Depresi dan Wanita

Sembari menunggu seorang teman di Stasiun Sudirman, saya menemukan berita adanya mutilasi yang dilakukan seorang ibu kepada anaknya yang masih berumur satu tahun. Ibu muda itu tak lain adalah istri dari seorang anggota polisi. Ibu itu diduga mengalami depresi. Menyedihkan. Bukan hanya sedih karena meninggalnya bayi yang lagi lucu-lucunya, tapi kondisi ibu yang depresi sampai bisa melukai dengan sengaja bahkan sampai menghilangkan nyawa anak kandungnya. Begitu berita online mengabarkan.

Source: google

Depresi. Apa sih depresi atau sering disebut depression disorder? Depresi (khususnya major depresi) adalah suatu kondisi serius terganggunya mood dalam kurun waktu tertentu yang menyebabkan secara negatif apa yang kita rasakan, cara berpikir, bahkan bagaimana bereaksi terhadap sesuatu. Depresi sebenarnya ada tingkatannya, mulai dari ringan, sedang, sampai berat. Kondisi dimana seseorang bisa berlaku di luar nalar, seperti ibu muda tadi, mungkin sudah masuk pada depresi yang berat. Apakah tiba-tiba? Tidak. Saya rasa tanda-tanda dan gejala sudah terlihat jauh hari, namun yang sering terjadi adalah abai.

Saya, seorang wanita single, mencoba membayangkan bagaimana kondisi seorang wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tidak mudah. Sama seperti yang saya lihat dari ibu, nenek, bibi, uwak, dan teman-teman saya yang sudah berumah tangga dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga.

Melakukan pekerjaan domestik, menyiapkan perlengkapan suami, dan mengurus anak. Hampir tanpa jeda. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Bahkan saat tidur pun harus terbangun, jika ia memiliki bayi. Stressful? Pasti. Kurang tidur dan istirahat, lelah fisik. Apalagi jika ditambah kurangnya attachment dari suami sebagai orang terdekat, lelah emosional. Peluang depresi? Jelas.

Seorang teman yang baru saja melahirkan cerita, “Aku stress, kaget, bingung mau ngapain. Badanku gak sebagus dulu, muka pucat, kusam, gak keurus. Capek, anak kadang rewel. Pekerjaan gak ada habisnya. Aku gak kebayang kalau gak ada suami yang bantuin. Yang bilang kalau akuaku tetep cantik,walaupun aku tahu sih, dia menghiburku, perhatian dengan kontak fisik seperti cium kening, sentuhan berupa usapan, pijatan, yang mengapresiasi apa pun sampai hal terkecil, yang meminta keluarganya untuk tidak menuntut apapun dari aku, entah itu standar atau membicarakan wanita lain. Itu hal yang membuatku bahagia di tengah segala macam yang membuatku lelah”.

Hubungan apapun, termasuk pernikahan kuncinya komunikasi. Mau melihat, mau mendengarkan, dan mau menyampaikan. Syukur kalau punya suami yang peka seperti suami dari teman saya. Kalau suaminya sibuk, gak peka, bagaimana? Sampaikan. Iya, sulit memang menyampaikan apa yang dirasa dan diinginkan buat sebagian orang.

Ini tulisan buat wanita? Bukan, bukan hanya wanita. Pria, suami, wajib paham. Ketika menikah, apalagi punya anak, jelas fokusnya bukan hanya pada diri sendiri. Menjadi seorang ayah bukan hanya urusan menafkahi dan mencari rezeki, bukan? Urusan mengganti popok juga bukan hanya urusannya ibu, bukan? Awalnya sendiri, kemudian berdua, bertiga, bahkan berempat, tentu kondisinya akan berbeda. Kondisi berbeda tentu menuntut respons berbeda, bukan? Itu yang perlu disadari.

Saya tak ada maksud menggurui, terlebih saya minim pengalaman. Tapi saya sadar, depresi bukanlah suatu kondisi yang akut dan tiba-tiba. Ada tanda dan gejala sebelumnya. Kaget, bingung, merasa sedih, merasa tak berharga, kurang semangat, gelisah, aktivitas biologis seperti makan, tidur, bahkan pencernaan terganggu, pikiran, respons perkataan cenderung negatif, menutup diri, lebih banyak diam, sering marah, dan banyak hal lain yang berubah ke arah negatif, bisa jadi pertanda depresi. 

Kita, sadari. Temukan tombol ON/OFF diri. Lelah, sampaikan. Perlu bantuan, bilang. Dan temukan coping stress* pribadi. Jangan abai. Depresi memang kondisi gangguan psikologis yanh sering terjadi, tapi juga kondisi yang highly treatable. Depresi memang lebih rentan terjadi pada wanita, tapi ini bukan hanya urusan wanita, bagaimana mencegah dan bagaimana menanganinya. Terlebih pada wanita yang menikah dan yang beraktivitas full di rumah, peluangnya bertambah lagi. Tapi ingat, depresi adalah kondisi yang paling besar peluangnya untuk di-treatment dan obat paling mujarab adalah couple therapy.

Selamat menikmati hari-hari berdua, bertiga, bahkan berempat. Nikmati dan sadari setiap perubahan.

Salam,

DC

#1week1writing

Catatan: coping stress adalah cara setiap individu menangani atau mengurangi atau menyalurkan stressnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s