TemuTeman #2: Seni Mengalah

Sebenarnya sahabat yang saya temui pertama kali sejak liburan panjang ini ya Sofaa (tanpa huruf H dan dengan double A). Teman sebangku sejak kelas XI, sekelas tiga tahun, teman pulang bareng karena satu jalur angkot, dan sudah saya dengar namanya sejak SMP, jauh sebelum saya ketemu betulan dengannya. Yap, ternyata Sofaa itu teman SD-nya teman SMP saya, kebetulan dia suka cerita tentang Sofaa.

Anak ini sekarang sudah menikah dan memiliki anak laki-laki usia setahun lebih. Sofaa dulu masuk dalam jajaran “The Most Wanted Girl” di sekolah. Kayaknya hampir ada perwakilan kelas yang suka sama dia, bahkan sampai nembak. Orang bilang doi mirip Laudya Chyntia Bella. Yang sekelas aja ada Tedjo, Eki, Amang, dan Gilang, yang suka, belum kelas lain, haha.

Yang saya tahu Sofaa itu ekspresif. Kalau suka ya suka, kalau kegeeran ya keliatan, dia genuine menurut saya. Pernah suatu hari dia lagi jatuh cinta, sampai-sampai dia tak bisa menyembunyikannya dan senyam-senyum sendiri dalam angkot. Orang-orang yang ada di angkot pun ‘senyumin’ doi 😂, saya? Tutup muka 🙈

Saya menyaksikan kisah cinta dia, mulai dari anak SMA sebelah yang ganteng banget tapi pemalu, koko Tionghoa kelas sebelah, Gilang dengan segala dramanya, teman kuliah yang gak kalah drama, duda keren anak band yang ternyata masih ada hubungan keluarga dengan saya, pria dari tanah Ambon yang bela-belain datang ke Tasik, alumnus Gontor yang juga pacar masa kecilnya, pria santun yang dijodohkan oleh teman kerjanya, sampai yang jadi suaminya sekarang. Banyak ya? 🙊

Eits, jangan dulu mikir yang macam-macam tentang sahabat saya ini. Sejauh yang saya tahu, Sofaa adalah wanita yang paling setia dan sangat manut. Coba bayangkan ada gadis cantik plus setia! Ah, tapi itu tidak cukup buat para mantan Sofaa. Setidaknya mantan yang paling lama dan berkesan. Mereka semua mengkhianati kesetiaan Sofaa dan menyalahkan karena Sofaa terlalu baik :roll:.

Dulu, saya suka gemas dengan Sofaa. Manut saja diatur sama pacarnya. Bahkan kadang itu tidak membuat Sofaa nyaman. Katanya, “kalau ini yang bisa bikin dia senang, ya gapapa, toh demi kebaikan hubungan kami juga”. Entah, pria yang lama berhubungan dan berkesan untuk Sofaa hampir semuanya cukup posesif dan beberapa emosional, setidaknya menurut pengamatan saya. 

Saat ini, pria yang dinikahinya pun cukup kurang sabar 😆 dia gak tahan jika anak menangis dan cepat tersulut emosi kalau rumah tidak beres. Sering kali ada kecenderungan nyalahin dan nyerahin ke Sofaa. Urusan rumah full urusan istri (ini berbeda yaa dengan kondisi Meonk 😂), tapi ya memang setiap hubungan pasti ada keunikan sendiri-sendiri. Toh selama Sofaa nyaman dan tak masalah ya bukan berarti hubungan Meonk ini lebih baik.

Yang ingin saya fokuskan cerita sekarang adalah bagaimana Sofaa menghadapi itu semua. Yang saya tahu, dia adalah sosok penjaga. Ingin menjaga semuanya. Kalaupun pada akhirnya semua tidak berjalan dengan yang diharapkan, ia pastikan bukan karena dia yang berulah, bukan pula karena dia yang menyerah. Yang bisa dia pastikan, inti pokok yang dia lakukan dalam menjaga adalah mengalah. Yup, termasuk saat menjalani rumah tangganya ini. Saat suami tidak tahan jika anak menangis atau rumah yang belum sempat dibereskan, ia tidak membalas omelan dengan balik mengomel dan menyalahkan. Ia memilih diam, mengalah, dan segera ‘menyingkirkan’ penyebab kemarahan suami. Menenangkan anak atau merapikan rumah.

Pernah saya bertanya, “Apa selalu tahan untuk tidak merespons?”. Jawabnya, “Pasti ada rasa ingin menjawab, tapi rasanya percuma kalau amarah dibalas teriakan. Syukurnya, dengan sikap yang diambil itu membuat dia segera meminta maaf sesaat setelah amarahnya reda”.

Ya, mungkin memang dengan menahan diri untuk tidak membalas omelan membuat yang mengomel tidak memperpanjang omelannya sehingga perseteruannya segera selesai. Padahal mungkin kalau saya yangmengalami, saya akan segera merespons bahwa urusan anak bukan hanya urusan istri, pun dengan rumah, dan itu saya yakin akan memperpanjang cekcok sehingga membuat yang marah merasa harus terus membuat ‘pertahanan’. Kata maaf? Mungkin akan lain kali, tidak seperti yang terjadi di keluarga kecil Sofaa. Untungnya Sofaa bukan saya 😂😂

Ya, menahan diri dan mengalah itu seperti seni, tidak semua orang berbakat dan Sofaa memang salah satu manusia yang memiliki bakat seni itu. Seni mengalah.

Tapi, bukan berarti yang tidak berbakat benar-benar tidak bisa melakukannya bukan?

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s