#5 Waktu yang Dibutuhkan Dua Teguk Air untuk Mengubah “Lo” Menjadi “Kamu”

Duh, dia lagi. Semoga mulutnya kali ini sudah dilakban. Lidahnya sudah diikat, jadi gak perlu lagi ngomong seenaknya, batinku saat laki-laki itu duduk di sampingku.

Saat ini, laki-laki itu pun duduk di sampingku, tengah menikmati sepiring pisang ijo di Gerbang Lama. Dulu, aku malas saat semua kursi penuh dan aku kebagian duduk di sebelahnya. Saat ini malah aku yang mengajak dia makan pisang ijo dan dia duduk di sebelahku.

“Hari ini si Putri anniversary keempat, lho”, aku pun memulai percakapan di tengah nikmatnya es pisang ijo yang mendinginkan panasnya Jatinangor siang hari.

“Oya? Hmm.. Empat tahun. Great!“, timpalnya.

Beberapa saat aku mencerna lamat-lamat responsnya. 

“Mungkin.. Kita juga akan demikian”, rupanya ia melanjutkan kata-katanya. Sontak aku sedikit tersedak. Respons kedua ini di luar dugaanku. Maksudnya apa?

“Kamu kenapa? Bawa minum?”, tanyanya. Aku pun mengangguk dan mengambil botol minum dalam tas.

*

“Kamu sakit?”, tanyanya saat aku turun dari boncengan. Matanya lekat menatapku.

“Hah? Kenapa emang?”, jawabku gugup.

“Gak pa-pa. Cuma kok aneh aja hari ini. Abis kesedak kamu berubah jadi pendiam. Hmm..”, jelasnya.

“Hooo.. Ituuu.. Gak pa-pa, kok.. Hehe..”. 

“Ketawanya aneh”, timpalnya. Iya, terdengar dan terlihat jelas sepertinya kalau aku tertawa dibuat-buat. Susah memang berhadapan dengan orang dengan kemampuan sensoris yang kuat, benakku.

“Akuuu.. Mauuu..”, aku pun menghentikan kata-kata itu.

“Mau apa?”, cepat ia menimpali. “Bilang aja. Kalau mau candi ya aku mana mampu. Kalau sekedar pisang ijo, nasi padang, yuk.. Aku juga masih lapar, hahahaha”

Kulirik ia. Tarikan napasku cukup terdengar. Kusadari itu.

“Maaf. Ayo, kamu lanjutin, kamu mau apa?”, tanyanya melembut.

Kutarik napas pelan. Rasanya cukup berat. Tapi aku ingin sekali bilang.

“Maksudmu apa ya tadi bilang ‘Mungkin kita juga akan demikian’?”, tanyaku hati-hati.

“Oh, ituuu.. Hahaha.. Kupikir kenapa. Yaaa kan pendidikanku 3 sampai 4 tahun lagi, mungkin kita juga akan mengalami anniversary yang keempat, InsyaaAllaah.”

“Anniversary?” Tanyaku semakin bingung.

“Iya”, jawabnya singkat.

“Kapan kita jadiannya?”

“Jadi, selama ini kamu gak nganggap aku pacar kamu?”, ia pun terlihat bingung.

“Hahahaha.. Kupikir kamu masih pedekate”, kali ini aku merasa ini sangat lucu.

“Jadi kamu tipe orang yang pacaran kudu didahului sama jadian, nembak, bilang ‘I love you’ terus kudu dijawab ‘I love you too’. Gitu?”

Aku pun kikuk sendiri. Mau bilang ‘gak juga’ tapi toh sekarang lagi terjadi, aku mempertanyakan status kami, mau bilang ‘iya’, yo gengsi. Alhasil, aku pun hanya nyengir.

“Yaelah. Kayak abege banget sih. Lagian, kamu juga pasti paham banget kalau aku … Orang yang cukup berat bilang kata-kata itu”

“Kata-kata apa?”, gak tahan aku untuk segera menimpalinya.

“Aku tahu kamu pasti tahu ‘kata-kata’ apa”, ia pun menarik napas. “Ternyata kita beda pemahaman”

“Aku gak mau kegeeran, ya”, belaku.

“Jadi kamu mau gitu ya diajak makan berdua sama yang bukan pacar kamu?”, tanyanya sinis.

“Kan kupikir kita lagi pedekate”, jawabku memelan.

“Hahahaha.. Berarti kamu ngarep juga dong, ya?”

“Wew.. Jadi kapan kita anniversary?“, tanyaku mengalihkan.

“Berarti kita harus tahu tanggal jadian kita”, ia manggut-manggut dan dahinya mengerut.

“Kapaaaaannnn?”

“Pokoknya pas aku manggil kamu ‘kamu'”

“Iyaaaa.. Kapaaaannn?”

“Pokoknya sejak aku mengubah sebutan ‘lo’ jadi ‘kamu'”

“Iyaaaa.. Itu teh kapaaaannn?”

“Harusnya ada di Notes hape, sih”

“Iyaaaa????”, takjub aku dengan jawabannya. Notes hape?

Dirogohnya hape Nokia tipe N7 dri saku dalam jaketnya. Terlihat ia melihat dengan seksama layar hapenya. Aku melihatnya lekat-lekat. Menunggu jawaban pasti kapan tanggal itu. Biar bisa anniversary-an, harapku.

Ia menggeleng. Rupanya tanggal itu luput ia temukan. Rupanya tanggal itu luput ia catat dalam Notes hapenya.

“Gak ketemu. Kayaknya aku lupa nyatet itu di Notes. Adanya cuma tanggal pas kamu kasih aku minum saat aku batuk”

“Hah? Ngapain kamu cateeeet???”

“Karena dua teguk air minum itu yang akhirnya membuat aku simpati sama kamu”

“Simpati?”

“Iya, bukan XL. Hahaha”. Aku pun mendelik. “Ya masa langsung cinta? Kenapa aku catat? Karena saat itu penilaianku sama kamu berubah. Saat itu kan kamu lagi sebel-sebelnya sama aku. Tapi pas aku batuk, kamu refleks ngasih minummu. Bisa aja kan kamu biarin aku, tapi ya dasarnya kamu punya jiwa nolong, ya ditolong aja, kan? Gituuu”

Aku pun tersipu. Hehe.. Tapi sedikit ditahan. Karena apa? Yap, karena gengsi. Hahaha.

“Terus berapa lama waktu yang dibutuhkan dua teguk air itu untuk mengubah panggilang ‘lo’ jadi ‘kamu’?”

“Entah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s