Nangorku Kini

Setelah… Entah kapan terakhir kali saya kesini, ke Jatinangor, tempat saya ditempa, menuntut ilmu dan bercinta *eh, ini mah salah satu lirik mars fakultas saya*, akhirnya saya datang kembali.

Seberhentinya Damri di Pangdam (Pangkalan Damri), saya langsung menuju masjid Unpad yang entah apa namanya 🙈 dulu kan Ibnu Siena ya yang di atas, nah kalau yang bekas GOR ini gak tau namanya apa. Bentuknya sih gak kayak mesjid pada umumnya yang berkubah ya, eh tapi udah banyak ding mesjid yang unik-unik sekarang mah.

15232789656_9ea2e396b3_b
Ternyata namanya Bale Aweuhan (Masjid Raya Unpad)  😀 (source: Google)

Mendirikan shalat Dhuhur di Bale Aweuhan, yang cukup luas dan nyaman, kemudian menuju suatu tempat yang saya sangat berhasrat sekali. Ya, hasrat pertama yang ingin saya penuhi yaitu makan nasi TO Tasik! Haha.. Padahal saya tinggal pulang aja ya? Tapi entah, nasi TO di Ciseke Besar ini begitu gurih, kadar micin dan rasa adiktifnya kuat sekali, haha..

Seperti biasa (biasanya zaman dulu), jam 13.39 menunya banyak yang habis, hanya tahu, tempe, usus, telor, dan kepala ayam saja lauknya. Tak apa, yang enak itu kan nasi TO dan sambalnya yang agak asem, serta kol goreng. Itu pun cukup memuaskan perut keroncongan saya.

Oke, rasanya cukup saya cerita tentang nasi TO, nanti saya jadi food blogger jadinya, hehe.

Saya mau cerita tentang Jatinangor, atau Nangor. Di balik riangnya saya ketika menginjakkan kaki kembali, ada sesak juga, sedikit tapi, tenang aja haha.. Gunung Geulis yang menjulang, yang menyambut orang-orang yang datang dari arah Bandung atau Jakarta, kini ada tebing beton yang tak kalah gagah menyambut.

IMG20170519154716
Source : Dokumentasi pribadi

Rupanya, bukan hanya satu saja si tebing tinggi itu, sudah ada beberapa yang tertanam di tanah Nangor. Bisa jadi ini berarti Nangor sudah menjadi tanah menarik untuk inverstor, bisa jadi juga… Ah, sudahlah.

Oiya, tempat nongkrong, baik saya ralat, tempat asyik buat ngerjain skripsi selain di kamar atau perpus, juga sudah banyak sekali (baca: kafe kekinian). Dari penampakan sih asyik ya, entah kalau masuk, hehe..

Perubahalain yang saya rasa dari Unpad adalah rute angkot gratis, haha.. Ada angkot gratis yang melintas dari arah depan bawah Fakultas Psikologi. Ini sih yang membuat saya bingung 🙈

Ah, saya lupa. Saya ke Nangor bersama teman sesama Pengajar Muda juga, yang kebetulan alumni Unpad. Sebenarnya berangkatnya gak bareng sih, saya duluan, ketemu di gerbang. Kami sempat ke fakultasnya, Fakultas Ilmu Komunikasi. Disana ia cerita, dulu di tempat itu (sebuah taman di tengah fakultas), banyak sekali aktivitas mahasiswa. Apalagi hari Jumat, tapi kali itu memang terlihat sepi. Pikir saya, mungkin karena Jumat, atau minggu menjelang ujian.

Katanya, “Mungkin dulu hiburan kita ya kegiatan, sekarang hiburannya banyak. Banyak tempat nongkrong, di kosan juga jauh lebih nyaman dan banyak hiburannya”. Dan saya pun hanya manggut-manggut *maafkan ketidakjelasan respons saya* 🙈

Rasanya tak afdol jika saya tidak ke fakultas saya. Ternyata.. Apa yang terjadi di FIKOM, tak jauh beda dengan FAPSI. Sepi.

Saya pikir, “Oh iya, ya? Saya sudah lama sekali saya tidak ke Nangor. Nangor kini memang sangat jauh berbeda dengan Nangor dulu. Dan yang terjadi itu kepastian. Pasti berubah. Bukan zaman yang berubah, tapi yang menjalani zaman yang berubah. Saya pun berubah, dan ngeyelnya, saya memaksakan maunya saya ketika saya ke Nangor, semua masih sama kayak zaman saya.”

Oke, perubahan itu pasti ya, yang gak pasti itu jawaban harapan kita. #ishnaonsih

Salam,

DC, yang lagi nostalgia, duduk di tempat dulu biasa nunggu orang 🙊

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s