Storage Hati

Beberapa hari lalu salah seorang teman dekat saya curhat habis-habisan tentang gadis yang dia cintai. Gadis yang menginspirasinya banyak hal dan memberinya pengalaman mencintai yang berbeda dari sebelumnya. Namun sayang, ia harus merelakan kenyataan bahwa gadis tersebut saat ini belum bisa membalas cinta teman saya itu.

Patah hati. Iya, dia patah hati.

Setelah menghibur dan menjadi telinganya, setelah membalas ratusan chat, dan mendengarkan seluruh ceritanya, akhirnya saya mengatakan “Semakin sering patah hati, insyaa Allaah akan semakin cepat move on” tentunya dengan diiringi tawa. Ya, saya mengatakan demikian setelah beberapa hari dari kejadian dan setelah saya pastikan teman saya sudah bisa diajak bercanda.
Bagi saya, ada istilah resisten patah hati. Pilunya patah hati akibat berada pada status quo akan terasa cepat sekali terobati karena saya pernah mengalami patah hati yang lebih dari itu. Gagal beberapa kali dalam berhubungan, membuat saya berpikir, “Patah hati dari dulu ya begitu-begitu aja, nyesek, sedih, kecewa, bahkan ada marah, tapi ya bagaimana? Diratapi atau tidak, kondisinya ya tetap begitu, si dia mungkin memang sudah tidak nyaman dengan saya. Yang perlu kita lakukan ya jalan aja terus, toh Tuhan menciptakan ciptaan-Nya dengan begitu sempurna. Di depan, kita pasti akan dipertemukan lagi dengan hal bahagia lain”.

Gilaaa.. sama patah hati orang ngegampangin banget, Dith! Tenang, saya (akan) mengatakan demikian hanya pada orang-orang yang sudah hafal bagaimana mulut saya, hafal bagaimana simpelnya pikiran saya, dan tentunya saat orang-orang tersebut sudah melewati masa ‘berkabung’-nya.

Resisten patah hati bagi saya adalah ketika patah hati tidak lagi mempengaruhi banyak kehidupan kita. Ibarat bakteri atau virus yang diserang oleh antibiotik, kalau terlalu keseringan kan si virus atau bakteri itu akan kebal. Sama kayak kita, keseringan patah hati, ya hati kita juga kebal, pikirku. 😆✌

“Hati aku itu udah kayak mentok aja sama dia. Full heart“, begitu kata teman saya. Bagi saya, hati itu beruang-ruang. Itulah manusia, sampai urusan hati pun dinamis. Mungkin iya dia saat ini menempati ruang hati lebih banyak, tapi saya yakin, sekat ruang-ruang itu portable, bisa berubah. Kuncinya? Waktu dan mau.

Storage hati kita gak kayak storage HP. Ada limitnya. Atau orang-orang yang ada di hati gak seperti file-file yang kita simpan. Bisa dihapus dengan mudahnya atau harus dihapus dulu untuk menyimpan file yang baru. Saya sih percaya, ketika orang baru hadir, mungkin orang lama masih ada di satu ruang, mungkin ruang yang kecil, tapi ada, terlebih jika kita punya kenangan yang signifikan di memori. Soal seberapa besar dia menempati ruang, itu soal waktu dan seberapa bermakna buat kita.

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s