Social Media (Doesn’t Mean) Real Life

Tadi pagi, seperti biasa, saya berselancar, jalan-jalan di dunia maya. Termasuk menjejakkan di sebuah aplikasi kekinian tempat sharing foto, tempat mengabadikan momen, bercerita melalui gambar, ajang bagus-bagusan caption 😝 bahkan mungkin tempat riya dan pamer saya kesini, disini, atau dengan si ini *ini sih refleksi saya pribadi, isi akun saya gitu, siiih 😂. Yup, Instagram kengkawan!

Saya follow akun para hosiper sejagat Endonesia, yang lambe-lambe itu loh 😂 Disana saya menemukan postingan terbaru (ini muncul di news feed saya). Postingan tentang perselingkuhan, semua aktor bukanlah public figure yang sering nongol di TV.

Berita ini viral berawal dari si istri yang membongkar semua perselingkuhan suaminya di akun pribadinya, bahkan ia tidak lupa tagging para pelaku, padahal diketahui bahwa pernikahannya baru berlangsung bulan Oktober, si selingkuhan diperingatkan bulan November, dan benar-benar ketahuan selingkuh (melalui foto) bulan Desember. Yang membuat kisah ini semakin drama adalah si istri tengah hamil dan pernikahannya baru seumur jagung.

Banyak dukungan yang diberikan followers akun hosiper se-Endonesa. Wajar. Korban, wanita, dan tengah hamil. Rasanya para pelaku kejam sekali *memang kejam sih, terlepas dari apa motif keduanya. Actually who am I to judge, I even don’t know why the suspects did.

Soal cheating, di tulisan terakhir sudah saya bahas. Ketika saya melihat postingan itu di akun sejuta hosiper, saya langsung mikir, “wah, everybody could be famous” terlepas dari apapun background mereka sebelumnya. Belum lama juga viral kisah seorang wanita yang curhat di blog jg soal perselingkuhan suaminya dan banyak orang jadi tahu masalah rumah tangganya.

Tanpa mengurangi rasa empati saya pada ‘korban’, -saya juga gak tahu kalau ada di posisi mereka, apalagi si ‘korban’ ini, harusnya kan lagi honeymoon dan excited menyambut si jabang baby bersama suami, kan?- saya jadi membayangkan ketika siapa pun yang bercerita tentang aib di media sosial mungkin seperti tengah press conference yang disiarkan TV. Kita sudah sangat sadar bagaimana cepatnya informasi menyebar melalui media sosial. Kita sudah sangat sadar seberapa besar kekuatan media sosial, bukan?

“Mungkin memang sudah diperingatkan secara baik-baik dan langsung personal, Dith, tapi tak mempan, makanya seseorang menggunakan media sosial yang bisa dibaca dan disebar siapa pun untuk mengingatkan, siapa tahu orang mengenal para pelaku bisa mengingatkan pelakunya.”, batin saya.

Saya benar-benar mencoba membayangkan ada di posisi si ‘korban’.  Alasan pertama mengapa sampai ‘koar-koar’ di medsos mungkin yang saya utarakan di atas, tidak digubrisnya peringatan personal. Setelah itu? Mungkin terlalu sakit hati, ingin membalas, tapi (mungkin) tak kuasa (bisa karena tak bisa dan tak mau), sehingga yang diambil adalah ‘balas dendam’ secara sosial. Membuka apa yang telah dilakukan para pelaku di depan umum (dalam hal ini netizen). Perlakuan secara sosial ditimbang lebih bisa diterima sosial dibanding secara fisikal atau oral (koar-koar secara langsung).

Ketiga, mungkin memang tidak ada niatan dan bayangan si ‘korban’ bahwa kasus ini akan seviral itu. Ia hanya sedang meluapkan rasa marah, benci, kecewa, dan rasa sedihnya. Sudah jadi hal biasa di zaman sekarang ketika timeline media sosial dijadikan arena katarsis atau “dinding ratapan”, baik secara langsung frontal atau dibungkus dengan ‘proyeksi’ dan ‘rasionalisasi’.

Tanpa mengurangi rasa empati saya pada si ‘korban’, saya mencoba membayangkan bagaimana dampak postingan saya jika sampai pada orang-orang yang mengenal keluarga si pelaku. Memang sih, seringkali keluarga (pasti) terseret, terutama soal nama baik, terhadap apa yang dilakukan anggota keluarga. Misalnya ketika saya berlaku asusila, keluarga saya pasti dibawa-bawa, padahal misalnya keluarga saya adalah orang-orang beretika dan tidak mengetahui kelakuan saya di luar, ini mah sayanya saja, misalkan. Tapi kan, itu resiko kenapa gak bisa jaga sikap dan jaga nama baik keluarga?

Tanpa mengurangi rasa empati saya, sangat-sangat wajar jika marah, kecewa, sedih, benci, dan ingin meluapkan itu semua.  Nah, mungkin bisa dibayangkan juga bagaimana dampak jika luapan ekspresi emosi kita ini jadi viral? Puas? Lantas?

Tanpa mengurangi rasa empati saya pada si ‘korban’, semoga apa yang ‘korban’ ini alami menjadi pengingat kami para penonton (terlebih saya) dalam bersikap pada lawan jenis dan bersikap pada posisi dan status orang lain sehingga tak harus ada ‘korban’ lain dan mendorong orang itu untuk mengekspresikan emosinya dalam media sosial.

Terakhir, posting apa pun di media sosial itu seperti berbicara. Ketika berbicara di depan banyak orang, kata-kata yang keluar dari mulut, dalam waktu sepersekian detik saja sudah ditangkap di gendang telinga orang yang mendengar. Pun dengan media sosial. Postingan baru upload beberapa detik saja sudah bisa ditangkap oleh teknologi bernama screenshot, regram, atau share this post. 

Posting apa pun di media sosial seperti berbicara. Mungkin dulu kita sering bilang “my status on social media doesn’t mean status on my real life”, tapi sekarang, dengan maraknya media sosial yang dijadikan ‘buku diary’, mungkin kita perlu memikirkan kembali does social media mean real life? 

Ah, saya pun seringkali suka larut, menganggap media sosial sebagai dunia saya, saking banyaknya manusia-manusia di dunia nyata juga ada di dunia maya 😂 

Iya, saya (juga) seringkali ‘merasa pintar’ jika posisi saya sebagai penonton. Menanggapi ina-inu. Pintar sekali berkomentar dan mengatakan ‘harusnya begini, harusnya begitu’. Semoga Allaah mengampuni saya dan siapa pun yang pernah tersakiti sikap saya di media sosial (dan dunia nyata) memaafkan saya.

Salam,

DC.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s