Depresi dan Wanita

Sembari menunggu seorang teman di Stasiun Sudirman, saya menemukan berita adanya mutilasi yang dilakukan seorang ibu kepada anaknya yang masih berumur satu tahun. Ibu muda itu tak lain adalah istri dari seorang anggota polisi. Ibu itu diduga mengalami depresi. Menyedihkan. Bukan hanya sedih karena meninggalnya bayi yang lagi lucu-lucunya, tapi kondisi ibu yang depresi sampai bisa melukai dengan sengaja bahkan sampai menghilangkan nyawa anak kandungnya. Begitu berita online mengabarkan.

Source: google

Depresi. Apa sih depresi atau sering disebut depression disorder? Depresi (khususnya major depresi) adalah suatu kondisi serius terganggunya mood dalam kurun waktu tertentu yang menyebabkan secara negatif apa yang kita rasakan, cara berpikir, bahkan bagaimana bereaksi terhadap sesuatu. Depresi sebenarnya ada tingkatannya, mulai dari ringan, sedang, sampai berat. Kondisi dimana seseorang bisa berlaku di luar nalar, seperti ibu muda tadi, mungkin sudah masuk pada depresi yang berat. Apakah tiba-tiba? Tidak. Saya rasa tanda-tanda dan gejala sudah terlihat jauh hari, namun yang sering terjadi adalah abai.

Continue reading “Depresi dan Wanita”

Advertisements

Tamparan Itu …

Untuk ke- ah entahlah kedua atau ketiga kalinya saya memutarkan film Perahu Kertas. Kisah yang antara buku dan filmnya saya suka. Saya suka Kugy dengan imajinasinya, saya suka Keenan karena lukisannya, dan saya suka semuanya.

Beberapa kali menonton, itu artinya beberapa kali saya menamparkan wajah saya. Dulu, saat SD, saya senang menulis dongeng imajinatif. Yang saya ingat ada tentang Bunga Ajaib, Kaktus Bercerita, sampai Kuda Patah Semangat. Saya tulis di sebuah buku Big Boss bekas buku Om saya. Kemudian saya gambarkan ilustrasinya. Cerita dan gambarnya jauh dari nuansa real. Irasional.

Sekarang? Saya angkat tangan jika harus menggambar ilustrasi abstrak. Tokoh imajinatif seakan tak bersahabat. Tulisan saya pun dikatakan sebuah artikel ilmiah oleh teman saya.

Belum lagi soal ‘memilih dan dipilih’. Kata-kata Pak Wayan seakan berputar-putar di otak. Jadi selama ini saya?

Sudahlah..

Saya tertampar dengan jejak goresan cat minyak. Cat minyak yang sifatnya menutupi. Cat minyak yang membuat saya berpikir keras. Ah, pantas saja saya tidak menggunakannya, pernah, tapi hanya dua kali saja. Tahun 2004. Sekarang? Sudah masuk trisemester empat. Akhir dari 2016. Cat minyak perlu dirasakan. Dipikir keras hanya akan membuat saya hanya pernah dua kali saja. Pantas.

Salam,

DC

#1week1writing