Antara Klasik, Baper, dan Kue Mickey Mouse

“Dua tahun terakhir ini saya bersama teman-teman tengah menekuni usaha konsultan di bidang pemetaan”, sekitar tiga tahun yang lalu Wido mengatakan demikian saat self presentation Direct Assessment (DA) calon Pengajar Muda angkatan IX. Dalam hati, ‘Iya, dia udah tua gitu, udah punya usaha sendiri, ngapain ikut PM, ya?’ haha.. Rupanya saya keliru, dia setahun lebih muda dibanding saya, chasing-nya aja memang jauh lebih klasik.

Qadarullaah saya dengan Wido lolos menjadi Pengajar Muda IX. Kami pun ada dalam satu grup WhatsApp. Di WhatsApp, dia aktif sekali, selalu update, sampai sepertinya penghuni grup WhatsApp yang sebagian besar belum pernah ketemu ini (kecuali yang sama hari DA-nya) tahu ada yang namanya Wido, sampai kesan kedua yang timbul di pikiran saya adalah “Nih anak kebutuhan perhatiannya tinggi ya”, hehe.

Sampai obrolan semakin random, kedekatan mulai terasa, keberanian untuk saling ceng-cengin pun terjadi. Termasuk Wido, yang entah karena hal apa, tepatnya saya lupa masalahnya, dia sampai left group. Kesan ketiga tentang dia kembali menyeruak dalam benak, “Ini anak emosional dan sensitif ya, baperanlah istilah kids zaman now mah”.

Qadarullaah yang kedua adalah: saya satu penempatan dan satu kecamatan! And the journey to understanding him has begun.
**

“Dith, kita harus bikin ini, harus agendain kesini, pokoknya kita harus kerja sama sampai bulan ini kita harus ngapain aja”

“Bentar, Do. Kita harus bikin list dan ngurutin prioritas apa aja yang kudu kita lakuin. Kita cuma punya setahun disini, dan itu gak lama. Mungkin ini kayak sedikit dan simpel, tapi medan dan kondisi kita juga tak sesimpel itu. Kita juga mesti memetakan siapa saja .”
*

“Astaghfirullaah.. astaghfirullaah.. Allaahu akbar..”

“Kenapa, Dith?”

“Kamu bisa gak jalanin motornya gak grasak-grusuk gini? Sakit tahu badan digonjang-ganjing gini!”

Alhasil, hampir setiap bulan saya meminta Mbah Saroh atau Mbah Poniyem untuk memijat saya. Komentar mereka, “Iki loh Buk, naek motore keguncang-guncang. Awake dadine ringsek“.
*

“Do, kamu mandi gak sih?”

“Mandi, kok..”

“Kok masih bau gini?”

“Namanya juga kena debu lagi, lewat karetan, kebon singkong, terik matahari. Jadi wajar aja, pas nyampe ke kamu, udah kayak gak mandi”, belanya.

“Aku tahu apa yang bisa kita kadoin buat Wido”, kataku ke teman-teman saat merencanakan surprise di ulang tahun Wido pertengahan bulan dua, “seperangkat alat mandi yang wangi dan parfum! Aku sendiri yang akan milihinnya!”.

Akhirnya, saat ulang tahunnya itu tiba, aku bersama keempat orang lain merencanakan surprise untuknya, sementara Ani apa Retno, saya lupa siapa tepatnya, menemani Wido agar tidak terlalu mencurigakan. Kupilih sabun cair Biore yang two-in-one head-to-toe dua botol plus parfum merek Axe for Women, ahahaha.. Alasannya? Karena saya suka wanginya. Masalahnya, dia akan lebih banyak membonceng saya, jadi wanginya harus sesuai dengan selera saya. Oiya, kami juga membeli kue tart di Ethanol, karena kami tahu, seumur hidup Wido tidak pernah diberi kue ulang tahun.

Yap, kue pertama ini bertema anak-anak, dengan krim warna biru, ada balonnya, dan gambar Mickey Mouse! Hahaha.. begitulah.. tapi keisengan kami tak sampai disana, kami pun mencetak foto gadis yang saat itu tengah Wido sukai dengan mengeditnya dengan tambahan tulisan “Happy Birthday, Wido!” terlebih dahulu. Kayaknya, ulang tahun itu menjadi ulang tahun termanis dia sepanjang hidupnya, haha.. Gak apa-apalah, penghiburan atas kesabaran jomblo sepanjang hayat yang dia jalani.

20170926_104000
Cake Mickey Mouse untuk Wido (koleksi pribadi)

“Aku harus tabah menunggu purnama, agar setiap teleponku semakin bermakna”, ucapnya suatu hari bercerita mengenai ide gilanya untuk menelepon gebetannya setiap bulan purnama. It means sebulan sekali!

