Mengapa Anak Mem-bully?

Sambil menunggu commuter line dan memakan buah jeruk pemberian ibu di samping, saya ingin mengulas tentang fenomena yang lagi heboh, bullying. Baru-baru ini warganet dihebohkan dengan dua video sekaligus, yang satu aksi bullying yang dilakukan remaja berseragam putih-biru, dan satu lagi bullying yang dilakukan mahasiswa sebuah kampus. Pertama kali lihat respons saya sih miris, ngeri, dan mencoba membayangkan apa yang pernah dialami si pelaku di rumah, apa yang ada di pikiran si pelaku dan tentunya bagaimana si korban setelah kejadian itu.

Bullying is a form of aggressive behavior in which someone intentionally and repeatedly causes another person injury or discomfort. Bullying can take the form of physical contact, words or more subtle actions (www.apa.org).

Jadi, bullying itu perilaku agresif yang disengaja, dilakukan berulang, membuat orang yang dibully tidak nyaman, terdesak, bahkan beberapa literatur menyebutkan bahwa bullying terjadi ketika ada ketidakseimbangan kekuatan antara si pembully dan korban bully, baik secara fisik atau kekuatan untuk mengintimidasi, sehingga si korban tidak kuasa, membalas.

Lantas apa yang membuat seseorang -dalam hal ini saya akan lebih menyoroti kepada perilaku bullying yang dilakukan anak-anak-? Beberapa saya ambil dari referensi online yang saya baca, baik di Psychology Today, bullying.co.uk, Urbana Middle School, dan apa.org.

Want to get noticed

Ada pikiran bahwa ketika kita menekan orang lain, memaksanya melakukan apa yang diinginkan, maka ia akan mendapatkan perhatian. Ketika banyak yang menyebut namanya, maka ia semakin popular, dan bisa jadi masuk dalam persepsinya bahwa itu keren. Orang akan mengenalnya sebagai orang yang memiliki pengaruh. Mengapa ia bisa demikian? Karena mungkin di lingkungan utamanya ia tidak mendapatkan itu. Anak itu mungkin sering merasa terabaikan di rumah. Tapi kaaaann kami sebagai orang tua sudah memberikan perhatian yang full? Contohnya begini deh, ketika seorang anak memanggil orang tuanya buat cerita atau melaporkan sesuatu, kemudia orang tuanya pas banget lagi sibuk, “Nanti ya sayang, mama lagi ada kerjaan..”. Gak masalah dengan berkata demikian, tapi menjadi masalah ketika orang tua tidak segera menanyakan apa yang mau disampaikan segera setelah urusan si mama selesai. Kalau hal ini terus berulang, ini bisa jadi menjadi masalah walaupun orang tua sudah berusaha mengompensasi dengan hal lain.

They have problem at home

Yap, anak yang memiliki masalah di rumah dan belum terselesaikan, sehingga menyisakan rasa frustasi bahkan kemarahan, punya peluang untuk meluapkan rasa marahnya di luar, salah satunya dengan menekan teman sebayanya yang dirasa ‘lemah’. Pun dengan anak dengan tuntutan besar di rumah, dimana tuntutan itu pastinya di luar batas kemampuannya, tanpa dibantu bagaimana cara mencapainya, serta mengungkapkan apa yang dirasakan. So, peka terhadap kemampuan, terhadap setiap ekspresi, dan bantulah ia untuk belajar menghadapi masalah, ajak diskusi bagaimana mencari solusi, bukan hanya mendikte hasil yang mesti dicapai.

Lack of adult supervision

Masa anak adalah masa eksplorasi dan belajar banyak hal. Sebagai orang dewasa, kita memang perlu memberikan ruang anak belajar sendiri, namun bukan berarti tanpa supervisi, bukan? Anak belajar bagaimana bersosialisasi, anak belajar bagaimana bekerja sama, meminta bantuan teman, bagaimana mengungkapkan pikiran dan perasaan kepada teman sebaya, dan belajar bagaimana memimpin dan memengaruhi. Tugas orang dewasa adalah bagaimana cara yang dipakainya itu tepat. Meminta bantuan teman apakah harus dengan memaksa dan menggunakan perilaku agresif? Tentu tidak, bukan? Kurangnya pengawasan ini membuat anak akan berpikir, “Oh, ini tidak masalah”.

Lack of Empathy

Empati dimulai dari pengenalan emosi dan perasaan diri, baru kemudian membayangkan bagaimana perasaan orang lain. Bantu anak mendefinisikan perasaannya, bagaimana bahagia, bangga, sedih, kecewa, marah, kesal, dan sebagainya. Ketika ia terlatih dan paham betul apa dan bagaimana perasaannya, ia akan mulai membayangkan apa yang dirasakan orang lain, sehingga perilaku membully bisa dihindari, “Oh, jika saya mengejek orang lain, orang itu akan sakit hati. Orang itu akan sedih, jika sedih bisa menangis. Menangis itu kan capek..”

Focus on materials

“Eh, dia cantik ya, Dek? Kulitnya putih mulus, rambutnya hitam lurus”, “Dua hebat ya? Ayahnya sukses, kerjaannya bagus lagi Dek..”, “Ih, anak mama hebat banget sih bisa matchingi-in baju”, atau “Kak, lihat deh penampilannya cupu banget ya?”. Dengan terus-terusan membicarakan dan mengapresiasi hal yang sifatnya material, maka anak akan belajar bahwa yang keren itu yang punya harta, yang keren itu yang cantik berkulit mulus, berambut lurus, yang pintar mix and match baju, dan akan muncul pemahaman baru bahwa yang tidak demikian itu buruk, aib, memalukan, bahkan mungkin nista. Padahal komen di atas bisa saja tetap disampaikan tetapi dengan menyampaikan pula apresiasi pada hal esensial seperti sikap, perilaku, atau potensi bisa juga dibawa, bukan? Mungkin bisa dengan “Kak, dia semakin cantik ya dengan sikapnya yang ramah dan suka berteman dengan siapa pun”.

Well, ini hanya sebagian sebab kenaoa seorang anak bisa menjadi pembully, bisa memang gak akan kejadian, bisa juga jadi bentuk perilaku negatif lain. Intinya, begitulah manusia, unik dan dinamis, pengalaman yang sama belum tentu akan menghasilkan perilaku yang sama. Pokoknya, apapun yang terjadi pada anak, cek dulu apa yang terjadi di rumah.

Last but not least, saya tak maksud menggurui, ini hanya refleksi sekaligus bekal saya, doakan ya. Doakan apa? Pokoknya doakan aja yang baik-baik 🙈. Lain kali saya sambung lagi, KRL saya sudah samoai di Stasiun Cikini.

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s