Menertawakan Diri

Sekitar 12-13 tahun yang lalu saya berada di sebuah ruangan yang disebut kelas. Ada sekitar 40 manusia usia remaja, termasuk saya. Saat itu waktu matahari sudah sedikit lengser dari kepala. Seorang guru berusia 40 tahunan masih asyik berceramah tentang proses terjadinya bumi. Sementara banyak dari audience menguap.

“Jadi bumi itu terbentuk dari sebuah ledakan maha dahsyat yang terjadi jutaan tahun yang lalu, teori ini disebut Teori Big Bang”

Seorang teman yang duduk di kursi belakang menekan-nekan punggung saya dengan pulpen. Segera saya pun menoleh, rupanya itu panggilan bahwa ia ingin menyampaikan sebuah pesan melalui secarik kertas kecil.

Tha, coba dong tanyain si Bapak, gimana terbentuknya gunung yang menonjol, ada larva di dalamnya.

Rupanya ia meminta saya bertanya. Dalam hati, mengapa tidak ia sendiri saja yang bertanya? Mengapa harus saya yang menanyakan pertanyaannya? Memang, saat itu budaya bertanya masih belum tumbuh. Malu, segan, takut pertanyaannya bodoh, diketawain, dan banyak hal lain.

Saat itu saya sedang sangat malas bertanya. Ide nyeleneh dan iseng pun muncul. Di sisa kertas yang masih kosong, saya tuliskan apa yang muncul di kepala,

Yet, jangan nanya gitu. Kasian si Bapaknya. Coba liat, si Bapak paling umurnya 40an, sedangkan bumi sudah ada sejak jauh sebelum buyut dari buyut si Bapak lahir. Siapa yang bisa jamin informasi itu benar? Kalau ternyata informasi itu tidak benar, bohong namanya. Si Bapak yang ikut menyebarkan kebohongan akan mendapat dosa. Kasian.

Tak tahan saya untuk tidak tertawa cekikikan walau sangat pelan, dan kedua pasang mata yang tengah berdiri di depan itu pun menangkap gelagat saya. Seketika itu beliau mengambil secarik kertas yang baru beres ditulis dan siap dikirim. Si Perebut itu membacakan apa yang tertulis di kertas itu. Saya pastikan seluruh orang di kelas itu bisa mendengarnya. Si Bapak tersinggung, beliau mengira saya sudah paham banget dan sekonyong-konyong memutuskan bahwa kelas selesai dan minggu depan ulangan.

Darr! Seluruh anak ‘menyalahkan’ saya, tapi dengan nada becandaan dan beberapa tidak menyangka bahwa yang menulis kalimat ‘nyeleneh’ itu saya.

*

Waktu istirahat saya gunakan di kelas saja. Duduk manis di kursi sambil melihat siswa lain lalu lalang melintas di depan kelas XI IA 1. Ada seorang siswa berjaket hitam, berambut cepak, matanya agak sipit, berjalan dengan tatapan lurus. Rasanya baru kali itu saya lihat orang itu. Apakah dia anak baru?, tanyaku dalam hati.

“Fah, itu anak baru ya?”, tanyaku pada Sofaa teman sebangku saya.

“Hmm.. Gak dengar ada anak baru, sih. Tapi aku juga baru liat perasaan. Eng.. Tapi kayaknya pernah liat deh”, jawab Sofaa sambil menelisik dan mengingat siswa laki-laki yang baru saja melintas dan tengah mengobrol dengan beberapa siswa kelas IS.

Beberapa hari berlalu. Pertanyaan-pertanyaan kami tentang sosok laki-laki itu pun terjawab. Namanya Hervan, kelas XI IA 2. Bukan anak baru. Anaknya pendiam, jarang bergaul dengan teman sekelasnya, karena lebih sering berkumpul dengan anak-anak kelas IS, teman-temannya saat kelas X 5.

“Na, kamu kenal Hervan, ya?”, tanyaku pada Lisna, teman saat kelas X 4. Saya melihatnya kemarin mereka mengobrol.

“Iya, Tha. Si Hervan kan teman di Silat”

“Iiih, lucu banget ya, Na? Hehehe”, dengan malu-malu, atau mungkin memalukan saya terus terang.

“Kamu suka sama Hervan, Tha?”, Dini, teman Lisna, pun bertanya. Saya hanya mesam-mesem senyum cengengesan.

“Kamu mau nomor henponnya, gak?”, tanya Dini lagi.

“Dini punya?”, saya balik bertanya.

“Punya, dong.. Kalau mau aku kirim ke kamu, Tha”

Dini pun mengirim nomor Hervan ke nomor saya. Sampai nomor itu kehapus atau hilang bersamaan kartu SIM yang hilang, saya tidak pernah menghubungi Hervan. Karena sesaat setelah saya kembali dari obrolan bersama Dini dan Lisna, Lisna langsung SMS bilang kalau Hervan itu pacarnya Dini.

Darr! Lo bilang suka ke seorang cowo sama cewenya si cowo.

*

Banyak hal-hal bodoh yang pernah terjadi dalam hidup. Termasuk dua cerita di atas. Cerita konyol yang pernah saya alami. Saya sendiri tak pernah dengan sadar akan melakukan hal itu. Duh, kalau ingat, rasanya malu, kesel, kok bisa sih gue gitu?, tapi akhirnya tertawa Jiir.. Bisa juga ya gue sekonyol itu? Hahahaha..

Bukan hanya hal-hal memalukan yang diketahui orang, tapi hal memalukan yang mungkin hanya kita pribadi yang tahu. Malu sama diri sendiri. Malu sudah memupuk harapan, bermain dengan persepsi, dan menyalahkan orang lain. 

Berniat dan ingin hal itu lupa? Lupa tidak berarti hilang. Ia tetap saja ada. Menyusup dan mengendap dalam memori. Suatu saat bisa saja muncul ke permukaan sadar. Melalui mimpi atau split of the tongue. Dalam psikoanalisis ini berarti masuk ke alam bawah sadar. Yang berbahaya jika pengalaman tidak menyenangkan, seakan dihantui.

Dua pengalaman itu saat terjadi membuat saya malu, tapi jika diingat kembali, saya menemukan sisi konyol yang bisa membuat saya tertawa geli dan sekali lagi bilang, Jiir.. Bisa juga ya gue sekonyol itu, hahaha.. 

Pun dengan pengalaman lain yang berisi emosi tidak menyenangkan. Diputusin (kok bisa ya diputusin hanya gara-gara gitu doang? Bego banget gue, hahaha), di-PHP-in (duh, mauuuu aja percaya sama kata-katanya, ya? Siapa yang bego? Gueee! Hahaha), atau pengalaman lainnya bisa saja dilihat dari perspektif lain. Alih-alih dibanding menyalahkan diri sendiri, mungkin akan lebih baik melihat sisi konyolnya.

Pada akhirnya, bagaimana dan apapun pengalaman tidak menyenangkan itu, menertawakan diri bisa jadi terapi sehat untuk menerima diri sendiri, termasuk menerima apa yang terjadi pada diri. Memaafkan dan menerima.

Salam,

DC, yang tengah menertawakan banyak hal dalam hidupnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s