Tentang yang ‘Merdeka’ di Hari Kemerdekaan

Dua tahun yang lalu, saat saya masih menjadi guru di daerah yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota, tepat di hari kemerdekaan, Enin ‘merdeka’. Merdeka dari sakitnya yang sudah menemaninya sejak 2004 dan merdeka dari segala kewajibannya di dunia.

Sinyal telepon yang tak muncul satu pun sejak sore hari di tanggal 16 membuat saya harus mengikhlaskan diri mengetahui kepulangannya saat matahari sudah terbit, saat handuk sudah saya letakkan di pundak dan akan bersiap menuju lapangan sekolah, dan saat Enin sudah sempurna terpendam dalam bumi. 

Lemas, seperti separuh jiwa lenyap. Bingung, seperti anak ayam kehilangan induknya. Antara saya ingin memutuskan kembali duduk dan tergugu menangisi kepulangannya yang tanpa saya di sampingnya atau tetap melanjutkan langkah menuju kamar mandi.

Didikannya tentang menyelesaikan apa yang sudah dimulai dan tetap kuat menghadapi hal yang pasti, saat itu nyata dalam diri saya. Saya berdiri menghormat takjim ketika bendera perlahan dinaikkan oleh anak-anak yang yang sudah saya latih 8 bulan terakhir. Saya menyambut sambutan puluhan senyum bocah-bocah yang bersemangat merayakan kemerdekaan dengan upacara bendera. Tidak, saya tidak merasa kuat mendapatkan kabar ini, bahkan saya sebenarnya ingin menangis sejadi-jadinya melepaskan kesedihan dan kehilangan itu.

25 tahun hidup bersamanya, tentu banyak sekali yang saya ingat, termasuk kata-katanya saat saya sedih saat kepulangan Anjung,

“Ditangisi atau tidak, itu tetap saja terjadi. Kamu ikhlaskan atau tidak, dia tetap saja tidak akan kembali. Doakan saja.”

Kalimat itu seolah diputar berulang-ulang saat itu. Saya mengurung diri di kamar dan tidak ikut upacara pun, Enin tetap tidak bisa lagi saya peluk.

Menyesali keberadaan saya yang jauh darinya, itu tak akan membuatnya kembali.

Innalillaahi wainna ilahi rajiun

Sampai detik ini pun saya masih ingat semua ekspresinya. Ekspresi dia tertawa, marah, sedih, atau potongan-potongan obrolan kami di sofa depan atau saat saya menggosok punggung dan memandikannya.

“Cu, jika Enin meninggal, tolong mandikan. Kalau sama orang lain mah malu”

“Cu, kalau kamu tidak mampu mengerjakan ibadah lain, Enin cuma titip shalat 5 waktu, karena itu yang bisa menjaga hidupmu dengan sabar, syukur, waras, dan mawas”

Ya, Enin adalah orang yang saya tahu mengerjakan sendiri apa yang dia katakan pada orang lain. Dia mencatat dan membayar sendiri shalatnya jika sakit membuatnya tak mampu melaksanakan saat ia cukup sehat.

Enin, adalah sosok yang selalu peduli tak peduli apakah ia sedang marah atau tidak. Seorang pengingat yang sangat baik yang sering membuat orang-orang merasa berharga. Ingat banyak hal tentang orang yang menjadi lawan bicaranya. Bahkan ia selalu ingat orang yang belum dilihatnya, termasuk teman-teman kuliah saya beserta asal daerahnya.

Oiya, perhatiannya juga tak melulu pada apa yang orang sampaikan langsung padanya. Contohnya saat saya, Enin, dan Aci nonton bareng Persib di suatu sore di awal musim liga.

“Sekarang mah Persib mainnya tanpa Gonzales, Markus, sama si Eka Ramdani, ya?”

Saat itu saya kaget betul, bagaimana ia bisa tahu bahwa mereka sudah tidak main lagi di Persib musim itu. Spontan saya menjawab, “Kok Enin tahu?”

“Karena sebelum pergi mereka pamit dulu sama Enin”, jawab Aci becanda diiringi tawa.

Rupanya ia hanya mendengar sekilas di acara berita olah raga pagi hari. Padahal saya tahu persis, walaupun ia sering menemani Aci nonton Persib, ia sebenarnya tidak paham permainan bola. Penglihatannya pun sudah tidak begitu jelas.

Ya, Enin memang sudah berpulang, saya bahkan masih sangat sedih jika menyadari hal itu, tapi diterima atau tidak ia tak akan kembali. Saya hanya punya memori tentangnya, memori baik yang akan saya jaga, walaupun saya mungkin bukan pengingat yang sebaik dirinya.

Allaahumma ‘ghfirlahaa warhamha waafihi wafuanha

Semoga kelak saya kembali menemuimu dalam kebahagiaan tanpa akhir.

20170817_102038
Enin on my sketch

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s