#1 Maaf, Aku Sunda

Maaf ya. Gua beneran gak tahu lo orang Sunda. Sorry. Ga ada maksud meremehin. Gua terlalu cepat menilai dan menggeneralisir.

Maaf. Gampang memang diucapkan. Batinku sesaat setelah membaca pesan singkat yang masuk ke hand phone. Pesan dari seseorang yang dengan entengnya menilai dan menyimpulkan. 

Dua hari sebelumnya

“Gimana, Bandung? Udah betah?”, tanya Samsul kepada seorang mahasiswa baru asal Aceh.

“Asyik. Dingin”, jawabnya singkat.

“Udah ada cewek yang bisa diincar? Hahaha”

“Cewek Sunda maksudnya?”

“Yaiyalah. Di tanah Sunda ya nyarinya mojang Sunda”

“Gak ah. Perempuan Sunda cuma menang di cantik dan stylist aja. Agamanya gak bagus”

Mahasiswa baru itu seolah lupa kalau dia sedang berada dimana. Di lupa bahwa banyak sekali orang Sunda di sekelilingnya. Termasuk aku.

“Heh! Udah berapa lama kamu tinggal disini sampai sudah jago nilai???”, tanpa tedeng aling-aling aku menyemprotnya. Kebetulan dia duduk tepat di depanku.

“Eh, kamu orang Sunda? Kukira orang Jawa”, jawabnya tanpa menjawab pertanyaanku.

“Sorry. Gua pikir lo bukan orang Sunda dan gak ada orang Sunda disini”

“Lo konsisten dong, mau gua apa aku?!” Timpalku yang juga mulai melenceng.

Aku baru kali ini memang berinteraksi dengan mahasiswa baru itu. Aku sudah tahu dia, hanya tahu. Tapi untuk interaksi bahkan kenalan, tidak pernah. Baru kali itu. Aku kepalang panas duluan mendengar komentarnya yang baru satu bulan tinggal di Bandung. Sungguh kesan pertama yang buruk.

**

Entah dari mana ia tahu namaku, apalagi nomor teleponku. Mungkin database mahasiswa baru atau temanku yang lain. Ia mengirimkan SMS ucapan maaf. Kenapa dia harus minta maaf sama aku (saja)? Ada berapa banyak mahasiswa yang orang Sunda? Banyak. Harusnya dia minta maaf dimuat di Koran Pikiran Rakyat sekalian, biar dibaca seantero Jawa Barat.

***

“Serius, kamu kayak orang Aceh sebenernya”

“Eh, lo bilang gue ‘kamu’ sekarang?”, tanyaku heran.

“Kayaknya lebih enak pakai ‘aku-kamu’ deh. Tensinya gak panas, hehe..”

Aku hanya melihatnya dari sudut mata. Aneh. Biasanya obrolan kami selalu sinis. Hmm, mungkin lebih tepatnya obrolanku. Sejak dia bersikap rasis, lebih tepatnya lagi.

***

👦 : kamu orang Sunda ya, Dek?

👧 : iya, Bang. Saya orang Sunda. Kenapa, Bang? Mau bilang kalau orang Sunda itu blablabla, ya? Hehe..

👦 : wah, kok gitu, Dek?

👧 : adek Abang juga dulu gitu..

👦 : hehe.. Maklum, dia baru kali pertama ini keluar Aceh, Dek.

***

“Abangmu men-chat aku”

“Bilang apa dia?”

“Mau ngobrol aja, katanya”

“Dia pasti disuruh Mamak dan Ayahku”

“Kenapa? Karena kamu dekat dengan orang Sunda?”

Beberapa detik ia terdiam. Aku tahu jawabannya. Pasti “iya” dan ternyata memang “iya” ia menjawab. Pelan.

“Sebelum berangkat kesini, Ibuku berpesan. ‘Setelah kamu selesai kuliah, pulanglah. Jika sudah tertarik dengan gadis sana Mamak tak yakin kau akan mau pulang. Jaga diri dan hatimu. Inong sini tak kalah dengan disana’.”

“Maaf, aku 100% orang Sunda”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s