Tanyakan Kabar Sahabatmu

“Tahu gak sih? Sekarang gue bla bla bla”

“Aku pengen cerita deeehh.. aku lagi kesel banget, bla bla bla”

Kemudian cerita itu panjang kali lebar kali tinggi. Bahkan berjam-jam. Cerita setiap detailnya.

Sering mengalami demikian? Jelas. Kita makhluk sosial. Rata-rata pasti punya teman dekat untuk berbagi cerita. Hingga suatu malam, ketika saya dan teman saya sedang terhubung dalam.percakapan via telepon. Saya senang mendengarkan setiap detail ceritanya. Setelah dia selesai, dia nyeletuk bilang, “Lho kok gue egois ya? Dari tadi cerita mulu, ampe gak nanya cerita lo gimana”. Deg. Saat itu saya langsung refleksi keingetan diri sendiri yang juga suka cerita sama teman, mencari tempat mengeluarkan unek-unek, agar diri ini merasa lega dan plong, agar diri ini mendapatkan alternatif solusi dan sudut pandang lain. Setelah itu, lupa dengan kondisi orang yang ada di depan kita.

Saat itu saya sedang dalam kondisi oke, sehingga fine-fine  saja tak ditanyai kabar juga. Tapi bagaimana jika si pendengar kita sebenarnya tengah dalam kondisi yang juga membutuhkan teman berbagi cerita, namun hanya karena kita yang lebih dulu menge- take dia, jadinya dia menahan dulu keinginannya.

Iya, sering kali kita, sebenarnya mungkin saya, egois dan fokus bagaimana saya merasa plong setelah semua unek-unek diceritakan. Saya sering kali hanya fokus bagaimana mendapatkan solusi dan alternatif sudut pandang dari masalah saya. Saya sering kali lupa bagaimana kondisi orang yang sudah mau membuka lebar telinga, hati, pikiran, bahkan memberikan ruang dan waktunya untuk mendengarkan dan menjadi wadah luapan emosi saya. Saya lupa untuk segera bertanya, “Terus lo gimana kabarnya? Apa yang sedang lo rasain?”

Walaupun mungkin kita saat itu tidak cukup oke menjadi pendengar yang baik, setidaknya kita sudah menunjukkan kepedulian bagi mereka, bahwa kita ingin mereka sebenernya oke, bahwa kita juga bisa saling berbagi cerita. Ya, karena dengan begitu kita sedang menghargai orang yang telah memberikan telinga, hati, pikiran, bahkan ruang dan waktunya untuk menampung ‘sampah-sampah’ kita.

So, use things and value people.

Salam,

DC.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s