akan melakukan dengan sepenuh hati, bukan separuh hati. Ah, jangankan dia senang, dia tidak senang pun dia akan sepenuh jiwa, raga dan sukma, haha.
*

Di antara enam orang makhluk lainnya, Maya adalah sosok paling menyenangkan sebagai partner belanja untuk saya. Terlebih belanja di pasar dan belanja di mall, haha.. Saya selalu senang jika dimintanya menemani membeli baju, entah itu di pasar, di toko-toko kecil di pinggir jalan, atau saat di mall di Bandar Lampung. Karena dengan begitu, saya akan terlibat dalam pemilihan fashion yang akan lebih mempercantik penampilan Maya.

Bisa memilihkan warna dan corak adalah sebuah privilege bagi saya. Haha.. karena hal itu bisa mengurangi kegemasan saya sama style Maya yang mengganggu mata saya 🙈 Saya bingung menjelaskannya bagaimana, silakan dibayangkan bahwa Maya dulu bisa memakai atasan batik, celana training, kaos kaki berwarna orange, sandal gunung, dan kerudung jenis Rabbani yang bernada berbeda. Ya, begitulah.

Secara usia, dia memang paling bungsu diantara kami, tetapi sering kali dialah yang berperan paling sulung. Mulai dari muka, #eh, ya sainganlah sama Wido, kalau orang menebak, hahaha.. tapi memang peran sulung atau bungsu ternyata bukan urusan urutan lahir saja dalam keluarga Macan, tapi soal mengayomi. Yup, dia sering berperan seperti emak kami yang membuat kami kenyang dengan masakannya. Saya? Tugasnya hanya merecoki kadar keasinan dan kepedasannya. Menjaga kualitas masakan dari gangguan rasa pedas yang merusak makanan. Karena antara saya dan Maya memiliki perbedaan selera yang kentara, saya yang anti pedas, sedangkan Maya si ratu kepedasan.

Selebihnya? Dia adalah salah satu sosok yang mudah diingat oleh orang. Sosok yang banyak dekat dengan orang. Sosok yang banyak tahu, termasuk pohon apa saja yang tumbuh di kebun ibu angkat saya. Ya, walaupun dia senang sekali dengan hal yang berbau debatable, tapi dia adalah sosok yang sangat humble tak peduli glosoran di lantai hanya untuk mendengarkan orang bercerita, dan tentunya suka makan sambel.

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s