#6 Kejujuran Memang Pahit

Hari ini pertama kalinya aku diajak bertemu teman-temannya. Memang, ada beberapa temannya yang sudah kukenal, lebih banyaknya sudah pernah kudengar ceritanya. Awalnya aku menolak. Aku belum nyaman untuk mempublikasikan kedekatan kami. Tidak, aku tidak main sembunyi-sembunyi dari siapa pun. Eh, iya ding.. Kami (sedikit) menyembunyikan hubungan kami dari teman-teman seorganisasi kami. Tapi sebenarnya mereka sudah tahu, haha.. Aku pernah diingatkan oleh senior di asrama, diingatkan bahwa kita tidak boleh sering pergi berdua dengan yang bukan mahram. *speechless*

Dan aku termasuk orang berkepala batu yang (seolah) mengabaikan masukan dari senior dan teman-teman lain. Karena benar kata orang, paling sulit menasihati orang yang sedang jatuh cinta.

Baik, lupakan dulu hal itu ya. Aku sudah cukup kenyang dengan lirikan maut dari beberapa pasang mata yang menatapku sinis tiap kali aku menemuinya di kantin atau di parkiran saat ia mengantar atau menjemputku. Kadang kalau dia lagi bad mood, dia hanya sampai di gerbang, katanya, malas dengan lirikan mata-mata. Haha..

Tapi hal paling bikin membuatku malas karena harus bertemu Yudis. Hari ini Yudis ulang tahun. Ia mengundang teman-teman dekat ke rumah kontrakannya, termasuk Ryan. Katanya, semalam orang tuanya datang dan membawa banyak sekali makanan dan tentunya budget untuk pesta. Yudis adalah sahabat dekat Ryan, makanya aku kenal, kenal banget malah. Apalagi setelah Yudis naksir Amel, hmm makin sering aku mendengar ocehannya.

Ngomong-ngomong soal Yudis, awal perkenalan kami agak ngeselin, sori, cukup ngeselin. Selanjutnya makin ngeselin. Eh, perkenalan Yudis dengan Ryan pun sama, malah lebih nyebelin, hahaha. Tapi yang aneh, mereka malah makin dekat dan sangat dekat. Emang dasarnya Yudis itu nyebelin, sih, dan Ryan mungkin spesialis yang dekat dengan orang yang perkenalannya harus nyebelin juga. Sama dengan perkenalan denganku.

“Lo udah diceramahin apa aja sama Ryan, Ya?”

“Hah? Maksud lo?”

“Hahaha.. Dia kan Tengku, penegak syariah, haha..”

Aku hanya mendelik. Agak kaget sih, mulutnya itu, lho. Duh, padahal kan baru kenal.

“Eh, Ya. Lo jurusan psikologi, ya?”

“Iyaa.. Kenapa? Lo mau daftar dari sekarang jadi klien gue?”. Aku pikir cara ngadepin orang macem dia ya kudu ga dijaga juga mulut kita, haha.. Biar gak baper (bawa perasaan).

“Gue mau nyalon jadi presma (presiden mahasiswa), jadi lo jadi timses (tim sukses) gue di psikologi, ya?”

Aku kaget dengan idenya. “Hah?”

“Yoi, dan si Ryan mau gue push jadi Ketua BEM fakultas, hahaha.. Keren, kan?”

Idenya tambah gila rupanya. Eh, tapi gak ada salahnya kan ya bercita-cita jadi presma atau bahkan presiden RI? 

“Eh, lo pengen tahu gak gimana awal kenalan gue sama si Ryan?”

“Nggak, hahaha..”, jawabku sekenanya. Karena memang menurutku gak penting juga aku tahu gimana awal perkenalan mereka.

“Hahaha.. Walaupun lo gak mau  gue tetep bakal cerita, Ya”

“Terus ngapain lo nanya dulu kalau gitu?” Aku kesal.

“Dulu pas registrasi di fakultas, gue duduk di sebelah dia. Gue tanya, ‘Lo dari mana?’, dia jawab, ‘Aceh’. Lah terus gue tanya lagi dong karena doi jawab Aceh, ‘menurut lo Aceh berhak merdeka gak?’. Jujur, gue beneraan pengen tahu apa pendapat pemuda asli Aceh langsung. Live di depan mata gue”

Aku masih diam dan asyik dengan buku baruku. Aku dengerin ceramah panjang lebar Yudis. Tapi sambil baca, aku bukan gak sopan, tapi bukunya lagi asyik. Toh aku juga udah izin sama dia buat dengerin sambil baca. Katanya, ‘Santai aja kali, Ya’.

“Terus kan dia tanya gue dari mana. Ya gue jawab dong, gue dari Jakarta. Ya walaupun sebenarnya KTP gue KTP Bekasi, tapi kan sebelah rumah gue udah masuk Jakarta. Ya nasib orang pinggiran Jakarta. Haha..”

Aku sesekali noleh. Hanya ngasih isyarat kalau aku masih dengerin ceritanya.

