Menyoal Poligami

Baru-baru ini dunia Instagram dihebohkan oleh curhatan istri penyanyi religi -hayoo siapaa 😂- yang baru saja mendapatkan kenyataan suaminya berpoligami dengan backing vocal. Pembahasan mengenai poligami kembali mencuat. Pasti, pro-kontra ramai menghiasi. Yang pro kebanyakan membawa dalih sunnah dan dihalalkan agama, sedang yang kontra pasti menuntut keadilan dan perasaan si istri. Menurut saya, bisa jadi semua dalih benar dengan versinya sendiri.

Iya, agama Islam memberikan kesempatan berpoligami maksimal 4 orang istri. Dibanding berzina, kan? Iya, kalau laki-laki itu cenderung lebih lama masa seksual aktifnya dibanding perempuan. Dibanding ‘jajan’, kan? Bahkan di suatu seminar tentang hypersexual di Bandung yang saya ikuti dulu, pemateri menganalogikan ‘kemauan’ dan ‘kemampuan’ laki-laki dengan jari. Caranya, silakan tempelkan seluruh ujung jari tangan, dimana telapak tangan menghadap ke permukaan. Setiap jari dianalogikan sebagai kondisi laki-laki sesuai usia. Jempol dianalogikan sebagai laki-laki usia 20an, telunjuk 30an, jari tengah 40an, jari manis 50an, dan kelingking 60an ke atas. Jari yang terangkat ibarat kemampuan ereksi dari laki-laki. Jadi kalau pakai analogi itu, saat usia 50an saja rata-rata laki-laki mengalami kesulitan ereksi, tapi setelah itu mereka akan bisa lagi, katanya. Ya begitulah, silakan dicoba.

Oke, maksud saya menulis ini saya ingin menyuarakan isi pikiran saya tentang poligami, anggap saja saya sedang menuliskan surat terbuka untuk suami saya kelak 🙈

Hai Suami (kelak),

Pembahasan mengenai poligami saya pastikan sudah kita bicarakan sebelum menikah. Tapi saya mau mengingatkanmu lagi. Iya, saya berulang kali bilang bahwa saya tidak anti poligami. Saya tidak mengharamkan poligami. Poligami tidak jauh dan juga tidak begitu dekat dengan saya. Kakek buyut saya menikah 5 kali, 4 diantaranya dimadu. Hanya ibu dari nenek saya saja yang tidak dimadu. Beliau keburu meninggal. Kemudian nenek saya yang besar bersama ibu tiri dan ayah yang berpoligami pada akhirnya bernasibkan suami yang juga poligami. Bahkan mungkin lebih parah. Dia mengalami depresi. Jadi, poligami itu tidak asing kan di keluarga saya?

Suami (kelak), jika suatu hari ada pikiran untuk berpoligami dan kau bilang padaku karena ini sunnah. Bolehkah saya memintamu untuk mengingat kembali amalan wajibmu? Sudah tunaikah semuanya? Bolehkah saya memintamu mengurutkan semua amalan sunnah lain? Sudahkah kau tunaikan pula? Ah, saya hanya fokus ke kamu, ya? Ingat juga tentang saya. Sudahkah kau lihat saya sabar dengan anak-anak, ipar, atau mertua? Orang-orang yang ada hasil pernikahan kita. Sudahkah kau lihat saya ikhlas berbagi dengan kerabat, sahabat, dan tetangga? Jangan sampai untuk hal kecil saja saya masih pelit dan banyak gak ikhlasnya, bagaimana dengan berbagi kamu yang amat besar artinya?

Suami (kelak), jika kamu kira urusan menikah lagi adalah hal tentang keikhlasan dan izinku, biarlah itu jadi urusanku. Tapi ada urusan yang perlu kita uruskan bersama: mental dan kesiapan anak-anak. Karena sering kali saya melihat, ibu yang dipoligami fokus pada pengobatan luka hatinya dan ayah yang berpoligami fokus pada meyakinkan istrinya. Mereka juga manusia punya rasa, saya hanya takut tak mampu menjelaskan secara objektif kepada mereka. Saya takut saya terlalu emosional. Saya takut karena saya jadi tak fokus, mereka terlantar. Bukankah itu pelanggaran hak mereka sebagai anak? Ah, lebih lagi saya takut saya jadi tak kontrol karena terlalu sibuk dengan perasaan tak rela saya dimadu dan saya lampiaskan kepada mereka. Saya membentaknya, mengabaikannya, mengomel di depannya, atau menjelek-jelekkan kamu di hadapannya. Saya takut dengan begitu saya merusak figur kamu sebagai ayahnya atau membuatnya membuat jarak dengan saya, padahal kita ini significant others buat mereka.

Suami (kelak), saya tak akan membahas keadilan. Saya takut tak akan pernah puas menuntut keadilan. Jika keadilan itu soal kuantitas, saya tahu kamu bukan kalkulator yang membagi dengan sangat akurat. Jika keadilah itu soal kualitas, apalagi, saya tak tahu indikatornya bagaimana. Kepuasan? Saya rasa kepuasan itu ibarat meminum air laut, manusia tak pernah puas. Mungkin kamu saya miliki sendiri saja masih ada gak puasnya #eehh

Suami (kelak), jika kamu berdalih bahwa kamu perlu menyelamatkan populasi wanita, coba cek, sampai tulisan ini saya tulis, persentase wanita dan pria di Indonesia lebih banyak prianya. Ini secara data BPS loh. 100:110. Jika kamu ingin menyelamatkan para janda, coba cek sejarah Nabi atau pada tahun 700an Masehi. Janda yang Nabi dan sahabatnya nikahi itu janda-janda yang ditinggal wafat suaminya berperang atau untuk menyelamatkan akidahnya karena suami bukan Islam. Nah, apakah negara kita sedang darurat janda karena peperangan? Dimana perangnya? Mungkin ada beritanya yang saya lewatkan. Oiya, mungkin zaman dulu, tahun 600-700an, zamannya Nabi dan sahabat, wanita-wanita masih belum bebas berkarya, janda-janda itu kesulitan memenuhi kebutuhannya, sehingga perlu ditolong dan diangkat derajatnya melalui pernikahan. Nah, sekarang coba bandingkan dengan tahun 2017 ini, revolusi terjadi dimana-mana, bukan? Dunia semakin memperluas porsi wanita. Jadi, apakah masih relevan?

Ah, suami (kelak), maafkan saya yang emosional dan kurang empati dengan kebutuhanmu. Jika kamu ingin saya sabar dengan poligami, berikan saya contoh nyata darimu sabar dari hasrat menikah lagi, sabar dari pesona wanita yang lebih segar. Jika kau ingin saya ikhlas menerima madu, berikan saya contoh nyata darimu keikhlasanmu mendapatiku yang sudah berbeda dari saat kau nikahi dulu. Tapi jika kau sudah dapatiku sebagai manusia penuh sabar, ikhlas berbagi, dan kondisi memang seperti saat izin agama soal poligami itu hadir, maka nikahilah 2, 3, atau 4 istri.

Nah, ini di atas contoh obrolan saya kelak. Hahaha.. Sekali lagi, ini alasan subjektif saya. Jika boleh mengutip dialog dalam sebuah novel, “poligami itu bagi saya ibarat jengkol. Hukumnya mubah, boleh dimakan, hanya saja saya tak suka baunya”.

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s