Ketika Terpaksa Bertengkar di Depan Anak

Sering kali saya mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman saya soal parenting. Iya, mereka yang tengah menjalani parenthood bertanya pada orang yang sama sekali belum jadi parent, haha.. lucu sih.. Tapi tak apa, hal ini membuat saya jadi banyak bahan pembelajaran, kan?

Saya senang, saat ini banyak sekali orang tua muda yang sangat peduli dengan segala macam stimulus yang mereka berikan pada anaknya. Eh, tapi saya juga tidak tahu pasti sih apakah jumlah ini sebenernya sudah banyak sejak zaman dulu. Doh, maafkan penyimpulan yang terlalu dini dan tanpa research ini 🙈

Oke, saya akan cerita tentang pertanyaan yang datang dari teman saya ketika ia dengan terpaksa harus bertengkar dengan suaminya di depan anak mereka yang berusia 4 tahunan. Pertengkaran hebat itu memang diakuinya pertama kali terjadi. Ia khawatir bagaimana dampak pertengkaran hebat itu untuk kondisi psikologis anaknya. 

Ya, sebagai manusia biasa yang hidup berdampingan dengan manusia lain, tentu tak selamanya bisa berjalan dengan mulus. Ada kalanya gesekan terjadi. Terlebih dengan pasangan, orang yang paling dekat. Namanya juga bahtera rumah tangga yaa, bisa jadi kapal oleng gegara badai dan ombak yang besar. Bisa jadi karena kapten atau navigatornya mabok laut -etapi, keknya kapten sama nahkoda mah udah khatam kali sama lautan, jadi bebas mabok 😂-

Oke, jadi bagaimana kalau kita terpaksa bertengkar di depan anak-anak?

images
Source: http://m.huffpost.com/us/entry/5994594

Pertama, sebisa mungkin segera hentikan. Jika tidak bisa? Pindah tempat. Pindah ke kamar atau meminta anak-anak masuk ke kamar. Kalau kita gak kepikiran buat pindah atau meminta anak-anak pindah? Hindari pertengkaran yang mengandung unsur kekerasan fisik dan kata-kata umpatan.

Jika pertengkaran sudah terjadi, tenangkan diri dulu. Sebelumnya, sampaikan pada anak bahwa ayah atau ibu perlu diam dulu di kamar. Jika anak masih perlu pengawasan, maka perlu bantuan orang lain untuk mengawasi sementara. Hal ini menurut saya perlu dilakukan karena untuk menghindari luapan emosi negatif jika kita memang belum tenang yang berpengaruh pada anak.

Jika kita sudah merasa tenang, sangat perlu mendatangi anak untuk menjelaskan apa yang terjadi. Tentunya tidak semua hal kita ceritakan secara detail dan harus disesuaikan dengan usia anak. Katakan kepada mereka bahwa antara ayah dan ibu sedang ada masalah, sedang berbeda pendapat, sedang saling marah satu sama lain. Pakai analogi bagaimana ia bersama teman atau saudaranya. Hal ini bisa memberikan penjelasan buat anak-anak, bahwa konflik itu wajar, berbeda pendapat itu sangat bisa terjadi pada siapapun, bahwa berselisih paham itu biasa terjadi antar manusia, termasuk orang tua mereka.

Penjelasan sederhana mengenai apa yang telah terjadi sangat dianjurkan dan jaga diri untuk tidak menjelekkan pasangan. Yup, bagaimanapun, pasangan kita adalah orang tua anak-anak, sama seperti kita. Penjelasan buruk mengenai pasangan bisa merusak sosok ayah atau ibu di mata mereka, terlebih yang mengatakan juga adalah sosok yang sama signifikannya. Jika pasangan saat bertengkar terpaksa membentak? Jelaskan kepada mereka bahwa kondisinya saat itu ayah atau ibu sedang marah, hal itu memang tidak baik, tapi tenangkan mereka bahwa antara ayah dan ibu akan saling meminta maaf dan memaafkan.

Penjelasan mengenai maaf dan memaafkan akan menjadi poin penting bagi mereka, karena dengan begitu anak akan belajar bahwa ketika mereka berselisih, maka meminta maaf dan memaafkan itu perlu dilakukan. Dan poin penting lainnya meminta maaf kepada anak, minta maaf karena telah membuat mereka kaget, takut, sedih, bahkan kecewa. Poin ini juga akan mengajarkan mereka bahwa perselisihan, walaupun biasa terjadi, bisa membuat orang di sekitar tidak nyaman.

Oiya, walaupun anak sudah diberikan penjelasan mengenai apa yang terjadi, tapi hal yang paling mereka tunggu adalah ayah dan ibu bisa kembali harmonis. Penyelesaian konflik harus segera dilakukan. Saya paham, perselisihan orang dewasa memang tidak sesederhana perselisihan anak-anak yang bisa jadi kurang dari 5 menit bisa kembali bermain bersama. Tapi jika memang masalah yang dihadapi belum juga menemukan solusi dan perdamaian diantara ayah dan ibunya, maka menurut saya perlu juga terus dijelaskan kepada mereka bahwa ayah dan ibu belum menemukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah, sehingga ayah dan ibu belum bisa berkomunikasi atau bahkan tidur sekamar atau tinggal serumah lagi.

Lalu bagaimana jika kita sebagai orang tua tak kunjung menemukan resolusi konflik yang tepat dan harus memutuskan untuk berpisah? Pertama, korban pertama atas perpisahan adalah anak-anak, tapi memang saya pun sadar, ketika dipaksakan bersama ketika sudah sulit bersama, maka ini dikhawatirkan akan memperburuk suasana. Hanya, penjelasan yang tepat mengapa ayah dan ibunya tidak bisa tinggal bersama perlu dilakukan dan persiapan bagaimana tetap mengasuh bersama walau tidak hidup bersama pun perlu dipersiapkan dengan matang. Bagaimanapun, pengasuhan dan kehadiran figur ayah atau ibu bagi anak tidak bisa dikurangi karena perpisahan.

Sekali lagi, pertengkaran kadang kala tidak bisa dihindari, tapi bagaimana menghadapinya itu yang terpenting.

Selamat menikmati parenting, teman-teman!

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s