Selingkuh Itu Nature?

Cheating, infidelity, selingkuh, atau bahasa jadulnya ngelaba, memang sudah ada dari zaman yang entah kapan. Benarkah selingkuh memang nature-nya manusia? Benarkah kita bisa cinta sekaligus dengan dua orang atau lebih? Bisa jadi iya, bisa jadi tidak.

Mungkin wajar banget jika dalam waktu yang bersamaan kita suka dengan dua atau lebih orang. Yang satu suka karena caranya memperlakukan kita, yang satu suka karena pribadinya. Atau keduanya suka karena alasan yang sama? Mungkin banget. Tapi entahlah, saya pribadi percaya bahwa perasaan manusia tidak (pernah) adil, hehe.. Pasti ada perasaan yang lebih, walaupun rasa, alasan, atau muatan emosinya sama.

Tulisan ini murni pendapat pribadi. Saya menulis ini di tengah ramainya kabar mengenai pernikahan putra mantan Ketua MPR dengan seorang wanita muda yang meninggalkan kekasihnya, serta pemberitaan heboh di infotainment mengenai perceraian seorang ustadz artis karena orang ketiga dan curhatan seorang wanita WNI di negeri seberang sana di blog pribadinya yang bercerita tentang suaminya yang berselingkuh. Dooh, kelihatan banget ya saya kerjaannya nonton infotainment atau baca berita begitu 🙈.

Well. Pertama kali saya baca berita tentang si Mbak cantik yang sekarang resmi jadi mantu si Bapak tokoh itu (disini: http://bit.ly/2n3bWF1), saya langsung berpikir: Iya banget ini realistis, tapi apa yang dilakukan si Mbak bisa jadi masuk ke zona ‘selingkuh’. Walaupun si Mbak bilang kalau dia belum cinta sama suaminya saat menikah. Ia hanya kagum. Kagum karena keshalihannya, kecerdasannya, bagaimana laki-laki itu memperlakukan keluarganya, dan bagaimana ia menawarkan ‘kejelasan’. Tapi kok, kagumnya banyak banget ya? Yakin ini hanya kagum? Hehe.. Ya minimal ‘selingkuh hati’, mungkin.

Saat ia jalan (kalau tidak salah sampai 3 kali) dan ditelepon laki-laki itu, apakah ia telah berselingkuh? Entah. Menurut saya, ini tergantung definisi pribadi mengenai perselingkuhan itu seperti apa. Tapi menurut saya, ‘selingkuh hati’ mungkin iya. That’s nature.

Kalau soal Pak Ustadz Artis, hmm.. Gimana ya? Dia mendua secara halal alias menikah lagi. Tanpa sepengetahuan istri, how? Secara agama, syarat sah dan rukun nikah tidak ada ‘harus ada izin istri’. Tapi kalau secara negara (kalau saya tidak salah), harus ada surat tertulis istri pertama. Apakah pernikahan kedua Sang Ustadz ini suatu bentuk perselingkuhan? Bisa jadi. Pakai hati, jelas dong. Perbuatan? Pasti, wong wis rabi kok. 

Kalau soal si Mbak WNI di negeri sana sih, si Mbaknya udah dengan jelasnya bilang kalau suaminya selingkuh. Kalau ingin tahu tentang kisahnya bisa baca disini http://bit.ly/2mCZDyO

Lantas, selingkuh itu apa? Teleponan? Chit-chat? Jalan berdua? Komitmen untuk berhubungan (lagi)? Having sex? Atau bahkan hanya suka saja saat sedang ada hati yang dijalani sudah masuk kategori selingkuh?

O, ya, sebelumnya saya mau mengungkapkan kalau alasan perselingkuhan menurut saya ada 3 faktor paling tidak. Faktor personal, faktor partnership, dan faktor situasional. 

“Once cheater, always cheater”, mungkin ini pas untuk alasan faktor personal. Faktor personal bisa jadi karena bawaan (faktor hormonal), nah sorry to said kalau faktor hormonal ini secara ilmiah lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding perempuan, karena hormon testosterone (hormon yang bertanggung jawab pada dorongan kuat seksual) lebih banyak ada di pria dibanding wanita. Beberapa penelitian juga membuktikan bahwa tipe keperibadian memengaruhi dorongan seseorang untuk melakukan perselingkuhan.

Faktor partnership menurut saya lebih pada keadaan pasangan. Kondisi pasangan yang tidak disukai atau kurang menurutnya. Misalnya, pasangan yang over protective, pasangan yang terlalu banyak menuntut, pasangan yang (menurutnya) tidak menghargai, pasangan yang kurang perhatian, atau mungkin pasangan yang pernah menyakiti (bisa jadi motif balas dendam). Tapi faktor ini juga bisa jadi karena alasan fisik seperti kurang seksi, kurang ganteng, atau kurang-kurang yang lainnya. Intinya, seseorang melakukan perselingkuhan karena berawal dari bagaimana pasangannya terhadapnya atau keadaan pasangan yang menurutnya kurang. Biasanya, jika ketahuan, para pelaku selalu ‘dianggap’ menyalahkan korban sebagai penyebab. Bisa jadi iya, tapi mungkin kesalahannya juga ada pada saat dia tidak mengungkapkan ketidaksukaannya dan melampiaskannya pada hubungan ‘ilegal’?

