Tamparan Itu …

Untuk ke- ah entahlah kedua atau ketiga kalinya saya memutarkan film Perahu Kertas. Kisah yang antara buku dan filmnya saya suka. Saya suka Kugy dengan imajinasinya, saya suka Keenan karena lukisannya, dan saya suka semuanya.

Beberapa kali menonton, itu artinya beberapa kali saya menamparkan wajah saya. Dulu, saat SD, saya senang menulis dongeng imajinatif. Yang saya ingat ada tentang Bunga Ajaib, Kaktus Bercerita, sampai Kuda Patah Semangat. Saya tulis di sebuah buku Big Boss bekas buku Om saya. Kemudian saya gambarkan ilustrasinya. Cerita dan gambarnya jauh dari nuansa real. Irasional.

Sekarang? Saya angkat tangan jika harus menggambar ilustrasi abstrak. Tokoh imajinatif seakan tak bersahabat. Tulisan saya pun dikatakan sebuah artikel ilmiah oleh teman saya.

Belum lagi soal ‘memilih dan dipilih’. Kata-kata Pak Wayan seakan berputar-putar di otak. Jadi selama ini saya?

Sudahlah..

Saya tertampar dengan jejak goresan cat minyak. Cat minyak yang sifatnya menutupi. Cat minyak yang membuat saya berpikir keras. Ah, pantas saja saya tidak menggunakannya, pernah, tapi hanya dua kali saja. Tahun 2004. Sekarang? Sudah masuk trisemester empat. Akhir dari 2016. Cat minyak perlu dirasakan. Dipikir keras hanya akan membuat saya hanya pernah dua kali saja. Pantas.

Salam,

DC

#1week1writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s