Menyoal Poligami

Baru-baru ini dunia Instagram dihebohkan oleh curhatan istri penyanyi religi -hayoo siapaa ūüėā- yang baru saja mendapatkan kenyataan suaminya berpoligami dengan backing vocal. Pembahasan mengenai poligami kembali mencuat. Pasti, pro-kontra ramai menghiasi. Yang pro kebanyakan membawa dalih sunnah dan dihalalkan agama, sedang yang kontra pasti menuntut keadilan dan perasaan si istri. Menurut saya, bisa jadi semua dalih benar dengan versinya sendiri.

Iya, agama Islam memberikan kesempatan berpoligami maksimal 4 orang istri. Dibanding berzina, kan? Iya, kalau laki-laki itu cenderung lebih lama masa seksual aktifnya dibanding perempuan. Dibanding ‘jajan’, kan? Continue reading “Menyoal Poligami”

Advertisements

Tentang yang ‘Merdeka’ di Hari Kemerdekaan

Dua tahun yang lalu, saat saya masih menjadi guru di daerah yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota, tepat di hari kemerdekaan, Enin ‘merdeka’. Merdeka dari sakitnya yang sudah menemaninya sejak 2004 dan merdeka dari segala kewajibannya di dunia.

Sinyal telepon yang tak muncul satu pun sejak sore hari di tanggal 16 membuat saya harus mengikhlaskan diri mengetahui kepulangannya saat matahari sudah terbit, saat handuk sudah saya letakkan di pundak dan akan bersiap menuju lapangan sekolah, dan saat Enin sudah sempurna terpendam dalam bumi.¬† Continue reading “Tentang yang ‘Merdeka’ di Hari Kemerdekaan”

Memahami Status Quo

Disclaimer dululah, saya tidak akan membahas status quo dalam istilah perpolitikan atau status negara, tapi status quo dalam relasi antara laki-laki dan perempuan, yang artinya sama-sama tidak ada kemajuan, stagnan, statis, gak ada perubahan.

Menjalani relasi dengan lawan jenis yang bukan temenan biasa tapi disebut pacaran pun bukan, mungkin banyak yang mengalami. Ada yang menikmati dan akhirnya “jalani saja”, ada juga yang gemas sendiri. Mau tanya dia nganggap apa takut kecewa, tapi dipendam sendiri juga bikin mangkel hati. Continue reading “Memahami Status Quo”