Faktor ketiga yaitu faktor situasional. Ada seseorang yang secara personal dia tidak ada yang ‘salah’, secara partnership, pasangannya juga sempurna, tapi karena situasi tertentu, ia masuk dalam kondisi infidelity. Misalnya seseorang yang bekerja di lingkungan yang banyak lawan jenis yang menarik, banyak berhubungan dengan orang lain secara personal dan atau intens, bisa sangat berpeluang terjadinya selingkuh.

Menurut saya, jauh sebelum muncul perilaku selingkuh (baik itu chatting atau bahkan sampai dating), bibit itu muncul saat kita berbohong pada perasaan kita. Kita tidak nyaman dengan hubungan yang sedang dijalani atau ada yang kurang dari hubungan (atau bisa jadi pasangan), tapi tidak disampaikan pada pasangan untuk sama-sama mengusahakan perbaikan. Manusia mana yang nyaman dengan perasaan tidak nyaman?

Naturalnya manusia pasti berusaha agar hidup nyaman. Naturalnya manusia pasti berusaha untuk mengurangi kekurangan.Oke, jika merunut pada ketiga faktor yang sudah saya sebutkan di atas, ketidaknyamanan ini bisa jadi masuk pada faktor partnership.

Seseorang yang tidak nyaman akan berusaha menghilangkan atau mengurangi ketidaknyamanan tersebut. Tidak nyaman karena kurang perhatian, lalu mencari perhatian di luar.

Fase berikutnya dari awal muncul perilaku selingkuh adalah saat kita merasa bahwa tidak ada yang salah dari hubungan. Maksudnya? Saat kita sudah mulai intens berkomunikasi dengan orang lain (calon selingkuhan), dan keintensan itu kita anggap bukan suatu yang salah, disitu saya pikir kita sedang membiarkan bibit perselingkuhan tumbuh subur *dooh, bahasa gueee

Sering dengar istilah Jawa tresno jalaran soko kulino? Hal biasa yang terus dibiarkan lama-lama menjadi kebiasaan, dan akhirnya jadi tak biasa. Kalau sudah terbiasa, banyak orang yang mengaku sulit menghilangkan kebiasaan, bukan?

Terus bagaimana jika kita sudah masuk ke dalamnya? Jujur, sadari, dan tegas. Jujur pada diri sendiri dan jujur pada pasangan. Jujur jika memang kita mengharapkan hubungan yang seperti A, B, atau skema hubungan apapun yang diidamkan. Komunikasikan. Sadari mana garisnya dan tegas dalam bersikap.

Kalau kita yang menjadi korban? Terapilah. Sakit, pastinya. Terapi tidak mesti harus mendatangi ahli (psikolog atau konselor), terapi bisa dilakukan dengan menulis, bercerita kepada seseorang yang dipercaya, atau melakukan hal lain. Jika tak sanggup menahan sendiri, jangan segan minta bantuan. Intinya, jika memang sudah tersakiti, jangan biarkan terus sakit bahkan menyakiti diri sendiri.

Oiya, karena definisi selingkuh itu menuruy saya subjektif, mungkin akan lebih baik jika kita (anda dan juga saya *kelak), mendiskusikan apa yang disebut selingkuh dengan pasangan. Batasannya seperti apa. Apakah chatting saja sudah masuk selingkuh? Atau selingkuh kalau sudah melakukan kontak fisik yang didasari dengan dorongan seksual.

So, walaupun rasa suka secara bersamaan bisa saja muncul dan itu natural (kalau natural begini bisa masuk kategori “id” menurut teori Psikoanalisanya Freud), sebagai makhluk sosial dan mengenal moral dan etika, kita tentu punya “super ego” untuk ‘membentengi’ gejolak id dan tentunya lagi siapkan “ego” untuk menguatkan diri dari dorongan instingtif.

Salam,

DC, yang dari dulu suka dicurhati masalah perselingkuhan (dan pernah diselingkuhi #ehh)

P.S. Sebagai penjelasan mengenai Psikoanalisanya Freud, dalam diri manusia, peribadian terdiri dari 3 sistem: id, ego, dan super ego. Id itu dorongan instingtif (seperti dorongan biologis, mempertahankan diri). Ego disebut juga reality testing dan pengambil keputusan. Sedangkan super ego itu norma-norma atau segala aturan yang kita dapatkan dari lingkungan.

Ilustrasi 3 sistem kepribadian (source: Google)
Ilustrasi lain tentang sistem kerja 3 sistem kepribadian (source: Google)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s