Resepsi? Why Not.

Sambil menyeruput kopi arabica yang saya bawa dari Aceh, saya ingin menuangkan sedikit hasil kontemplasi saya #hazek bahasanyaa~ hahaha.. Bukan, bukan tentang lawatan Raja Salman bin Abdul Aziz, atau tentang cucunya yang (katanya) ganteng banget. Sudah banyak yang nulis tentang itu, mulai dari 10 hal tentang Raja Salman, berbagai analisia apa maksud dan tujuan kedatangan beliau, sampai mengait-ngaitkan ke hal pilkada dan berujung rasis. Ya Salaam.

Beberapa minggu lalu saya mendapati undangan pernikahan. Bukan, bukan dari mantan atau gebetan saya, haha.. Karena saya tidak pernah mendapatkannya dari mereka, entah apa alasan mereka, apakah kompakan atau bagaimana sehingga tak ada satu pun yang mengundang #oops.

Oke, never mind.  Kembali ke undangan tadi, undangan tersebut untuk Aci (kakek) saya berasal dari saudara jauhnya. Jadi yang menikah itu adalah cucu dari sepupu bapaknya Aci. Jauh bener, ya?

Singkat cerita, Aci sudah pulang dari kondangan. Terlihat raut bahagia. Ia cerita bahwa ia bertemu banyak sekali keluarga besarnya. Katanya, kalau tidak ada acara seperti pesta pernikahan, mungkin akan sulit sekali bertemu saudara. Katanya lagi, ayah dari mempelai ini sudah meninggal, padahal saudara Aci ini ayahnya, beruntung ibunya masih ingat Aci, entahlah kalau ibunya pun sudah meninggal, mungkin hari undangan itu tak akan pernah sampai di rumah.

Akhir-akhir ini saya sering kali menemukan pendapat bahwa lebih baik uang untuk resepsi digunakan untuk honeymoon atau modal saja. Alasannya, karena toh pas resepsi yang nyalamin kita kebanyakan gak dikenal. Iya, sah-sah saja, kok. Bener. Saya pun berpikir demikian. Mending buat DP KPR atau modal usaha. Tapi mari kita pikirkan di balik resepsi. Tak usahlah dulu kita memikirkan resepsi besar-besaran yang mewah, kita coba bayangkan resepsi yang sederhana (fokus di makanan yang banyak dan enak, hehe), tapi bisa mengumpulkan banyak saudara dan kerabat.

Iya sih, mungkin yang datang itu banyak yang gak kita kenal, karena memang kita gak punya kesempatan buat ketemu kalau di situasi biasa. Tapi siapa tahu mereka adalah saudara-saudara kita entah dari pihak ayah atau ibu yang setelah itu bisa jadi dekat, bisa bangun jaringan (lo kira MLM, Dith? Haha), jadi partner bisnis, atau ada yang bisa ngutangin hahaha..

Tapi kaaann paling cuma salaman doang beberapa detik di pelaminan. Ya kalau begitu, mungkin konsepnya diubah. Si manten turun nemuin tamu. Say hi dan sapa kanan-kiri. Bukankah Rasulullaah SAW menganjurkan demikian? *CMIIW

Gak bisaaa.. Udah dari sononya konsep resepsi ya manten di pelaminan dipajang. Ya wis, rapopo, kalau gak bisa melebur dengan tamu, ya gak pa-pa tho acara resepsinya jadi ajang silaturahim tamu lain. Siapa tahu dari mereka yang datang, ada yang sudah lama gak ketemu, terus akhirnya ketemu. Resepsinya jadi wasilah bertemunya dua (atau lebih) insan. InsyaaAllaah barakah ya Cyin.. Aamiin.

Foto pernikahan Gibran (putra Presiden Joko Widodo) & Selvi (source: Google)

Intinya, jangan dulu ditolak mentah-mentah kalau orang tua ingin resepsi. Kalau ada rezekinya, sepertinya tak apa jika pernikahan (-mu/-ku) jadi tempat reuni keluarga besar. Iyaa, apalagi saya yaa? Mungkin sudah pareumeun obor (istilah dalam bahasa Sunda yang berarti sudah tidak tahu keluarga, red.).
Jadi, kapan resepsi? Yuk, kita nyeruput kopi dulu lagi aja, keburu dingin.

Salam,

DC, yang sudah mikirin resepsi tapi lupa mikirin siapa yang mau diajak resepsi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s