TemuTeman #1: Tentang Romantis

Liburan panjang yang saya dapatkan kali ini saya manfaatkan untuk bertemu dengan sahabat-sahabat dekat saya saat SMA. Akhir minggu di awal bulan April saya putuskan untuk melakukan perjalanan ke Kec. Sodonghilir, Kab. Tasikmalaya, sekitar 2 jam perjalanan. Ada sahabat saya disana. Saya sih biasa memanggilnya Meonk sejak dulu. Alasan saya manggil dia begitu karena dia sangat suka kucing dan saya lihat dulu dia mirip kucing 🙊 maksudnya manjah-manjah gimanaaa gitu 🐈🐈.

Dia cukup dekat dengan saya. Dulu saya sering di-booking-nya untuk menginap di kosan dia dan mengajarinya jika esok ulangan. Dia juga termasuk yang paling banyak ‘nyampah’, ah entah berapa banyak dosanya yang kusimpan dalam ingatan 😂. 

Saat ini ia sudah menikah dan memiliki seorang anak laki-laki berusia 3 tahun. Ia menikah dengan laki-laki yang sejak SMA dipacarinya. Laki-laki yang bertampang biasa saja tapi memiliki kesabaran luar biasa, setidaknya bukan menurut saya saja, banyak orang mengiyakan juga. Senja namanya. Eh ini bukan asal sebut saja ya, memang nama asli, kok 😁

Dulu, saat kelas X, Meonk dan Senja jadian. Banyak yang mendukung Meonk menerima Senja. Laki-laki yang sudah sangat mandiri dan sudah dewasa jauh sebelum waktunya. Eits, jangan mikir dewasa macam-macam. Sejak kecil ayahnya sudah meninggal dan meninggalkan banyak usaha, termasuk usaha travel Sodong-Tasik. Maka sejak SMP ia sudah mengurus usaha tersebut sejak kedua kakak perempuannya merantau ikut suami dan kuliah. Jadi, bayangkan anak SMP sudah mengurus beberapa armada trayek Tasik-Sodong. Ia memang tidak sendirian, ibunya pun turut serta mengurus. Sejak itu pula ia sudah tahu bagaimana sulitnya mencari nafkah, sudah tahu bagaimana berusaha.

Berbeda dengan Meonk, ia sejak kecil hidup (seperti) tak pernah susah. Segala kebutuhannya terpenuhi. Walaupun tinggal di daerah yang cukup jauh dari kota, tapi kehidupannya ‘ngota’ 🙊.

Oiya, saat pacaran sama Senja, Meonk tergoda cowok keturunan Tionghoa yang saat itu sekelas dengan kami, Kiki namanya. Padahal saat itu keduanya tengah jadian dengan pacar masing-masing, bahkan pacarnya si Kiki ini cantik banget dan anak popular di sekolah. Tapi ya namanya juga gejolak muda ya, mereka pun jadian. Saat ini saya pun masih ingat betapa dramanya mereka. Meonk yang kudu dilabrak dulu sama pacar si Kiki, bagaimana mereka yang awalnya sama-sama menyangkal, kemudian saling memutuskan pacar sebelumnya dan jadian dengan yang baru. Oh ya, sesaat setelah Senja diputusin, ia langsung melihat Meonk dijemput cowok barunya.

Entah, dulu itu saya percaya, jika didapatkan mudah, maka akan mudah pula hilangnya. Jika didapatkan dengan cara mengorbankan orang lain, maka mungkin suatu saat nanti kita yang dikorbankan. Si Kiki memutuskan Meonk karena tertarik dengan cewek yang lebih oke, katanya. Meonk? Balik lagi sama Senja. Tapi seingat saya memang tidak gampang, sih..

Alhamdulillaah mereka sampai menikah, walaupun perjalanan pacaran mereka juga tetap drama. Hmm, Meonknya sih yang drama. Sempat tertarik dengan (beberapa) pria lain, suka ngambek ala-ala gegara Senja tidak sering mengabulkan permintaannya, banyaklah.

Sekarang? Mereka bahagia. Unik memang pernikahan mereka. Senja yang tinggal di rumah, mengurus anak, dan mengurus (hampir semua) urusan domestik. Beruntung, pekerjaan Senja bisa dilakukan di rumah, sedangkan Meonk bekerja di puskesmas sebagai bidan.

Apa yang menarik dari mereka? Mereka masih tinggal di daerah yang masih cukup aneh jika suami jadi bapak rumah tangga. Sering juga sih Senja menyindir Meonk dengan nada becanda, tapi jadinya? Meonk suka tersinggung dan ngambek ala-ala 😂 dia bilang, “Aa teh gak nerima Neng apa adanya?” *Jiiirrr.. Drama! Atau ketika ‘penyakit’ impulsif Meonk kambuh. Ingin beli ini, ingin beli itu, saat itu juga, yang menurut Senja belum penting atau bahkan tidak penting sama sekali.

Sebenarnya kehidupan mereka cukup sempurna menurut saya. Pernikahan yang baru beberapa tahun tapi sudah memiliki kehidupan yang mapan, anak yang lucu, dan ada demokrasi dalam rumah tangga (walaupun untuk hal ini kadang mereka ribut juga sih 😂 tapi saya yakin, ini lebih ke tuntutan sosial *secara mereka tinggal di lingkungan keluarga suami, dan minta sedikit pengertiannya Meonk, minimal di depan mertualah 😂). Tapi ada satu hal yang sering dikeluhkan Meonk, Senja yang tidak romantis, menurutnya. Jarang ngasih surprise, jarang bilang sayang, menunjukkan romantisme dan kelekatan di depan publik, atau hal lain kayak gaya pacaran atau pasangan muda umumnya. Apalagi jika dia membandingkan dengan mantan atau pria lain yang dilihatnya. Tapi menurut saya Senja itu punya gaya romantisnya sendiri. Setidaknya dia selalu mengabulkan apa yang dimau istrinya, walaupun tidak saat itu, nunggu sampai waktunya tiba. Dia selalu butuh waktu untuk memperhitungkan banyak hal. Bahkan menyiapkan segala hal seperti air hangat untuk mandi Meonk pun itu bentuk romantismenya, loh. Dan yang menurut saya hal paling romantis yang pernah Senja lakukan adalah saat dia ingat istrinya ulang tahun dan menghadiahi dengan kue Spongebob 🙊

Ya, ngomongin soal romantis memang tidak melulu soal buket bunga mawar merah yang diletakkan di meja kerja di suatu pagi tanpa pemberitahuan, bukan dengan kecupan hangat setiap pagi, pun bukan melulu dengan dihujani ratusan puisi. Karena terkadang banyak sekali manusia yang tidak luwes melakukan hal-hal romantis seperti itu, tidak sedikit yang kaku hanya untuk mengatakan “sayang”. Karena romantis pasti punya caranya sendiri.

Salam,

DC.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s