“Keburu ditikung orang!”, jawabku, “Kau telepon dia sebulan sekali, dan orang lain telepon dia setiap hari, hahaha”.

“Aku mau nunggu dia. Nanti, jika aku sudah siap, akan langsung kulamar dia”, katanya lagi suatu hari untuk gebetan yang lainnya. Ya, saat itu dia sudah menyerah pada gebetan yang ditelepon tiap purnama.

Dan saat ini, katanya seseorang yang rencananya akan dia lamar itu akan segera melangsungkan akad nikah. Sabar ya, Do!
**

“Kamu sih, kesorean. Bilangnya mau jam 4, apaan, jam 5 baru berangkat dari HTI”, omelku karena dia lagi-lagi telat menjemputku untuk pergi ke rumah Diyon.

“Iya, maaf. Tadi itu aku ngerasa berat kali buat pergi. Aku amat menikmati bareng anak-anak”

Saat itu saya mengomel karena gara-gara kesorean itu perjalanan kami ke rumah Diyon harus terhambat gara-gara terhadang hujan lebat. Saya kesal, harusnya Wido paham, kalau di sore hari selalu turun hujan. Harusnya ini sudah diantisipasi. Tapi hanya gara-gara dia berat meninggalkan anak-anak, padahal kan cuma sehari aja, toh tiap minggu juga kami selalu meninggalkan desa buat rapat koordinasi atau silaturahim gantian ke rumah teman-teman yang lain.

Maghrib itu saya dan Wido masih tertahan di rumah Mbah Tilah, rumah hostfam Ani, sementara Ani dan teman-teman yang lain sudah ada di rumah Diyon. Bahkan Maya dan Taufik yang jaraknya paling jauh ke rumah Diyon pun sudah standby. Urusan ribut atau ngomel ke Wido memang seringkali gara-gara itu, gara-gara waktu, sehingga kami suka telat. Sebenarnya, teman-teman juga seringnya gak masalahin, tapi karena saya tidak suka menunggu jadi gak mau bikin orang nunggu, terus bagi saya juga hanya waktu yang paling berharga, jadi sebisa mungkin setialah sama waktu, jadi itu cukup mengganggu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 dan kami masih di rumah Mbah Tilah. Hujan masih mengguyur, tapi memang tidak sederas sebelumnya. Kilat dan petir sesekali masih ada, sinyal telepon sudah dipastikan mati, begitupun dengan jaringan listrik. Saya pikir, kami akan menginap malam itu di rumah Mbah, tapi saya salah, Wido mendesak untuk segera berkemas, mumpung hujan agak mending, katanya.
Sebenarnya Mbah Tilah juga sudah melarang, tapi Wido kembali meyakinkan bahwa rapat di rumah Diyon cukup mendesak. Kami harus segera bergabung bersama teman-teman lain.

Saat kami berangkat hujan memang tidak deras, tapi diperjalanan hujan kembali membesar. Kilat dan petir bersusulan seperti hendak menyambar. Jalanan sangat sepi. Jangankan hujan, siang saja selalu sepi. Maklum, jalanan desa yang di kiri dan kanannya hutan karet atau ladang singkong. Jarak antar rumah-rumah pastinya berjauhan.

Dibalik jas hujan sebisa mungkin saya melafalkan dzikir, bukan takut dicegat hantu, hanya saja berdoa agar mesin motor tidak mati atau mogok di tengah karetan malam-malam dan hujan deras. Kan gak lucu ya kalau sampai terjadi.

Motor terus Wido gas, banyak lubang-lubang jalan yang tak terlihat tertutup air pun diterobosnya. Jadi kebayang kan bagaimana? Jalan kering dan siang hari saja Wido suka grasak-grusuk, apalagi ini? Saya memilih untuk tidak mendumel saat itu. Hahaha.

Setiba di gerbang kampung Diyon, hujan semakin besar. Bahkan saat memasuki jalanan ke arah rumahnya, air sudah sangat tinggi. Kami pun berbalik arah, berniat menitipkan motor di rumah terdekat. Dibanding repot jika mati dan harus mendorong, kan? Ya, pilihan itu tepat, di tengah jalan menuju Diyon, ada tanggul yang permukaannya jauh lebih rendah, sehingga air semakin tinggi. Kira-kira air bah itu sepaha atas saya. Arusnya deras sekali dan kami berjalan melawan arus. Khawatir laptop kerembes air, saya memutuskan untuk memeluk tas agar permukaannya jauh lebih atas. Sementara tangan kanan pegangan di lengan Wido. Dan kami harus berjalan hampir sekitar 100 meter lebih.

