#8 Orang Bermanfaat

Aku tahu, ketika jempolku tengah menekan-nekan tuts henpon, ia melirik lewat sudut matanya. Itulah, seseorang yang jika memiliki tatapan tajam sepertinya kurang ahli dalam hal melirik-lirik, mengintip atau curi-curi pandang.

“Kamu ngintip, ya?”, tanyaku. Ia gelagapan karena aksinya tertangkap basah.

“Hmm.. SMS dari siapa, sih?”, tanyanya balik dan membenarkan tuduhanku.

“Temenku, temen SD”

“Laki-laki?”

“Iyaa.”

“Sahabatmu?”

“Aku tak percaya adanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan sih Yan..”

“Itu sebab kau bilang dia teman?”

“Bisa jadi. Tapi memang dia teman, Yan”

“Dia pernah suka sama kamu?”

“Katanya iya, sejak SD.”

“Dia pernah bilang kalau dia suka?”

“Ini kenapa ya kok jadi melebar pertanyaannya?”, tanyaku kurang nyaman dengan caranya menginterogasi.

“Kita tidak ada kesepakatan untuk tidak membahas mantan, orang yang pernah suka, atau yang pernah kita suka, kan?”

Selama ini hubunganku dengannya penuh dengan aturan memang. Dia menginginkan kami sama-sama memberi tahu kegiatan hari ini apa, aku meminta dia untuk tidak ribet dengan urusan orang, dia yang memberikanku kebebasan jika mau membuka henponnya, atau aku yang memintanya membatasi kontak fisik dengan teman lawan jenisnya. Kalau ada yang belum terbahas, jika salah satu merasa perlu, maka kami akan meminta untuk dibahas, dengan catatan masing-masing kami sedang oke untuk membahas. Untuk pembahasan mantan, orang yang pernah suka, atau pernah kita sukai memang belum pernah. Karena ternyata masing-masing kami mengira masing-masing tidak akan membicarakannya. Rupanya, ia tidak menyampaikannya. Karena saat itu obrolan-obrolan kami penuh dengan obrolan tentang mimpi masa depan, bukan memori masa lalu. Dan aku pun mengira ia tak akan suka dan tertarik dengan pembahasan itu.

By the way, selama aku deket sama kamu, aku gak pernah tahu mantan kamu, boleh kan aku tahu?”, ia meminta dengan lembut, tidak seperti biasanya. “Bukan untuk apa-apa, ibarat ngendarain motor, terkadang kita perlu lihat spion, bukan?”

“Kamu mau tahu tentang Nugraha?”

“Siapa dia?”

“Temenku yang barusan SMS”

“Oo.. Terserah kamu”

“Iya, dia hanya teman SD bagiku. Tapi dia pernah bilang suka saat SMA dulu. Katanya, ia sudah suka sejak SD, hahaha.. Tapi aku gak pernah suka sama dia. Padahal dia baik, pinter, sopan, jago matematika, jago main catur, pinter main gitar, pinter karate, karya tulis ilmiah dia aja juara nasional, paket komplit untuk laki-laki remaja, haha..”

“Terus?”

“Gak apa-apa, sih. Saat ini dia udah punya pacar, juniornya.”

“Terus dia SMS kamu tanya apa?”

“Nanya-nanya ebook. Katanya, dimana nyari ebook gratis”

“Tanya kamu?”

“Iya. Aku pun gak paham kenapa nanya aku. Emang gak ada gitu ya di kampusnya yang bisa dia tanya”, aku pun mengungkapkan apa yang mungkin ada di dalam pikiran Ryan.

“Dia juga suka cerita apapun sama aku, Yan. Kalau kamu gak suka, nanti aku coba bilang sama dia”

“Gak pa-pa, wajar jika seorang mahasiswa psikologi banyak yang curhat, hehe..”

Sejak kejadian itu, obrolan tentang mantan atau orang yang pernah suka atau kami suka jadi hal biasa saja. Bahkan sering kali jadi bahan becandaan dan saling ledek. Seperti mantan dia yang gak ada yang cantik, maksudnya biasa saja, walaupun yang jadi gebetan banyak yang cantiknya kebangetan, haha.. Tapi untuk hal ini jadi bumerang. Itu artinya yang nerima dia yaaa begituuu.. Sudahlah, tak usah diteruskan.

“Yan, tahu gak? Kebanyakan dari laki-laki yang pernah dekat sama aku, biasanya mereka cuma numpang curhat aja loh. Cerita babibu, ngeluh ini itu, minta saran, bahkan numpahin kesedihannya atau minta dengerin kegalauannya. Katanya mereka percaya dan nyaman cerita sama aku. Entah karena memang pribadi aku, atau karena basic pendidikan yang tengah aku jalani. Aku kok jadi bingung bedain, ya? Hahaha”, curhatku suatu hati pada Ryan.

“Menurutmu, aku seperti laki-laki itu juga, gak?”

“Kamu merasa?”

“Apakah ketika mereka merasa senang atau terselesaikan urusannya mereka juga menghubungimu?”

“Ada yang iya, tapi banyak juga yang enggak. Apalagi kalau mereka sudah punya pacar, sibuk dengan orang barunya. Kadang aku merasa mereka pada kayak nyari tukang obat, ya? Kalau ngerasa sakit, ya nyari. Kalau udah sembuh, mana inget, hahaha”

“Aku gak tahu apa aku sama dengan mereka atau ngga, tapi aku pastikan aku pun ada saat aku lagi happy, kan?” 

Dalam hati, ya karena kamu pacarku, Yan. Tapi tidak kukatakan. Biarlah kujawab dengan senyum.

“Ya, mungkin itu artinya kamu manusia yang bermanfaat. Bukankah banyak orang yang berdoa agar menjadinkannya manusia yang bermanfaat bagi orang tua, nusa, bangsa, serta agama? Hahaha”, tambahnya lagi menghiburku. Mungkin maksudnya mau bilang ‘kamu lagi dimanfaatin mereka, Ya’. Hahaha.. Tapi biarlah, jadikan ini sebuah lelucon saja, pikirku.

“Kok kamu pinter sih?”

“Makanya kamu suka, kan?”, alis tebal itu digerak-gerakkannya.

“Hanya orang yang bermanfaat yang bisa dimanfaatkan, kan Yan?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s