#2 Jangan Cintai Aku Apa Adanya

“Eh, kayaknya warna jilbab ini kurang masuk deh sama baju kamu yang ini”

“Eh?”

“Iyaa, kurang tua dikit warnanya”

“Sejak kapan kamu jadi fashion commentator?” 

Dia pun tergelak. Entah sebelah mana lucunya.

**

“Eh, kamu sakit, ya?”

“Nggak kok. Sehat. Kenapa emang?”

“Agak pucet. Mungkin kurang pewarna bibir”

“Hahahaha.. Aku gak bisa makenya. Terus gak pede lagi”

“Coba pake lip ice aja dulu”

**

“Kata temenku kamu cakepan”

“Wah.. Iya?”

“Katanya begitu”

“Katamu?”

“Karena aku sering ketemu kamu, jadinya aku gak notice ada perubahan. Hahaha.. Maaf, yaa”

“Jadi perempuan itu perhatian sedikit dong”

“Lah? Salah lagi?”

**

“Apa yang kamu mau dari aku?”

“Hah? Apa?”

“Kalau ada yang perlu aku pelajari, aku ubah, aku hilangkan, sampaikan ya..”

“Kamu kesambet apa? Lewat Jembatan Cincin, ya?”

“Kamu ini, sambut dikit kek aku mau berubah”

“Ooooo.. Hahahaha..”

“Kenapa kamu mau berubah?”, tanyaku mulai serius.

“Aku gak mau kamu menemuiku tiap hari dalam keadaan sama. Tak ada perubahan. Dan aku mau kamu pun demikian”

“Hmm.. Aku udah banyak berubah?”

“Lumayan. Udah matching banget. Udah pakai lip ice. Udah sedikit perhatian juga. Tapi masih banyak peernya. Hehe.. Pelan-pelan aja yaa..”

“Kenapa kamu gak mau apa adanya?”

“Kalau bisa lebih baik, kenapa seadanya? Tuntut aku sesuatu. Jangan kamu terima aku apa adanya”

“Hahhahaha.. Puitis kalilah bang kau cakap”

**

Beberapa tahun kemudian Tulus menulis lagu “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”. Mungkin dia menguping obrolan saat itu. Dia kan juga di Bandung, kan? Haha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s