Sesampai di seberang rumah Diyon, teman-teman tengah asyik melihat jalanan yang sudah berubah menjadi seperti sungai dengan arus yang deras di teras. Kami pun berteriak-teriak memanggil mereka, tapi suara hujan, gemuruh air, dan juga petir membuat suara kami kalah jauh. Bahkan yang lebih menyedihkannya lagi, saat jas hujan kami tersinari kilat, teman-teman malah masuk ke rumah karena mengira kami hantu -_____-

Baju pasti basah, termasuk baju gati yang saya bawa dalam tas. Beruntung laptop masih bisa menyala. Baju dan celana panjang saya pinjam dari Diyon selagi baju yang basah itu saya jemur. Kebayang kan bagaimana besarnya? Tentunya kecuali pakaian dalam yang saya setrika agar bisa dipakai.

Dari pengalaman ini, saya kembali menuliskan satu stereotif tentang Wido di kepala saya: nekat dan menikmati dalam memacu adrenalin.
**

“Do, aku mau es kacang merah di mesjid Ethanol”, “Do, pengen es krim”, “Do, makan mie di Unyil, yuk?”, “Keknya enak makan sate di Pasar Unyil”, “Do, ngeduren, yuk?”.

Ya, Wido selalu mengerti ketika temannya cemberut, maka ia akan mengajak makan es krim, makan duren, makan soto Pakde di Pasar Unit 2, atau hanya sekedar mengantar saya membeli es kacang merah di Ethanol, kemudian pulang lagi ke desa. Ya, dia adalah tipikal orang yang jika memang bisa, maka akan dia lakukan, akan diusahakan lakukan, atau bahkan dia paksakan untuk lakukan. Bukan hanya ke saya, partner sekecamatannya, tetapi ke semua orang. Dia akan tiba-tiba ada dan menyusul Ani dan Retno, jika mereka mendapati motor mereka mogok di jalan. Padahal kan bisa saja dia menghubungi Diyon untuk segera ke lokasi, karena dia adalah teman sekecamatan mereka.

IMG-20150528-WA0044
Saat Wido Menolong Ani dan Retno (koleksi pribadi)

Menyoal tentang baperan, dia adalah satu-satunya orang yang sangat larut dalam perpisahan saat kami pamit dari desa. Karena alasan berat berpisah pula, ia adalah orang terakhir yang datang ke rumah Mbah Tilah, meeting point kami dari geng Gunung Agung dan Gunung Terang. Kami sepakat, kami akan berangkat paling telat jam 13.00. Begitu pun saya menjanjikan dengan pihak supir travel yang akan mengantar kami ke Bandar Lampung. Tapi apa yang terjadi? Wido baru berangkat jam 13.00 lebih dari rumahnya. Walaupun kesal, di situ saya melihat langsung ia begitu larut dalam kesedihan perpisahan itu. Mukanya kuyu saat turun dari mobil Bapak angkatnya, belum lagi ia harus menghadapi perpisahan kedua di rumah Mbah, ia harus pamit ke orang tua angkat saya, ke keluarga Retno, orang yang mengantar Wido, dan juga Mbah Tilah yang rumahnya sering menjadi tempat kami pulang.

Kesedihan itu terus ia rasakan sepanjang jalan dari rumah Mbah Tilah ke Bandar Lampung, ditambah lagi kami pun harus mampir ke rumah Pak Conang dan Bu Yulia, orang-orang yang kami anggap sudah seperti orang tua kami. Saya lihat ia semakin sedih.

Dengan duduk di depan, ia seolah ingin membatasi diri bahwa ia sedang berduka. Sepanjang jalan, dengan memangku kue lapis yang dibuat khusus oleh ibu angkatnya, ia menikmati setiap jengkal jalanan dengan menatap kaca mobil. Kami? Awalnya berusaha menggoda untuk menghibur, tapi kami 100% gagal dan akhirnya menyerah.

IMG-20160103-WA0039
Kesedihannya Sampai ke Bandara Soetta (koleksi pribadi)

Di balik ceng-cengan baper yang saya layangkan, saya sebenarnya iri juga terhadap Wido yang selalu menaruh hatinya dalam apa yang dia lakukan. Bukan separuh hati, tapi sepenuh hati. Di balik kekesalan saya jika dia nekat, saya juga ternyata mengalami hal-hal dengan mendobrak kekhawatiran dan segala macam perhitungan risiko. Dan di balik muka Wido yang klasik, saya terselamatkan bahwa saya selalu disangka jauh lebih muda.

IMG_2350
Wido bersama Pak Apri & Pak Conang. Gimana, seperti seumuran, kan? 😜 (koleksi pribadi)

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s