“Eh, pas dia dengar gue dari Jakarta, mukanya berubah, cuy! Dia bilang kalau Aceh berhak merdeka karena semua kekayaan Aceh diangkut ke Jakarta, terus dia nyerocos, dan gue demen nih, jadilah kita diskusi”

“Maksud lo debat?”

Yudis tak menjawab. Ia malah tertawa seolah tahu kalau aku tahu maksudnya.

Sejak saat itu aku jadi paham.kalau Yudis hobi banget ngobrol. Apapun diceritainnya. Seperti air tak ditutup kerannya. Ember banget. Belum lagi mulutnya yang sering kayak ada cabenya. Pedes. Sama pedesnya sih kayak Ryan. 😓

“Ya, lo tahu gak kalau si Ryan pernah digosipin sama si Muti?”

Aku awalnya kaget pas denger nama Muti, tapi setelah diingat-ingat, aku akhirnya ingat kalau aku pernah dengar gosip itu. Aku pun mengangguk.

“Gue pikir mereka bakal jadian. Eh si Muti malah jadian sama mahasiswa impor dari Malaysia, si Kadafi. Padahal menurut gue, dia cocok sama si Ryan. Si Ryan ganteng, Aceh, katanya Aceh itu singkatan dari Arab China, Eropa, daaan.. H-nya apa, Ya? Lo tahu gak?”

Yudis nanya aku dan yang lebih parah dia ngomong gitu ke aku. Dia kayaknya gak amnesia, kan? Dia masih inget kan aku masih pacaran sama Ryan. Seingetku sih dia tahu. Tapi kalau gak gitu bukan Yudis namanya. Sabar, Ayaaa.. Teriakku dalam hati.

“Intinya sih si Muti kan cantik banget ya? Mata sama hidungnya Arab, kulitnya China, sikapnya lembut, duh perfecto lah, walaupun kalau ngomong medhok nya kentel banget”

Iya, aku akuin Muti itu cantiknya pake banget. Aku aja kalau laki naksir deh. Dan yang paling penting, dia itu baik banget. Aku kan sekamar sama dia.

“Terus pas awal kuliah itu si Ryan juga pernah lihatin foto cewek. Duh, namanya siapa, ya? Orang Aceh juga. Adek temennya. Masih SMA. Tapi, cantik banget. Putih. Katanya, kalau doi udah siap, doi mau lamar. Doi udah bilang sama kakaknya dan disetujui”

Duh, Yudis ini mulutnya bisa dilakban gak, ya? Kutukku dalam hati. Ya coba banyangin aja, ada cowok seember Yudis nyeritain cowok kita yang katanya cocok sama cewek A, B, C, yang katanya cantik banget. Apalah gue ini yang kayak remahan biji wijen jatuh dari kue ondeeeee?

Aku masih bergelut dengan kata-kata negatif penuh kutukan buat Yudis.

“Ya? Lo masih dengerin gue cerita, kan?” Tangannya nepuk pundakku. Mungkin aku sangat terlihat asyik dengan pikiran sendiri. Iya, pikiran mengutuki dia.

“Iya, gue masih disini kok. Lo mau ceritain cewek mana lagi, Dis?”

“Hahahahaha.. Lo cemburu, ya?”

“Ya lo kayak gak punya otak, ngomongin cewek-cewek yang disuka Ryan ke gue. Tapi gue gak cemburu, kok. Cuma kesel dikit, hehe.. Gue heran aja lo sebenernya cewe apa cowo sih, Dis?” 

Aku serasa udah ngomong kasar banget sama Yudis. Tapi responsnya malah ketawa dan mendengar omonganku bukannya Yudis menghentikan ceritanya, dia malah melanjutkan nyerocos cerita mantan si Ryan yang namanya Dissa dan Ratih, senior di fakultasnya. Ya wis, tak dengeri yo, Dis.

Dan setelah ketemu Yudis pasti bawaannya aku ngeluapin kekesalanku sama Ryan.

“Si Yudis itu ya, duh mulutnya gak bisa direm. Segala dia ceritain. Mending ceritanya enak, eh ini dia cerita kalau kamu cocoknya sama si A, si B, si C. Dia tahu aku, kan?”

“Dia emang kayak gitu. Gak usah masukin ke hati”, respons Ryan santai.

“Aku emang jauh banget ya dibandingkan cewek-cewek yang mau kamu deketin?”, tiba-tiba kata-kata itu keluar begitu saja.

“Iya. Kamu emang gak cantik kalau dibandingkan cewek-cewek yang mau kudeketin dulu”

Apa? Dia ngomong gitu? Dia sejujur itu? Gak ada gitu ya usaha dia bohong dikit dan bilang ‘Nggak kok, di mataku kamu cantik’. 

“Kalau kata orang cinta itu buta, kataku cinta itu punya matanya sendiri. So, jadi harus gimana lagi?”

Kejujuran memang sering kali pahit, ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s