#3 Waktu

6 menit lagi aku berangkat ya.

Kira-kira 11.47 aku mulai jalan kesana deh

Rigid banget urusan waktu, pikirku. Apa dia Autism? Sempat juga terlintas demikian. Biasanya, orang akan bilang “5 menit lagi”, “10 menit lagi”. Pembulatan. Ah, apa sebenarnya malas menghitung atau cenderung korupsi waktu, ya? Toh pada kenyataannya memang tidak sebulat itu waktunya.

Suatu hari pernah aku iseng bertanya. “Kamu kalau mandi diwaktuin juga?”, tanyaku.

“Iyalah.”

“Wow! Berapa lama?”

“10 menit”

“Hmm.. Kamu pernah telat?”

“Lupa aku kapan terakhir telat. Tapi pernah”

“Wow!”

Baru kali ini aku menemukan orang se-rigid ini urusan waktu. Sering kutemukan orang-orang yang disiplin, tapi kalau sampai detik menitnya sedetail itu? Hmm.

**

👦: Aku berangkat jam 19.16 ya. 7 menit lagi aku sampai.

👧: Oke

👦: Aku udah di bawah ya.

👧: Oke siap

“Ngapain aja? Kamarmu bukannya yang sebelah sana ya? Dari sejak kamu reply SMS bilang “Oke siap” sampai kamu ada tepat di depanku itu ngabisin waktu 4 menit 47 detik. Padahal bisa hanya memakan waktu 2 menit maksimal.”

“Hei, kamu men-set stopwatch ya?”

“Iya. Kenapa?”

“Gila, kamu!”

“Hei, explain to me why you tell me crazy?”

“Kumaha maneh, we!”

**

“Kamu pasti sudah tahu, aku belum punya apa-apa. Aku belum lulus kuliah. Aku belum punya kerjaan tetap. Pendidikanku masih lama. Jadi yang aku punya paling berharga itu waktu. Saat ini hanya waktu yang bisa aku kasih sama kamu”

“Lah, kemaren kamu traktir aku makan Padang?”

“Cuma kemaren doang kaliii”

“Berarti kan bukan cuma waktu, hehe..”

“Aku mau perhatianmu juga, dooong..”

Mentel kali kau!”

“Lagian, sok-sok-an kali kau bilang cuma waktu yang bisa kau kasih. Geli, tauk!”

“Lah, dulu kau bilang ‘gila’?”

“Lama-lama aku jadi gila bergaul terus sama kamu”

“Bukan tergila-gila?”

“Sejak kapan kamu jadi narcissistic?”

Kamu ga notice lagi kalau selama ini aku suka memuji diri sendiri.”

“Oiya, ya? Hahahaha.. Kamu haus pujian ya? Jadinya muji sendiri. Less affection, ya?”

“Keluarkan semua istilah psikologimu itu. Tiap hari kau analisis aku, ya?”

“Sensi amat, Bang. Lagi PMS, ya?”

**

👦: Aku besok mau ketemu temen di Bandung jam 11.

👧: Oiya..

*

👧: Eh, hari ini kamu mau ke Bandung, ya? Ternyata aku ketemu dosennya di Bandung.

👦: Jam berapa? Aku berangkat jam 9, janjinya jam 11.

👧: Tapi aku ada kuliah dulu sampai jam 11. Ketemu dosen abis makan siang. Jam 1 atau jam setengah 1.

👦: Ya sudah, pulangnya saja bareng, ya?

👧: Oke.

*

Pembahasan itu hanya satu jam saja. Perjalanan dari Jatinangor menuju Bandungnya saja sudah 1,5 jam. Kalau lancar. Siang ini harus memakan waktu 2 jam. Macet.

👧: Aku udah selesai. Kamu pulang jam berapa? Yuk pulang.

👦: Abis Ashar, ya.

Masjid raya Unpad DU (singkatan Dipati Ukur, dulu kampus utama Unpad) masih sangat ramai selepas Ashar. Banyak sekali mahasiswa yang shalat, istirahat, membahas kuliah, dan terlebih melakukan kajian keagamaan di teras masjid. Aku? Menunggu kabar dari dia.

Tak ada kabar sampai jam 16.30.

Ku-SMS kembali.

👧: Jadi pulang bareng gak? Mumpung bus Damri masih ada.

Bus Damri hanya beroperasi sampai jam 17.00 saja. Masih ada waktu 30 menit lagi. Kalau lewat, kita harus naik angkot ke Cicaheum kemudian naik bis Babon (Bandung-Cirebon) atau naik angkot dua kali untuk sampai ke Jatinangor dari Cicaheum. Lebih lama, lebih mahal.

Butuh waktu 14 menit untuk mendapat jawabannya.

Aku sudah mulai ketularan rigid sama waktu.

👦: Kita pulang bareng. Tunggu ya. Kalau enggak kamu ke arah BIP (Bandung Indah Plasa, nama mall pertama di Bandung *kayaknya*) paling telat abis Maghrib.

Menunggu. Tidak biasanya dia seperti ini, batinku. Kampus DU masih ramai sebenarnya. Tapi aku memilih berpindah ke BIP. Mungkin karena memilih suasana baru untuk menunggu, bisa jadi karena manut sama dia. Entah. Aku lupa kenapa.

18.25 WIB. Angka yang sama dengan tahunnya Perang Diponegoro. Dia tak kunjung datang. Termasuk SMS-nya.

👧: Masih lama?

5 menit kemudian

👦: 19.30 aku insyaa Allaah sampai.

👧: Iya, itu memang habis Maghrib. Tapi lebih tepatnya habis Isya.

👦: Sabar, ya 🙂

Dari habis Ashar, kemudian habis Maghrib, lalu habis Isya. Kalau pulang, mungkin aku sudah rebahan bahkan tidur di kosan.

“Sorry, ya. Aku telat”

“Entah namanya apa. Aku gak punya kosakata lain pengganti kata ‘telat banget'”, aku jengkel.

Perjalanan malam memang lebih cepat, 1 jam 15 menit kami sudah sampai Jatinangor. Mungkin karena pakai motor juga.

“Aku pulang ya. Terima kasih sudah nunggu. Istirahat ya. Assalaamu’alaykum”

“Wa’alaykumussalam”, hanya ucapan salamnya saja yang aku respons.

*

“Ya, Rian nginap di kosan Septa, ya?”

“Hah? Nginep?”

“Iya, tadi gue abis dari kosan Septa jam 7. Ada dia. Mukanya sih kayak baru bangun gitu. Bertiga kok. Ada si Aish juga disana.”

“Aish?”

*

“Sep, Rian nginap di tempatmu? Ngapain?”

“Eh, iyaaa Kaaakk.. Aku aja gak tahu loh dia nginap. Dia datang malam, katanya jam 9. Aku udah tiduuurrr”

“Ngapain dia?”

“Tau tuh. Mereka dari kemaren pada maen di Jatinangor”

“Mereka?”

“Rian sama Aish” Septa terdiam sejenak. “Aish katanya sampai Jatinangor jam 11.30, langsung dijemput Rian di Pangdam (Pangkalan Damri, red). Berhubung aku kuliah sampai jam 5, mereka main dulu deh di Nangor (sebutan untuk Jatinangor, lebih singkat). Dia baru anterin Aish pas aku udah di kosan, jam 5 lebih lah”

Waktu memang hal yang kamu punya paling berharga. Tapi kali ini waktu menjadi sahabat paling berhargaa mengungkap semua yang kamu sembunyikan.

Terima kasih, Waktu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s