Memahami Status Quo

Disclaimer dululah, saya tidak akan membahas status quo dalam istilah perpolitikan atau status negara, tapi status quo dalam relasi antara laki-laki dan perempuan, yang artinya sama-sama tidak ada kemajuan, stagnan, statis, gak ada perubahan.

Menjalani relasi dengan lawan jenis yang bukan temenan biasa tapi disebut pacaran pun bukan, mungkin banyak yang mengalami. Ada yang menikmati dan akhirnya “jalani saja”, ada juga yang gemas sendiri. Mau tanya dia nganggap apa takut kecewa, tapi dipendam sendiri juga bikin mangkel hati.

Saya mencoba memahaminya dari sudut pandang saya. Pertama memang yang harus dilakukan adalah kita sendiri harus tahu ruang lingkup dan sejauh apa pertemanan atau persahabatan antara lawan jenis. Indikator ini subjektif memang, setiap orang punya batasannya sendiri. Kedua, mau gak mau ya kita mesti sampaikan ruang lingkup dan batasan itu sama dia. Kasarnya, dia sedang berelasi dengan kita, ya mau gak mau dia juga harus tahu aturan main relasi dengan kita, hehe.

Nah, kalau dia pun sudah tahu sejauh apa batasannya dan rupanya relasi yang terjadi ada di ‘zona abu-abu’, disebut teman jauh dari gaya relasi berteman, disebut sahabat kita juga ngerasa ini bukan hanya sekedar sahabat, tapi disebut pacar juga tidak ada  agreement menjalani relasi macam itu. Apalagi aturan main saya ya, kalau gak teman, ya pacar. Haha. Karena bagi saya, tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan. That’s all.

Menjalani hubungan abu-abu bahkan sampai berlarut-larut menurut saya itu status quo. Saling nyaman, saling bergantung, tapi gak jelas tujuannya apa. Hanya mencari kenyamanan saja? Sampai kapan?

Seperti yang sudah saya sebut, saya mencoba memahami status quo  seperti ini. Mungkin bagi penganut dan pelaku yang menjalani ini (baca: yang tidak merasa terganggu), ini bukan suatu masalah. Mereka mungkin berpikir, “Saya jelas kok, saya nyaman bercerita sama dia. Saya nyaman menghabiskan banyak waktu sama dia”. Ujung-ujungnya kata “sahabat”-lah yang mereka pakai untuk mendefinisikan relasi seperti apa. Ya, term  “sahabat” ini adalah kata paling aman, saya pikir. Kata yang bisa tetap mempertahankan kenyamanan yang sudah dirasakan dan kata yang paling sopan sebagai penghargaan pada lawan dalam relasinya.

Hmm.. status quo juga status yang diambil dimana orang-orang yang masih merasa ragu atau bahkan sebenarnya sudah memprediksikan bahwa jika mereka menaikkan level hubungan, maka ia akan menemui resiko-resiko, tanggung jawab, atau hal lain yang merugikan, tapi sulit melepas benefit kenyamanan yang sudah didapat.

So, jika siapapun menganggap yang menikmati status quo itu jahat, mungkin bisa dipikirkan kemungkinan bahwa baginya itu bukan kejahatan. Toh bagi mereka ini adalah pilihan tepat, dibanding menaikkan status dan akan saling menyakiti.

Jika siapapun menganggap yang terjebak status quo itu bodoh membiarkan dirinya ada disana, mungkin coba dipikirkan bahwa banyak sekali orang yang pernah mengalami itu, hanya waktu bertahannya saja yang beragam.

Di satu sisi status quo memberikan kenyamanan, tapi pertimbangkanlah, bahwa kenyamanan itu semu.

Good bye, Status Quo!

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s